Pertengkaran Berakhir Damai, Atlet Yudo Syok Dilaporkan Penganiayaan

Selasa, 28 Januari 2020 : 21.39
Sidang pembacaan dakwaan dugaan penganiayaan dengan terdakwa Prana Yoga Yudara di PN Denpasar
Denpasar - Atlet Yudo Prana Yoga Yudara (19) tidak menyangka adu mulut pertengkaran dengan I Wayan Dirga Digraha (20) saat joging yang sudah berakhir damai justru belakangan dirinya dilaporkan melakukan penganiayaan.

Kejadian di Kertalangu Denpasar, saat keduanya joging itu, berbuntut pelaporan atas dugaan penganiayaan sehingga Yoga harus mendekam di penjara.

Padahal, dari pengakuan Yoga, walaupun sempat terjadi sentuhan fisik, dirinya hanya berusaha semata-mata membela diri dari pukulan lawannya. Namun, dia akhirnya digiring di kursi pesakitan di Pengadilan Negeri Denpasar.

Kuasa hukum Yoga, I Putu Pastika Adnyana menilai Jaksa Penuntut Umum kurang cermat dalam menerapkan pasal 351 KUHP Jo 352 KUHP terkait dengan penganiayaan.

Menurutnya, penerapan pasal tersebut adalah kurang tepat. Faktanya adalah, pertengkaran mulut berakhir dengan jepitan tangan sebagaimana teknik kuncian jurus bela diri olahraga Yudo yang digunakan kliennya yang atlet di PJSI Denpasar,

"Jadi, tidak ada bentuk penganiayaan pada saat kejadian, nyatanya sudah berakhir dengan perdamaian," kata Putu Pastika kepada wartawan usai sidang perdana di Pengadilan Negeri Denpasar, Selasa (28/1/2020).

Anehnya, tidak diduga, pada Senin 17 Juni 2019, Dirga melaporkan Yoga sebagai pelaku penganiayaan. Sementara, pada hari yang sama, Yoga juga melaporkan Dirga sebagai pelaku penganiayaan ke Polsek Denpasar Timur, namun laporan itu ditolak Polsek Denpasar Timur.

Karena para pihak saling melapor, masing-masing pihak membawa bukti visum. Hanya saja, saat hal menghadirkan kesaksian, saksi-saksi mengetahui (bukan fakta) dari pihak Prana Yoga Yudara tidak dipanggil oleh Penyidik.

Sedangkan, saksi-saksi mengetahui (bukan fakta) dari pihak Dirga justru dihadirkan oleh Penyidik dalam pemeriksaan.

Pastika juga mengungkapkan, dalam hal penerapan pasal, walaupun lapor melapor tersebut terkait dengan peristiwa hukum yang sama (waktu, tempat, lokasi, subyek hukum), tetapi Penyidik menerapkan pasal 351 dan 352 terkait dengan penganiayaan.

Pada hari setelah kejadian tersebut, Keduanya diketahui sudah saling berjabat tangan, saling memaafkan. Karena menyadari bahwa ini adalah kasus perkelahian, maka sekalipun anaknya terluka akibat pemukukan oleh Dirga, tetapi orang tua Yoga menyampaikan maaf kepada ibu Dirga.

Atas kasus ini, kuasa hukum Yoga berpandangan, penanganan perkara perkelahian antara Yoga dan Dirga oleh Polsek Denpasar Timur,menyisakan masalah yang menunjukan rasa ketidakadilan hukum.

Dia menyebut, Polsek Denpasar Timur menolak laporan keluarga Yoga sebagai korban pemukulan oleh Dirga dalam peristiwa pertengkaran tersebut, sebaliknya, Polsek Denpasar Timur justru menerima laporan Dirga.

Pihaknya berpandangan penerapan Pasal 351 oleh Jaksa Penuntut Umum terhadap Prana Yoga Yudara merupakan pilihan hukum JPU.

Tetapi JPU perlu juga memperhatikan fakta-fakta selama pemeriksaan berlangsung yang ditemukan di dalam bukti-bukti dan saksi-saksi terkumpul. Sesungguhnya, dari semua itu terpotret, adalah peristiwa perkelahian antara dua orang, sebagaimana diatur dalam Pasal 184 KUHP.

"Kami kami patut menduga-duga, sekaligus mengkaji berbagai kemungkinan dari skenario penerapan pasal dakwaan yang tidak sinkron dengan fakta-fakta," tukasnya didampingi Yudara, kuasa hukum lainnya.

Sidang dilanjutkan Senin, 3 Februari 2020 dengan agenda penyampaian eksepsi dari kuasa hukum Yoga. (rhm)
Bagikan Artikel

Rekomendasi