Santri Diingatkan Sosok Gus Dur yang Ramah dan Multi Kultur

Selasa, 24 Desember 2019 : 23.30
ilustrasi/youtube
Denpasar - Dalam mendalami Islam para santri diingatkan pesan almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bahwa Islam rahmatan lil alamain, hadir ke dunia dengan wajah ramah dan multi kultur.

Hal itu terungkap saat digelarnya pengajian digelar Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN-NU) Kota Denpasar di Pondok Pesantren Darunnajah Al Mas’udiyah, Kampung Jawa, Denpasar Senin (23/12/2019) malam.

Mengusung tema Peran Santri Nusantara dalam Nenagkal Paham Radikal dan Khilafah di Tanah Air dan menghadirkan penceramah Ketua MDS Rijalul Ansor Bali, Gus Ainun Ni’am.

Ketua Pantia, H. Nashiruddin Rahmat, menyampaikan bahwa tentang kebangsaan jika di analogikan Indonesia ini ibarat perahu yang berlayar menuju kesejateraan bersama yang di dalamnya berisikan berbagai macam adat istiadat budaya, etnis, suku dan berbagai macam agama.

“Santri agar tidak mudah terpengaruh kepada orang-orang yang ingin mengganti ideologi, ingin mengganti Pancasila dengan sistem khilafah, sistem yang tidak cocok diterapkan di Negara Indonesia yang kita cintai,” tegas Alumni Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Arrahmaniyah, Sampang, Madura, ini.

Generasi muda khsusunya santri paham tentang masa depan bangsa Indonesia yang menjemuk. Caranya, dengan tidak saling mengganggu satu sama lain. Meski mengakui, tema radikalisme dan khilafah terlalu berat bagi santri, namun ia tetap memaparkan pemahaman tentang bahaya khilafah.

Santri harus tahu bahwa gerakan khilafah itu merupakan gerakan dari luar yang ingin merebut kekuasaan di negeri ini. Kalangan santri mesti memahami gejala-gejalanya dengan belajar agama Islam yang benar.

Yaitu, yang rahmatan lil alamain. Dia kemudian memberi contoh mantan Presiden RI, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang sangat ramah dan multi kultur.

"Kalau Gusdur ke Bali, selain ke Masjid, ke kantor PWNU, atau ke rumah pengurus NU Bali, juga memilih ke Pura, rumah Raja pemecutan, ke rumah Ida Bawati.

Saat Gus Dur datang ke rumah tokoh-tokoh tersebut dia hanya menitip satu pesan. Jaga ummat Islam disini (Bali). Begitu cara Gus Dur menyatukan sesama anak bangsa," ungkapnya.

Kesenian hadrah dari puluhan santri Darunnajah dengan lagu-lagunya yang bernuansa nasional, namun dilagukan secara Islami turut menyemarakkan pengajian. (riz)
Bagikan Artikel

Rekomendasi