Rakornas Kemendikbud, Kebudayaan Menjadi Penentu Masa Depan Indonesia

Kamis, 19 Desember 2019 : 00.51
Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid
Badung - Gubernur Bali I Wayan Koster meyakini jika kebudayaan akan menjadi penentu masa depan Indonesia dalam menghadapi arus global revolusi industri 4.0. Koster menyatakan hal itu, usai membuka Rakornas Kebudayaan di Nusa Dua, Rabu, 18 Desember 2019.

Menurutnya, kebudayaan menjadi salah satu elemendasar dimiliki Indonesia. Hanya saja, dia melihat kekayaan kebudayaan Indonesia tidak dikelola secara serius. Padahal, kebudayaan menjadi kunci masa depan yang memiliki dampak luas, termasuk dampak ekonomi.

Dalam pandangan Koster, budaya harus dipandang dari beberapa dimensi. Budaya bisa menjadi nilai sumber kehidupan, membangun integritas moral yang berbasis nilai budaya.

Bahkan, dia meyakini masa depan Indonesia adalah budaya. Dijelaskan, sumber-sumber kebudayaan tidak pernah habis dielaborasi, bernilai tinggi, ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Disebutkan, budaya itu menjadi basis ekonomi biru. Masa depan Indonesia dalam jangka panjang, ditentukan ekonomi berbasis budaya. "Ini akan jadi fenomena kedepan,” kata mantan anggota DPR RI ini.

Koster meyakini, jika budaya dijadikan untuk membangun kehidupan masyarakat maka akan memberikan dampak yang positif. "Dengan budaya, masyarakat akan sangat rukun, beretika, sopan, santun, saya kira akan menjadi upaya mengerem pikiran atau perilaku yang tidak baik," tegasnya.

Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid mengungkapan, Rakornas di Bali, untuk menyelaraskan program karena bisa jadi, ada ide baru yang muncul. Beberapa arahan dan fokus khusus agar terjadi sinkronisasi di daerah apa yang dilakukan mendapat sambutan dan bergema.

Dalam kesempatan itu, Hilmar juga menyinggung soal keterlibatan kaum milenial dalam kebudayaan, bahwa tradisi ini, harus ada regenerasi, mengalihkan ke generasi selanjutnya.

Diakuinya hal itu bukan pekerjaan mudah, ada tantangan bagi yang bergerak di kebudayaan dengan fakta kaum milienal kurang memiliki ketertarikan terhadap seni tradisi, atau hal-hal yang sifatnya jauh dengan masa lampau.

Kedua penggunaan teknologi digital, di mana komunikasi digital sangat menonjol dalam membentuk kebudayaan di Indonesia. Dengan teknologi digital bisa menjangkau anak muda sehingga diharapkan hal ini bisa lebih hidup.

"Harapannya ketika berkomunikasi dengan teman-teman daerah bisa sinkronisasi program bisa berjalan, dari sini akan ada tindaklanjut bersama antara pusat dan daerah," sambungnya.

Rakornas Kebudayaan diinisiasi Ditjen Kebudayaan Kemendikbud yang bertujuan menyamakan visi dan misi dalam membangun Indonesia melalui kebudayaan.

"Tujuan yang ingin dicapai yakni, program nasional kebudayaan bisa masuk APBD dan pemanfaatan dana desa untuk pemajuan kebudayaan," jelas Humas Dirjen Kebudayaan Darmawati.

Rakornas digelar empat hari guna melakukan sinkronisasi dari program yang telah disusun dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Perwakilan 34 Provinsi di Indonesia hadir dalam acara itu.

Ratusan peserta hadir baik dari pejabat Gubernur hingga Bupati dan Wali Kota dari seluruh Indonesia. (rhm)

Rekomendasi