KKP Dorong Terobosan Sektor Perikanan Lewat Inovasi Teknologi Digital

Rabu, 04 Desember 2019 : 14.11
Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong para pelaku usaha perikanan untuk melakukan terobosan-terobosan melalui inovasi teknologi digital.

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menyampaikan itu saat membuka perhelatan Digifish 2019 bertajuk “Incubating Ecosystem of Digital Innovation” yang terselenggara atas kerja sama KKP, Minapoli, dan Himpunan Alumni Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB di Kantor KKP, Jakarta, Selasa (3/12/2019).

Menteri Edhy mengatakan, perkembangan teknologi dan digitalisasi merupakan terobosan global yang tak bisa dihindari. Perkembangan industri 4.0 mendorong dunia usaha, termasuk perikanan, untuk membuat inovasi-inovasi ke arah pemanfaatan teknologi dan ekonomi digital.

Inovasi tersebut, bisa berupa perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software). Dalam bidang hardware, Menteri Edhy mencontohkan inovasi berupa kincir dari paralon yang telah berhasil dikembangkan oleh siswa Politeknik Kelautan dan Perikanan di Sidoarjo.

“Kemarin saya jalan dan lihat langsung bagaimana anak-anak kita sudah bisa membuat paralon menjadi kincir untuk memutar air di pertambakan udang. Nah, bagaimana kita memperbanyak inovasi-inovasi seperti ini? Ini salah satu tantangan kami di KKP,” ucapnya.

Pihaknya mendorong pelaku usaha perikanan untuk memanfaatkan peluang ini dengan membuat inovasi-inovasi baru guna mengoptimalkan industri perikanan melalui konferensi, startup showcase, sesi networking, dan pameran inovasi dalam Digifish 2019.

“Digifish adalah sebuah terobosan. Saya sangat berharap ini akan menjadi jawaban buat kita untuk melakukan terobosan-terobosan baru sehingga memperkaya kami pemangku kebijakan dalam berinovasi,” ucapnya.

Menampik anggapan bahwa digitalisasi akan mematikan lapangan pekerjaan, Edhy menegaskan bahwa digitalisasi di sektor perikanan akan tetap menyerap luas sumber daya manusia. Sebab, masih banyak luas lahan perikanan yang belum dimanfaatkan secara optimal saat ini.

“Luas lahan kita jauh lebih dari cukup untuk menyerap semua orang yang akan berkontribusi di sini. Luas panjang pantai kita itu baru 10 persennya yang sudah termanfaatkan.

Itu pun belum optimal. Kalau kita fokus di 10 persen ini saja, penyerapan lapangan pekerjaannya akan lebih tinggi. Kalau masih kurang juga, masih ada 90 persen lahan yang bisa dimanfaatkan,” tuturnya.

Sementara itu dari segi pasar, para pelaku usaha tak perlu khawatir bahwa produksinya akan berlebih (oversupply). Kebutuhan pasar dalam negeri maupun ekspor masih terbuka lebar. Selain itu, ikan juga mudah untuk disimpan dibandingkan produk agro lainnya seperti beras.

Menurutnya, ikan cukup disimpan menggunakan cold storage dan memiliki tingkat ketahanan yang cukup panjang. Hal ini juga akan berdampak positif secara nasional sebagai cadangan pangan.

“Kebayang tidak kalau suatu saat kita punya cadangan ikan sampai 10 juta ton? Bagaimana negara lain akan memandang kita? Kita juga tidak akan pernah takut kehilangan protein,” imbuhnya.

Untuk mendukungnya, dia menekankan bahwa pemerintah akan hadir dan menyiapkan berbagai macam kebutuhan yang diperlukan oleh para pelaku usaha, termasuk dari sisi riset sampai operasional dan pemasaran.

KKP hanya bisa berharap bahwa kita semua ini merupakan terobosan yang bisa menemukan solusi-solusi yang dibutuhkan.

"Kami siap untuk membangun industri perikanan, baik itu budidaya maupun tangkap dalam kerangka keberlanjutan. Kita siap menjadi mitra, pembina, pelayan, dan pengasuh dalam setiap kesempatan yang ada,” ucapnya di hadapan ratusan peserta yang hadir. (ars)

Rekomendasi