Tomy Winata Tegaskan Investor Butuh Kepastian Hukum Jalankan Usaha di Indonesia

Selasa, 03 Desember 2019 : 18.22
Pengusaha Tommy Winata memberi kesaksian di Pengadilan Negeri Denpasar/ist
Denpasar - Pengusaha nasional Tomny Winata menegaskan investor membutuhkan adanya kepastian hukum dalam menjalankan kegiatan usaha di Indonesia.

"Artinya, bagi para investor butuh satu ukuran yang menjadi pegangan dalam melakukan kegiatan investasinya," ujar Tommy saat memberi kesaksian di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Selasa (3/12/2019).

Pria kelahiran Jakarta yang disapa TW itu hadir menjadi saksi dalam sidang dugaan pemberian keterangan palsu dalam akta otenik dengan terdakwa bos hotel Kuta Paradiso, Harijanto Karjadi.

Ketua Majelis Hakim Soebandi mengendakan sidang mendengarkan saksi korban, Tomy Winata dan saksi pelapor, Desrizal Chaniago yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Dalam kesaksiannya, TW menyampaikan, tujuan dirinya mengambil alih piutang CCB Indonesia terhadap PT. GWP milik terdakwa, bukan karena nilai ekonomi.

Langkah pengambilalihan itu karena rasa keadilannya yang terusik, atas permasalahan hukum yang timbul, sehubungan dengan hutang piutang antara Bank Sindikasi dengan PT. GWP, dimana eks direktur bank, yang memberi pinjaman menjadi tersangka oleh penegak hukum, karena dituduh menggelapkan sertifikat yang menjadi jaminan hutang PT. GWP.

Menurutnya, hal ini unik, karena pihak pemberi pinjaman dikriminalisasi oleh penerima pinjaman.

"Sebagai WNI dan juga sebagai pengusaha yang kebetulan pemilik lembaga perbankan, nurani saya terusik, karena bagaimana mungkin pihak yang berada pada posisi yang telah memberikan pinjaman uang untuk digunakan terdakwa, justru menjadi tersangka dengan tuduhan menggelapkan sertifikat," tuturnya.

Padahal sertifikat tersebut berada di bawah CCB Indonesia (Agen Jaminan) adalah sebagai jaminan hutang, tidak dimiliki karena pemilik sertifikatnya tetap terdakwa. "Sehingga menurut saya, ada proses hukum yang tidak tepat," tukasnya dalam sidang yang mendapat animo pengunjung dan masyarakat lainnya.

Hal ini, tentu saja tidak baik untuk dunia investasi Indonesia, khususnya CCB Indonesia yang pemiliknya adalah pihak investor asing. "Padahal pemerintah selama ini telah berusaha keras untuk menarik investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia," ungkapnya.

TW mengaku membeli cessie ini untuk menghindari kemungkinan permasalahan ini dapat menganggu kepercayaan investor, baik lokal maupun asing khususnya investor dari Tiongkok.

Hal yang melatarbelakangi dirinya untuk membeli piutang yang dimiliki oleh Bank CCB Indonesia bukan dikarenakan untuk mendapatkan keuntungan secara finansial, tetapi dengan tujuan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi Bank CCB Indonesia.

Menurutnya, investor membutuhkan adanya kepastian hukum dalam menjalankan usaha. Artinya, bagi para investor butuh satu ukuran yang menjadi pegangan dalam melakukan kegiatan investasinya.

Dengan tidak adanya kepastian hukum dalam kegiatan investasi, menyebabkan berbagai permasalahan yang mengakibatkan kurangnya minat investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Dia menegaskan, langkahnya mengambilalih supaya Bank CCB Indonesia tidak stres dalam memberikan pinjaman lagi. Selain itu, supaya permasalahan ini tidak menjadi isu permasalahan Bank CCB Internasional dan ekonomi Indonesia lebih baik ke depan.

"Apalagi, kami kenal terdakwa supaya bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Tetapi semua upaya sudah kami lakukan, tidak ada itikad baik dari terdakwa," ucapnya. Sejatinya, TW juga tidak ingin kasusnya berakhir seperti ini.

"Tetapi karena pengacara kami menemukan adanya unsur pidana, yaitu terdakwa mengalihkan barang yang menjadi jaminan kepada pihak lain tanpa sepengetahuan pemberi pinjaman, sehingga kami menempuh jalur hukum," jelasnya.

Ia mengaku sangat mengenal dengan terdakwa. Bahkan, ia pernah memberikan pinjaman uang kepada terdakwa. Ia pun membantah ingin menguasai hotel Kuta Paradiso milik terdakwa seperti isu yang berhembus saat ini.

"Isu agar saya ingin menguasai hotel Kuta Paradiso itu tidak benar. Saya tidak punya niat untuk menguasai hotel Kuta Paradiso," tegasnya. (rhm)

Rekomendasi