Musim Penghujan Diprediksi Beri Tekanan Inflasi di Bali

Jumat, 03 Januari 2020 : 16.13
Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho
Denpasar - Cuaca ekstrim saat musim hujan akan berdampak pada penurunan produksi dan pasokan bahan makanan dari luar Bali sehingga berpotensi menekan inflasi pada Januari 2020.

Dari data Bank Indonesia (BI) diketahui, tekanan harga Provinsi Bali pada bulan Desember 2019 meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan harga terutama terjadi pada kelompok makanan seperti nasi lauk, bawang merah, serta kelompok transportasi khususnya angkutan udara.

Tekanan harga disebabkan terjadinya kenaikan dari sisi permintaan seiring banyaknya hari besar keagamaan di bulan Desember serta terjadinya peningkatan jumlah wisatawan pada high season.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho mengungkapkan, inflasi Desember 2019 secara bulanan (mtm) akan lebih tinggi dibandingkan inflasi bulan sebelumnya.

Untuk keseluruhan 2019, memperhatikan inflasi pada bulan bulan sebelumnya maka inflasi Bali akan lebih baik dibandingkan inflasi tahun 2018. "Bank Indonesia memperkirakan bahwa inflasi bulanan (mtm) pada Januari 2020 akan tetap terkendali," ujar Trisno dalam siaran pers, Kamis 2 Januari 2020.

Dengan demikian maka inflasi tahunan pada bulan Januari 2020 akan tetap berada pada kisaran sasaran inflasi nasional yaitu 3,0±1%.

Kendati diprediksi inflasi terkendali namun terdapat potensi tekanan harga pada bulan Januari 2020 yang bersumber dari adanya perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) yaitu perayaan Tahun Baru Imlek yang juga menarik minat wisatawan berkunjung ke Bali.

"Selain itu, frekuensi hujan dan gelombang laut tinggi yang berpotensi menahan produksi dan pasokan bahan makanan dari luar Bali sehingga berpotensi menekan inflasi pada Januari 2020," bebernya.

Menghadapi potensi tantangan tersebut, Bank Indonesia Provinsi Bali akan tetap konsisten menjaga stabilitas harga di daerah.

Melalui koordinasi yang solid dengan Organisai Perangkat Desa, dalam wadah Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Bank Indonesia memastikan inflasi terjaga dalam kisaran sasaran.

Kegiatan pengendalian inflasi tetap diarahkan pada tercapainya 4K yaitu ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi ekspektasi.

Jika dilihat pada Desember 2019, Provinsi Bali mengalami inflasi sebesar 0,71% (mtm), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,03% (mtm).

Pencapaian inflasi Bali bulan Desember ini tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi Nasional yang tercatat sebesar 0,34% (mtm).

Secara tahunan, inflasi Bali tercatat sebesar 2,38% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan Nasional yang sebesar 2,72% (yoy). Dengan demikian, inflasi Bali pada Desember 2019 berada di bawah rentang sasaran inflasi nasional 3,5%±1% (yoy).

Inflasi terjadi pada kedua kota sampel IHK yaitu kota Denpasar yang tercatat sebesar 0,81% (mtm) dan kota Singaraja mencatat inflasi sebesar 0,27% (mtm).

Di Kota Denpasar, inflasi bersumber dari kenaikan harga pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 2,21% (mtm) dan kelompok bahan makanan 1,36% (mtm), sedangkan kelompok sandang mengalami deflasi.

Sementara, inflasi di Singaraja bersumber dari peningkatan harga pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,65% (mtm) dan kelompok bahan makanan yaitu sebesar 0,58% (mtm).

Bank Indonesia Provinsi Bali bersama Organisasi Perangkat Daerah yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Bali terus berusaha keras menjaga dan mengendalikan inflasi tahun 2020 dengan meningkatkan koordiasi dan kolaborasi serta mengambil langkah langkah antisipatif guna menjaga stabilitas dan ekspektasi harga. (rhm)

Rekomendasi