Gus Muwafiq Ceramah Agama di Terminal Pesiapan Tabanan

Jumat, 06 Desember 2019 : 05.59
Gus Muwafiq saat memberikan tausiah dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Musholla Nurul Fallah, Tabanan, Bali
Tabanan - Kyai Haji Ahmad Muwafiq atau yang lebih populer dipanggil dengan nama Gus Muwafiq melakukan kunjungan ceramah agama (tausiah) di Terminal Pesiapan, Tabanan, Bali, Kamis (5/12/2019) malam.

Kunjungan Gus Muwafiq tersebut, dalam rangka menghadiri undangan Yayasan Nurul Fallah Tabanan mengisi pengajian Peringatan Maulid Nabi yang dirangkai dengan penggalian dana pembangunan Wantilan Musholla Nurul Fallah yang berada di lingkungan Terminal Pesiapan, Tabanan yang selama ini dikenal sebagai daerah remang-remang.

Di hadapan ribuan jamaah yang hadir, Gus Muwafiq dalam tausiahnya yang mengusung tema "Menjaga kearifan lokal serta merajut kebersamaan dalam keberagaman menuju Bali yang harmoni" tersebut, Gus Muwafiq mengajak jamaah dan umat Islam di Tabanan untuk saling menghormati dan menjaga toleransi agar selalu harmonis.

Disebutkan, Nabi Muhammad merupakan Nabi dan Rosul terakhir yang memiliki pertanggungan berat karena melanjutkan peradaban 25 Nabi yang ada sebelumnya.

"Nabi Muhammad memiliki pertanggungjawaban yang berat karena menanggung dan meneruskan peradaban yang ada sejak Nabi Adam," katanya.

Menurut Gus Muwafiq, pada peradaban - peradaban nabi sebelumnya dunia belum penuh. Namun pada zaman Nabi Muhammad dunia sudah relatif penuh dan peninggalan peradaban nabi-nabi sebelumnya masih ada.

"Nabi-nabi sebelumnya ajarannya hanya untuk satu kaum, suku atau bangsa. Namun pada saat Nabi Muhammad ajarannya atau ajakannya sudah bukan untuk satu kaum atau wilayah saja, namun sudah berbangsa-bangsa, bersuku-suku, sudah menjangkau seluruh dunia yang disebut rahmat seru sekalian alam," paparnya.

Pada kesempatan tersebut Ahmad Muwafiq salah satu ulama Nahdlatul Ulama' yang kini tinggal di Sleman, Yogyakarta dan pernah menjabat sebagai asisten pribadi KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini juga menceriterakan tentang sejarah perjalanan bangsa Indonesia sejak ratusan tahun lalu.

Dalam sejarah tersebut disebutkan bila perjalanan nenek moyang bangsa Indonesia mulai berdirinya Kerajaan Kutai Kertanegara di Kalimantan, lalu ke timur berdirinya kerajaan Galuh di Jawa Barat, lalu Kerajaan Mataram kuno yang dikenal dengan adanya wangsa Sanjaya yang menganut Hindu dan Wangsa Syailendra yang menganut Budha.

Diceriterakan, Wangsa Syailendra akhirnya bergerak ke Palembang mendirikan Kerajaan Sriwijaya yang Budha dan wangsa Sanjaya bergerak ke timur mendirikan kerajaan Singasari yang menganut Hindu yang kemudian dalam perjalanan sejarah berkembang menjadi Kerajaan Majapahit.

"Di saat kejayaan kerajaan Majapahit inilah muncul semboyang Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu, keberagaman dalam persatuan. Jadi Bangsa Indonesia ini sudah sejak lama mengenal keberagaman," tegasnya.

Sebelumnya, Ketua Yayasan Nurul Falah H. Sugeng dalam sambutannya mengemukakan Musholla Nurul Fallah yang ada di lingkungan Terminal Pesiapan sudah dibangun sejak 27 tahun lalu.

Musholla direnovasi tujuannya untuk menambah daya daya tampung dan melengkapi fasilitas pendukungnya. Selain itu juga bertujuab menjadikan Mushola Nurul Fallah sebagai musahola transit yang representatif bagi wisatawan yang berkunjung ke Bali melalui jalur darat.

"Renovasi mushola diawali pada bulan Mare lalu yang peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Wakil Bupati Tabanan Bapak Komang Gede Sanjaya. Untuk renovasi mushola dan pembangunan wantilan mushola diperkirakan akan memerlukan biaya sekitar Rp 18,9 miliar," pungkasnya.

Selain dihadiri ribuan jamaah dari tabanan dan sekitarnya, tausiah Gus Muwafiq juga dihadiri sejumlah undangan dari kalangan eksekutif, legislatif dan judikatif provinsi dan Tabanan serta tokoh masyarakat lintas agama. (gus)

Rekomendasi