Gus Yahya Buka Suara Soal Konflik Kelompok Berbeda Agama di Pertemuan Vatikan

Senin, 13 Januari 2020 : 10.56
Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf saat bertemu Paus Fransiskus di Vatikan, September tahun lalu/istimewa
Jakarta - Konflik antar-kelompok berbeda agama masih menjadi ancaman serius bagi perdamaian dunia sehingga para pemimpin agama diharapkan bisa secara jujur membahas hal tersebut pada pertemuan di Vatikan.

Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf dijadwalkan hadir sebagai pembicara dalam Pertemuan Tingkat Tinggi Agama-agama Ibrahim di Vatikan, Selasa-Jumat (14-17/1/2020).

Gus Yahya, sapaannya, satu dari enam tokoh wakil dunia Islam yang diundang untuk memberikan kontribusi pemikiran tentang gerakan bersama untuk perdamaian dunia.

Gus Yahya akan membawa wawasan-wawasan tentang Cita-cita Peradaban Mulia yang terkandung dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, beserta rencana-rencana strategis yang telah dibangun di lingkungan Nahdlatul Ulama, seperti “Deklarasi Nahdlatul Ulama ISOMIL, 2016".

Kemudian, Deklarasi Global Unity Forum I GP Ansor, 2016”; “Deklarasi GP Ansor Tentang Humanitarian Islam, 2017”; “Manifesto Nusantara GP Ansor, 2018”; dan Hasil-hasil Musyawarah Nasional Alim-Ulama Nahdlatul Ulama di Kota Banjar, Jawa Barat 2019.

"Dialog Antaragama tidak boleh lagi hanya berhenti dengan bertukar kata-kata manis dari kutipan-kutipan Kitab Suci dan pernyataan tokoh-tokoh suci," tegas dia dalam ketegarannya, Senin (13/1/2020).

Kata Gus Yahya, sudah terlalu lama umat manusia menunggu para tokoh agama bicara sejujur-jujurnya tentang masalah-masalah yang nyata-nyata sedang menimpa umat manusia-manusia dewasa ini.

"Termasuk permusuhan dan konflik yang bengis di antara kelompok-kelompok berbeda agama," tandas mantan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden ini.

Dia mengungkapkan, pada hakikatnya agama diturunkan sebagai anugerah Tuhan untuk menolong umat manusia dalam mencari jalan keluar dari masalah-masalah mereka.

Hanya saja, karena kelemahan dalam sifat dasar manusia, agama dalam perjalanan sejarahnya kemudian direduksi oleh para pemeluknya menjadi sekadar identitas kelompok dan dijadikan alasan untuk bersaing dan bertarung melawan kelompok yang dianggap berbeda identitasnya.

“Pada titik itulah, agama menjadi sumber konflik. Sebab itu, kita harus memerdekakan agama dari jerat posisi sebagai sumber masalah dan mengembalikannya kepada tujuan hakiki sebagai landasan untuk memecahkan masalah,” tandasnya lagi.

Kegiatannya di Vatikan, sebenarnya, undangan kedua ke Vatikan sejak saya bertemu Paus bulan September tahun lalu. Bulan Oktober tahun lalu saya juga diundang ke Vatikan untuk mengikuti konvensi tentang euthanasia, tapi saya berhalangan hadir karena terikat tugas di tanah air.

"Kali ini saya harus hadir karena agendanya luar biasa penting,” dalihnya.

Pertemuan kali ini diinisiasi oleh “Multi-Faith Neighbours Network” (Jaringan Tetangga Antaragama), yakni sebuah organisasi Amerika yang diawaki oleh Imam Mohamed Magid, yang merupakan Imam Eksekutif All Dulles Area Muslim Society (ADAMS) Center (Pusat Komunitas Muslim Wilayah Dulles) di Sterling, Virginia, AS.

Kemudian, ada Pastor Bob Roberts, pendiri Gereja Northwood di Keller, Texas, AS; dan Rabbi David Saperstein, Presiden World Union for Progressive Judaism (Perserikatan Yahudi Progresif Seluruh Dunia).

“Tokoh-tokoh dari tiga agama Ibrahim (Islam, Kristen, dan Yahudi) akan bertemu dan bermusyawarah mulai Selasa, 14 Januari 2020, sampai dengan Jumat, 17 Januari 2020, untuk membangun gerakan bersama bagi perdamaian,” tutur Duta Gerakan Pemuda Ansor untuk Dunia Islam ini.

Nantinya, masing-masing agama akan diwakili enam orang tokoh.

Dari kalangan Islam, selain KH Yahya Cholil Staquf, akan hadir Syaikh Abdul Karim Khasawneh, Grand Mufti Yordania; Syaikh Abdullah Bin Bayah dari Dewan Fatwa Uni Emirat Arab; Sayyed Yousif Al Khoei, Direktur Pusat Studi Akademik Syiah di Inggris; Imam Hassan Qazwini dari Institut Islam Amerika di Michigan; dan Dr Ingrid Mattson, profesor dari University of Western Ontario, Kanada.

Sementara, kaangan Kristen, lanjut Gus Yahya, diwakili antara lain Kardinal Miguel Angel Ayuso Guixot, Presiden Pontifical Council for Interreligious Dialogue (Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama) dan Prof Dr Thomas K. Johnson, Duta Besar World Evangelical Alliance untuk Vatikan dan untuk Humanitarian Islam.

Sedangkan Kalangan Yahudi diwakili Chief Rabbi David Rosen, Direktur Internasional untuk Masalah-masalah Agama dari American Jewish Committee beserta sejumlah Rabbi senior dari Amerika, Italia, dan lain-lain.

Pemerintah Amerika Serikat yang ikut mendukung inisiatif ini merasa perlu untuk meminta secara langsung kehadiran Gus Yahya.

Samuel D. Brownback, Duta Besar Keliling Amerika Serikat untuk Kebebasan Beragama, mengirim surat pribadi kepada Gus Yahya dan mengatakan, “It is my greatest hope that you will be able to join us to discuss our faiths as a means for peace. The work that we will do is only possible with your presence.”

(Adalah harapan terbesar saya bahwa Anda dapat bergabung dengan kami untuk mendiskusikan agama-agama kita sebagai landasan menuju perdamaian. Upaya yang akan kami lakukan hanya mungkin terwujud dengan kehadiran Anda). (rhm)
Bagikan Artikel

Rekomendasi