Menteri Edhy Akui Sektor Budidaya Perikanan Belum Tergarap Serius

Rabu, 22 Januari 2020 : 23.30
Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo/humas kkp
Bogor - Sektor budidaya perikanan menjadi prioritas di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) lantaran selama ini belum tergarap secara maksimal.

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menegaskan, pengembangan sektor budidaya perikanan menjadi prioritas sesuai amanat Presiden Joko Widodo untuk dapat meningkatkan produktivitas budidaya perikanan di Indonesia.

Alasan menjadikan sektor budidaya perikaan sebagai fokus utama, karena baru 10 persen yang tergarap dari potensi yang ada. Dan dari 10 persen itu, menurut Menteri Edhy, pengelolaan dan hasilnya belum maksimal.

“Padahal bila digarap serius, ini bisa jadi lapangan kerja baru dan meningkatkan devisa,” ujar Menteri Edhy saat menutup Rapat Koordinasi KKP di Sentul, Bogor, Rabu (22/1/2020).

Berdasarkan peta potensi perikanan budidaya di KKP, seluruh pulau di Indonesia berpeluang menjadi tempat pembudidayaan. Baik untuk budidaya perikanan air tawar, air payau, dan juga laut.

Jajarannya diminta mengutamakan budidaya udang. Sejauh ini, ada sekitar 300 ribu hektare lahan budidaya udang di Indonesia. Dari jumlah tersebut, menghasilkan sekitar 800 ribu ton udang per tahun atau sekitar 2,6 ton per hektare.

“Kita targetkan saja menjadi 5 ton hasil panen per hektare-nya,” ujarnya.

Untuk mengembangkan sektor budidaya, tidak hanya akan memaksimalkan lahan yang dimiliki KKP, tapi juga bekerjasama dengan lintas instansi dan lembaga. Seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Pemda, serta Perhutani.

Sedangkan sisi permodalan, KKP menggandeng perbankan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Pihaknya pun siap melakukan pendampingan bagi masyarakat yang akan terjun ke sektor ini.

Salah satu kendala pembudidayaan ikan adalah mahalnya harga pakan. Ia bersama jajaran sedang menggodok pengembangan pakan alternatif berupa maggot (black soldier fly).

Harga maggot jauh lebih murah dibanding pakan konvensional. Nutrisinya pun tak kalah, dan dapat mengurangi sampah organik. “Maggot ini lebih hemat, karena per 0,8 kg-nya bisa untuk 1 kg ikan/udang. Sedangkan pakan biasa butuh 2 kg,” tutup Edhy. (rhm)
Bagikan Artikel

Rekomendasi