Kepala BNPB: Pentahelix Jawaban Pencegahan dan Penanganan Bencana Alam

Selasa, 14 Januari 2020 : 00.00
Kepala BNPB Doni Monardo/ist
Badung-  Kepala BNPB Doni Monardo mantan Danjen Kopassus kembali menekankan pentingnya penanganan kebencanaan menggunakan konsep sinergis Pentahelix.

Hal itu ditegaskan kembali di forum *“9th International Conference on Building Resilience (ICBR) – Investing In Disaster Risk Reduction and Climate Change Adaptation for Building Resilience Cities – International  Conference

Penyelenggaranya juga institusi yang sangat kredibel, yakni ITB dan Hudderfields University, Inggris. Acara itu sendiri berlangsung di Westin, Nusa Dua  tanggal 13 – 15 Januari 2020, dalam rangka 100 tahun ITB.

Konsep pentahelix di tangan Kepala BNPB Doni Monardo, menjadi lebih hidup dan paripurna. Pentahelix dimaknai sebagai kerangka kerja dalam berkegiatan dan berkarya agar lebih maksimal.
Ada lima pihak yang harus diperhatikan peran, kepentingan, maupun karakternya. Unsurnya terdiri atas pemerintah (administration), masyarakat (society), bisnis/investor (business), peneliti (knowledge), dan media.

Berbicara tentang pentahelix, Doni sudah mengaplikasikannya dalam kinerja sehari hari. Betapa pun, sinergitas yang menjadi ruh pentahelix tidak melulu untuk kepentingan bisnis, tetapi juga bisa diterapkan untuk menangani bencana.

Sejak dilantik sebagai Kepala BNPB 9 Januari 2019, Doni menanamkan kepada semua jajarannya di tingkat provinsi dan kabupaten, terkhusus para eselon satu dan dua kiranya mengaplikasikan jurus pentahelix.

"Pencegahan dan penanganan bencana alam, tidak bisa dilakukan oleh satu pihak. Dalam hal ini, pentahelix adalah sebuah jawaban," tegasnya.

Tinggal disesuaikan jurus pentahelix pra bencana, tanggap darurat dan pasca bencana. Sebab karakter masalahnya berbeda beda dan juga memperhatikan aspek lokal,“ papar Doni didampingi Tenaga Ahli BNPB Egy Massadiah, Plt Deputy Darurat Dody Ruswandi dan Kalaksa BPBD Bali Made Rentin .

Dua unsur lain yang menjadikan pentahelix paripurna sebagai senjata trisula”* BNPB melaksanakan tugas negara.
Dua unsur itu yakni, jiwa gotong royong dan semangat untuk berbuat baik. Jadilah trisula : sinergi (pentahelix), gotong royong, dan semangat berbuat baik.


Doni mengingatkan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945, yang kemudian dirumuskan menjadi Pancasila. Dalam pidato itu, Bung Karno menawarkan konsep ideologi negara, lima jumlahnya. Dari yang lima, bisa diperas menjadi tiga, bahkan bisa diperas lagi menjadi satu. Lima sila menjadi satu, disebut gotong royong.

Ruh gotong royong, tidak melulu kerjasama, dan tidak cukup dengan penjabaran sinergi. Di dalam spirit gotong royong, terdapat pengertian tulus-ikhlas, ringan sama dijinjing-berat sama dipikul, rela berkorban, tanpa pamrih.

“Karena itu, pentahelix dalam praktiknya adalah semangat jiwa gotong royong,” kata prajurit yang dikenal peduli lingkungan itu.

Doni menakankan kata gotong royong memiliki makna magis bagi bangsa Indonesia.  Sebagaimana pernah digelorakan  Bung Karno,

“Gotong-royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis kuntul baris buat kepentingan bersama. Dari semua untuk semua,” ujar Doni mengutip Bung Karno. (rhm)

Rekomendasi