Musim Penghujan, Basarnas Bali Optimalkan Peran Empat Pos SAR

Jumat, 03 Januari 2020 : 10.39
Ilustrasi/dok.Basarnas Bali
Badung - Keberadaan empat Pos SAR yang tersebar di Bali terus dioptimalkan peran dan fungsinya dalam mengantisipasi bencana seperti saat musim penghujan ini.

Memasuki awal tahun 2020 sebagian besar wilayah Indonesia mulai memasuki musim penghujan, tak terkecuali di Bali. Kondisi alam yang setiap tahunnya pasti terjadi. Barang tentu Tim SAR telah melakukan berbagai persiapan.

Kepala Kantor Basarnas Bali mengungkapkan, tidak karena saat musim hujan tiba namun pihaknya selalu siap baik itu kekuatan personil ataupun kesediaan alat utama dan peralatan SAR.

Hanya saja di saat musim penghujan dilakukan pemeriksaan kembali fungsi peralataan-peralatan terkait seperti rubber boat beserta motor tempel dan jaket pelampung. Disamping itu koordinasi dengan unsur SAR yang ada intensitasnya ditingkatkan.

"Selain dari laporan langsung kami juga tergabung dan ikut memantau perkembangan informasi yang ada di group WA Bali Aman Tangguh, yang dimotori oleh BPBD Provinsi Bali," jelas Hadi dalam keterangannya, Jumat (3/1/2020).

Hari menegaskan posisi Basarnas dalam kebencanaan seperti halnya banjir, hanya pada saat evakuasi, sementara itu leading sektornya adalah BPBD. Kantor Basarnas Bali menempatkan personil di beberapa kabupaten seperti Pos SAR Jembrana, Pos SAR Buleleng dan Pos SAR Karangasem.

Selain musibah banjir juga memungkinkan terjadinya longsor di dataran-dataran tinggi. Masing-masing Pos SAR dikondisikan peralatan-peralatan SAR yang bisa langsung dipergunakan.

"Kesiapan kami menentukan respon time dari laporan yang masuk, setiap harinya ada 1 tim yang siaga selama 24 jam, 7 hari, dan juga 1 tim yang bertugas dalam siaga SAR Khusus," jelasnya.

Pihaknya mebngimbau masyarakat untuk mempersiapkan diri menghadapi musim penghujan. Misalnya tas siaga berisi keperluan harian yang penting untuk kebutuhan sekitar 2 hari, menempatkan dokumen-dokumen penting ke tempat yang aman, menyediakan alat penerang.

"Jika diperlukan masing-masing rumah menyediakan alat pelampung apabila kondisi mendesak," sambungnya. Masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor, lebih baik mengungsi sementara jika tingkat curah hujan ekstrim.

"Kadang kala banyak korban yang terjebak banjir karena enggan mengungsi ketika debit air bertambah tinggi, menurut saya utamakan keselamatan dari pada mempertahankan harta benda," tutupnya. (rhm)

Rekomendasi