Kintamani Chinese Festival, Tampilkan Kesenian Akulturasi Budaya Bali dan Tiongkok

Kamis, 16 Januari 2020 : 17.31
Kadis Pariwisata Bali Putu Astawa/ist
Denpasar - Kintamani Chinese Festival 2020 siap digelar yang akan menampilkan kesenian akkulturasi budaya Bali dan Tiongkok.

Setelah menuai sukses saat pertama kali dilaksanakan, Balingkang Festival atau yang tahun ini dinamakan sebagai Kintamani Chinese Festival kembali digelar pada tanggal 8 Pebruari mendatang.

Parade akan dilaksanakan di kawasan Geopark tersebut, akan menampilkan berupa kesenian akulturasi bidaya antara Bali dan Tiongkok.

Demikian disampaikan oleh Kepala Dinas Pariwisata Putu Astawa kepada awak medi setelah memimpin rapat persiapan Kintamani Chinese Festival 2020 di ruang rapak Soka, Kantors Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Denpasar, Kamis (15/1/2020).

Astawa mengatakan tujuan utama dari penyelenggaraan festival ini tetap yaitu untuk membidik pasar Tiongkok yang potensial untuk datang ke Bali.

“Seperti kita ketahui, wisatawan Tiongkok yang datang sangat banyak, selain juga wisatawan Australia. Jadim pangsa pasar ini harus kita manfaatkan,” jelasnya.

Parade ini juga merupakan bentuk akulturasi budaya antara Tiongkok dan Bali yang sudah terjalin sejak jaman dahulu dan masih berlangsung turun temirin hingga sekarang.

Pihaknya menggandeng ASITA yang menangani wisatawan Tiongkok untuk mendatangkan sekitar 1.500 wisatawan menonton parade tersebut. Tidak menutup kemungkinan jumlah wisatawan yang datang bisa lebih banyak lagi. Sehingga gaung dari festival ini bisa lebih luas di dunia internasional.

Pertunjukan yang akan diselenggarakan adalah pertunjukan tradisional Bali dan Tiongkok.

“Jadi kami ingin masyarakat Bali bisa menyaksikan pertunjukan dari negeri tirai bambu itu, begitu juga sebaliknya, wisatawan bisa menyaksikan pertunjukan tradisional Bali. Sehingga saya harap di sini terjadi pertukaran budaya,” imbuhnya.

Festival kali ini, juga berbeda dari lainnya yaitu adanya parade anjing kintamani. Seperti diketahui trag anjing kintamani adalah spesies asli dari Kintamani yang perlu kita lestarikan dan perkenalkan kepada duni.

"Jadi saya harap melalui festival ini, keberadaan anjing Kintamani akan diketahui dan kelak bisa sejajar dengan jenis anjing kelas dunia,” bebernya.

Festival ini gratis dan terbuka untuk semua kalangan. Masyarakat Bali serta wisatawan domestik maupun mancanegara bisa menyaksikan festival tersebut.

“Ini juga tidak menutup kemungkinan wisatawan mancanegara di luar Tiongkok datang dan ikut menyaksikan. Karena kita ingin festival ini gaungnua bisa sampai ke seluruh dunia,” demikian Astawa, (rhm)

Rekomendasi