KKP Dorong BRI Salurkan KUR Bagi Pembudidaya dan Pengolah Hasil Perikanan

Selasa, 03 Desember 2019 : 22.20
Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mendorong BRI untuk menyalurkan KUR bagi pembudidaya, nelayan dan pengolah hasil perikanan.

Edhy menyampaikan itu saat menerima audiensi Wakil Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI) Catur Budi Harto beserta jajarannya di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta, Senin (2/12/2019).

Wakil Dirut BRI Catur dan Menteri Edhy saling bertukar informasi terkait penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk nelayan, pembudidaya, dan pengolah hasil perikanan.

Menteri Edhy menyebut, banyak hal yang harus didorong dalam sektor kelautan dan perikanan saat ini. Meskipun begitu, ia menyampaikan bahwa sektor budidaya akan menjadi fokus KKP dalam 5 (lima) tahun ke depan.

“Kami akan fokus di budidaya karena lapangan pekerjaan banyak terserap di sini. Banyak peluang yang dapat dikembangkan,” ujarnya sembari mencontohkan, bidang pembesaran udang.

“Contohnya kemarin kita lihat di Barru, Sulawesi Selatan itu tambak intensif bisa menghasilkan 150 ton dari 1 hektar wilayah saja. Padahal, rata-rata hasil produksi internasional itu 120-130 ton/hektar,” jelasnya.

Menteri Edhy menjelaskan bahwa rata-rata tambak rakyat baru dapat menghasilkan 1 ton hasil produksi dalam luas wilayah yang sama.

Untuk itu, ia mendorong BRI untuk mendukung intensifikasi tambak rakyat agar dapat memproduksi hasil dengan volume yang lebih besar. Dengan begitu, kesejahteraan pembudidaya pun akan meningkat.

Di sisi lain, negara juga dapat memaksmilkan pemasukan devisanya.

Tambak yang diperuntukkan untuk udang kita itu baru sekitar 300 ribu hektar dan tidak semuanya intensif. Presiden mengarahkan supaya dari udang saja kita bisa naikan ekspor hingga 250% pada tahun 2024.

"Di samping udang, berbagai komoditas lain di subsektor budidaya juga sangat menjanjikan. Inilah yang kita harap BRI bisa dukung,” tuturnya.

Menteri Edhy menjamin bahwa pasar produk kelautan dan perikanan memiliki potensi yang besar. Bahkan, Tiongkok telah menawarkan negaranya untuk menjadi pasar tujuan ekspor ikan Indonesia.

Selain itu, ia mengatakan bahwa pembudidaya udang skala kecil sudah terjamin melalui asuransi dari Jasindo. Begitu pula dengan pembudidaya udang skala besar yang sudah disediakan dengan asuransi komersial untuk menjaga kelangsungan produksinya.

Terkait regulasi, Menteri Edhy menekankan bahwa Pemerintah terus berupaya untuk menyederhanakan regulasi guna mendorong pertumbuhan sektor ekonomi.

“Masalah izin, sesuai dengan arahan Presiden untuk menyederhanakannya, kami sedang terus berupaya mengarah ke sana. Kalau bisa 1 (satu) hari izin itu selesai,” ucapnya.

Dalam bidang perikanan tangkap, Menteri Edhy menawarkan agar BRI dapat menyalurkan kredit mikro pada kelompok nelayan yang membutuhkan. Tak hanya kredit, ia juga berharap agar BRI dapat mendorong penyediaan cold storage yang selama ini masih kurang ketersedianya karena keterbatasan modal.

Edhy mendorong agar BRI juga dapat menyalurkan KUR untuk keluarga nelayan misalnya dengan membangun warung makan. Dengan begitu, keluarga nelayan dapat mendapatkan nilai tambah dam penghasilan tambahan dari hasil tangkapan ikan yang dipanennya.

Dalam bidang ruang laut, Menteri Edhy menyebut bahwa KKP fokus untuk membangun kawasan wisata ke depannya. Salah satunya dengan membangun kampung nelayan di daerah-daerah yang selama ini belum terjangkau.

“Kampung nelayan identik dengan kondisi yang kumuh. Kita mau ubah ini. Kita ingin buat kampung nelayan ini jadi berdaya guna dan mengasilkan nilai tambah untuk mereka,” tuturnya. (riz)

Rekomendasi