Kepala BNPB: Mitigasi dengan Vegetasi Cegah Ancaman Bencana

Minggu, 12 Januari 2020 : 06.12
Kepala BNPB Doni Monardo saat menghadiri Rakernas I PDIP di Jakarta/ist
Jakarta - Dalam mencegah ancaman bencana alama maka penting dilakukan mitigasi dengan vegetasi seperti pepohonan cemara udang, tanaman vertiver dan laiannya.

Hal tersebut ditegaskan Kepala BNPB Doni Monardo menghadiri Rakernas I PDIP di Jakarta International Expo (Jiexpo), Sabtu 11 Januari 2020. Dalam sambutannya mengatakan, berdasarkan data BNPB tinggi korban bencana melebihi korban perang.

Oleh karena itu, kata Doni, mitigasi dengan vegetasi dapat lebih kuat dan mencegah ancaman bencana seperti pohon cemara udang, tanaman Vertiver, dan lainnya. Sebagai gambaran dengan hutan pantai dapat lebih melindungi masyarakat dari ancaman tsunami.

"Ke depan untuk generasi mendatang agar lebih siap menghadapi bencana maka dimulai saat ini dapat berbuat lebih banyak dalam penanggulangan bencana untuk keselamatan rakyat kita," katanya mengingatkan.

Sedangkan Kebakaran hutan yang terjadi pada tahun 2015 merupakan kebakaran terbesar yang penanggulangannya tidak mudah. Ini terjadi seperti di Australia.

Dalam penanggulangannya masih kewalahan dalam menangani kebakaran. Oleh karena itu penanggulangan bencana itu tidak mudah. Perlu adanya kesadaran bersama ikut menanggulangi bersama.

Selain itu,edukasi bencana sangat perlu dilakukan terutama yang mengelola kelapa sawit agar tidak membakar lahan dalam memperluas lahan.

Terjadinya Banjir longsor dan abrasi dapat di minimalisir dengan kesiapsiagaan. Sebagai contoh di Konawe Utara, bupati dan jajarannya koordinasi yang baik dengan BMKG, TNI, Polri dan BPBD senantiasa mengingatkan masyarakat.

"Sehingga ketika bencana terjadi tidak ada korban. Semua potensi bencana dapat kita cegah dan kita kurangi dampaknya," tandas Doni.

Ancaman bencana lainnya seperti limbah dan kegagalan teknologi. Mengakibatkan kualitas air menjadi buruk. Sehingga air tidak bisa dikonsumsi untuk di minum.

Oleh karena itu kerusakan lingkungan terjadi, sungai- sungai tercemari. Limbah medis juga sangat berbahaya bisa menyebabkan bakteri dan sungai tercemar logam berat.

Bencana dapat terjadi sewaktu-waktu belum ada teknologi yang dapat mencatat secara pasti tanggal dan jam kejadiannya. Terjadinya gempa dan tsunami di masa lalu hendaknya dapat menjadi referensi. Dalam catatan sejarah kejadian bencana banyak disimpan di Leiden University, Belanda.

Mitigasi bencana dengan vegetasi lebih efektif daripada hanya mengandalkan konstruksi manusia. Tidak ada kekuatan konstruksi buatan manusia yang kuat seperti terjadi bencana Tsunami dan gempa di Sendai, Jepang.

"Konstruksi tersebut rusak akibat gempa dan Tsunami. Ini membuktikan kekuatan alam tidak bisa dicegah dengan konstruksi buatan manusia," demikian Doni. (rhm)

Rekomendasi