Flu Babi Afrika Ancam Peternakan di Bali, Karantina Perketat Pengawasan

Rabu, 11 Desember 2019 : 00.18
Rakor mengantisipasi ancaman penyakit ASF atau flu babi di Karantina Pertanian Denpasar/ist
Denpasar - Petugas Karantina mememperketat pengawasan menyusul African Swine Fever (ASF) atau lebih dikenal dengan flu babi Afrika yang sedang mengancam peternakan babi di Indonesia khususnya Bali.

Status penyakit ASF sudah mewabah di beberapa negara tetangga dan yang terakhir di bulan September 2019, Timor Leste sudah ditetapkan dengan negara dengan wabah penyakit yang satu ini.

Mengantisipasi ancaman penyakit ASF, Karantina Pertanian Denpasar, Selasa (10/12) mengadakan Rapat Koordinasi (Rakor) sebagai langkah dalam menyatukan persepsi terhadap upaya pencegahan dini masuknya ASF.

Pertemuan ini membahas upaya dan strategi yang diambil terhadap kemungkinan - kemungkinan yang menjadi potensi masuk dan menyebarnya penyakit yang disebabkan oleh virus dari family Asfaviridae.

Selain itu dibahas sumber penularan virus ASF yang bisa ditularkan melalui lalulintas penumpang yang terkontaminasi virus dari negara wabah, bahan makanan yang ada kandungan babinya.

Juga, sampah sisa makanan/catering yg berasal dari pesawat maupun kapal pesiar yang berasal dari negara wabah dan sumber-sumber penularan ini menjadi fokus pengawasan untuk memfilter masuknya wabah ASF ke Bali.

Narasumber rakor kali ini adalah Ketua PDHI Cabang Bali, Balai Besar Veteriner Denpasar dan dari Karantina Pertanian Denpasar dihadiri instansi Pemerintah Daerah dan Stakeholder langsung baik di Bandara Udara maupun Pelabuhan Laut.

Kepala Karantina Pertanian Denpasar mengatakan rakor ingin mempertajam lagi dukungan karantina terhadap pencegahan masuknya ASF ke Bali dengan melibatkan stakeholder di Bandara, Pelabuhan Laut, Pemerintah Daerah, dan pengelola sampah pesawat dan kapal laut di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) dan para peternak babi di sekitar TPA khususnya.

"Kunci keberhasilan pencegahan ASF ke Bali adalah koordinasi yang kuat," tegas Terunanegara saat saat memimpin rakor.

Sementara itu, Ketua PDHI cabang Bali Prof. I Kt Puja mengatakan saat ini yang paling efektif dilakukan adalah pencegahan masuknya penyakit mengingat ASF sampai saat ini belum ada obat dan vaksinnya.

Dengan rakor ini, diharapkan filter virus ASF yang masuk ke Bali bisa berlapis dan upaya pencegahan bisa memberikan hasil maksimal. (riz)
Bagikan Artikel

Rekomendasi