Berbisnis Vila, Bule Belanda Dilaporkan Langgar Keimigrasian

Kamis, 23 Januari 2020 : 21.30
Denpasar - Meski mengantongi Visa On Arrival atau visa kunjungan namun seorang warga negara Belanda nekat berbisnis vila di Bali hingga meraup uang miliaran rupiah.

Namun, bule diketahui bernama Vanessa De Vries harus berurusan dengan aparat Imigrasi karena diduga melanggar keimigrasian. Perempuan asal Negeri Kincir Angin itu dilaporkan rekan bisnisnya, Sugiharto Widjaja yang mengaku menjadi korban penipuan hingga mengalami kerugian material.

Atas pelaporan itu, Kantor Imigrasi Kelas I khusus Ngurah Rai memanggil bule itu pada 21 Januari 2020 atas laporan pelanggaran keimigrasian yang diajukan Sugiharto.

Surat panggilan bernomor : W20.IMI 1.UM.01.01-715 tanggal 20 Januari 2020 agar hadir di Bidang Intelejen dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai.

Pemanggilan dilakukan untuk didengar keterangannya sehubungan keberadaan, kegiatan dan izin tinggal keimigrasian yang dimiliki.

Dalam laporannya Sugiharto menyertakan bukti-bukti kegiatan bisnis yang dijalani bule tersebut diantaranya membuka sebuah bar Jalan Batu Belig sejak 2012 dan bisnis sewa menyewa villa di area Canggu.

Modusnya, menyewa rumah atau vila kepada penduduk setempat lalu memasarkan kembali vila tersebut dengan harga cukup mahal. Pemasaran yang dilakukan di beberapa situs online, seperti Facebook, Air BnB, dan Booking.com.

Namun dari penelurusan Sugiharto, rekan bisnisnya itu sudah menghapus banyak postingannya di situs online, sejak bermasalah dengannya.

Sugiharto merasa ditipu, karena awalnya rekan bisnisnya mengaku sebagai pemilik villa dan setelah pembayaran uang sewa lunas, ternyata kondisi villa dalam keadaan tidak baik dan kotor.

Namun setiap keluhan yang diajukan, tidak pernah mendapatkan tanggapan sampai akhirnya Sugiharto menyelidiki mengenai sepak terjangnya selama di Bali.

Ditambahkan Sugiharto, dia merasa ditipu karena baru menempati villa tersebut dua bulan, teryata pemilik asli vila yang sebenarnya, tak ada hubungan sewa menyewa lagi dengan perempuan berambut pirang itu.

Padahal, Sugiharto telah membayar uang sewa selama satu tahun. Dokumen bukti-bukti bisnis yang dilakukan pelaku untuk mendapatkan uang penghasilan di Bali, sekitar 60 lembar telah diserahkan Sugiharto ke petugas Imigrasi Ngurah Rai.

"Saya merasa ditipu karena setelah melakukan pembayaran ternyata kondisi vila tidak layak dan kami hanya bisa menempati selama 2 bulan saja", tandas Sugiharto.

Merasa tidak dihiraukan komplain yang diajukan penyewa dan merasa curiga dengan apa yang dilakukan rekan bisnisnya, untuk menyewakan vila, Sugiharto melaporkan ke Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Ngurah Rai.

Laporan dilengkapi dengan bukti-bukti kepemilikan foto-foto villa yang dikuasai pelaku itu, dijadikan acuan utama bagi Sugiharto untuk melaporkannya ke kantor Imigrasi Ngurah Rai, Jimbaran Kuta Selatan.

Bukti – bukti yang diserahkan, tentunya mempermudah pihak Imigrasi untuk melakukan tindakan atas pelaporan itu karena data-data tersebut akurat dan lengkap.

“Secara logika kan aneh, kok bisa seorang bule pakai VOA secara leluasa melakukan kegiatan bisnis pribadi di Bali yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun," imbuhnya.

Kata Sugiharto, salah seorang petugas Imigrasi mengungkapkan yang bersangkutan melakukan pelanggaran UU keimigrasian karena masuk ke Bali menggunakan VOA (Visa on Arrival), padahal sudah tinggal & berbisnis di Bali sekitar 10 tahun lalu.

Selain itu, juga berbisnis 14 villa lainnya dengan nama vila yang berganti-ganti, menghasilkan uang di atas Rp 1 Milyar per tahun.

Data tersebut diperoleh Sugiharto dengan investigasi temu muka dengan para penyewa. "Salah satu Villa yang disewakan mencapai 250 juta untuk masa sewa 5 bulan saja kepada bule lainnya," imbuhnya.

Belum diperoleh informasi lebih lanjjut dan konfirmasi dari pihak Vanessa terkait pelaporan Sugiharto. (rhm)
Bagikan Artikel

Rekomendasi