Bank Indonesia: Pariwisata Pendorong Bergairahnya Ekonomi Bali 2020

Kamis, 09 Januari 2020 : 06.29
Kepala Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho
Denpasar - Sektor pariwisata masih menjadi pendorong bergairahnya kinerja perekonomian di Bali pada tahun 2020. Kepala Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Bali Trisno Nugroho mengungkapkan, kinerja ekonomi Bali pada 2019, menghadapi tantangan yang cukup besar.

Selain melambatnya kinerja ekonomi Global, juga disebabkan oleh melambatnya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara.

"Kondisi ini berdampak pada tertahannya kinerja ekonomi Bali pada tahun 2019 yang diprakirakan hanya tumbuh sebesar 5,40%-5,80% (yoy), lebih rendah dibanding tahun 2018 yang tumbuh 6,35% (yoy)," tuturnya saat Simakrama Awal Tahun 2020 bertempat di Graha Tirta Gangga, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Lt.2, Renon, Denpasar, Rabu 8 Januari 2020.

Meski demikian, pihaknya optimis pada tahun 2020, kinerja ekonomi Bali akan menunjukkan peningkatan yang akan tumbuh dalam kisaran sebesar 5,70%-6,10% (yoy).

Sebagaimana terjadi pada perekonomian nasional, kinerja ekspor Bali juga terdampak oleh kondisi perekonomian global. Kendati begitu, perbaikan ekspor mulai terlihat padasemester II 2019, tercermin dari membaiknya kinerja ekspor barang dan jasa.

"Sementara investasi masih tertahan yang disebabkan oleh sikap wait and see pelaku usaha menanti kebijakan presiden terpilih," tuturnya dalam simakrama yang dihadiri Gubernur Bali I Wayan Koster dan Kepala OJK Regional 8 Bali Nusra Elyanus Pongsoda.

Rendahnya angka investasi juga disebabkan adanya base effect dimana pada tahun 2018, nilai investasi cukup tinggi akibat adanya IMF-WB AM 2018.

Sedangkan, kinerja ekonomi Bali tidak terlepas dari perkembangan kinerja pariwisata. Pada tahun 2019 kinerja pariwisata sedikit tertahan, tercermin oleh melambatnya perkembangan kunjungan wisman.

Jumlah wisman ke Bali sampai dengan Nopember 2019 telah mencapai 5,73 juta wisman, dari target akhir tahun sebanyak 6,5 juta wisman. Sementara itu capaian devisa Bali dari pariwisata hingga periode Nopember 2019 diprakirakan mencapai $5,10 miliar dari target akhir tahun sebesar $6,35 miliar.

Untuk tahun 2020, kinerja ekonomi Bali diprakirakan mengalami peningkatan terutama didorong oleh meningkatnya pertumbuhan semua jenis lapangan usaha utama.

Beberapa faktor pendorong peningkatan kinerja ekonomi bersumber sektor terkait pariwisata seiring dengan meningkatnya kapasitas pelabuhan Benoa yang mendorong peningkatan jumlah kapal cruise ke Bali (quality tourism).

Selain itu, sumber peningkatan kinerja juga berasal dari pengerjaan beberapa proyek konstruksi baik yang merpakan kelanjutan dari tahun 2019 maupun yang dimulai ditahun 2020.

Faktor lainnya, prakiraan membaiknya kinerja ekonomi negara mitra dagang utama, penambahan direct fight serta pengembangan pasar wisman alternatif yaitu antara lain wisatawan dari negara-negara Eropa Timur.

Inflasi Bali pada tahun 2019 menunjukkan capaian yang menggembirakan, tercermin oleh nilai inflasi yang rendah sebesar 2,38% (yoy), lebih rendah dibanding tahun 2018 yang sebesar 3,13% (yoy).

"Capaian ini merupakan buah dari hasil kerjasama antara TPID Provinsi Bali dan Kabupaten/Kota serta stakeholder terkait lainnya," katanya menegaskan.

Pada kesempatan itu, Trisno juga menyampaikan, inflasi Bali pada tahun 2020 masih menghadapi beberapa tantangan terkait dengan rencana kenaikan cukai rokok sebesar 23%, rencana kenaikan iuran BPJS kesehatan, peningkatan kunjungan wisatawan yang membawa konsekuensi peningkatan permintaan serta peningkatan biaya pendidikan. (alf)
Bagikan Artikel

Rekomendasi