Budidaya Udang Berkelanjutan Sistem Intensif Dikembangkan di Sulsel

Senin, 02 Desember 2019 : 07.09
Barru - Kementerian Kelautan dan Perikanan pengembangan udang di Indonesia, apalagi pemerntah telah menargetkan ada peningkatan kontribusi devisa ekspor yang lebih signifikan dari komoditas udang.

Dalam kunjungan kerjanya di Sulawesi Selatan (Sulsel), Minggu (1/12), Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo didampingi Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto melakukan kegiatan panen udang vaname dan meresmikan 4 unit Hatchery milik PT Esaputlii Prakarsa Utama (Esapratama Fishery Company) di Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru.

Menteri Edhy berharap, keberadaan hatchery skala besar ini akan turut berkontribusi dalam pemenuhan benur udang dan bandeng yang bermutu di seluruh Indonesia.

KKP sangat mendukung apa yang dilakukan perusahaan dalam pengembangan udang di Indonesia, apalagi saat ini KKP menargetkan ada peningkatan kontribusi devisa ekspor yang lebih signifikan dari komoditas udang.

"Kita menargetkan nilai ekspor udang meningkat hingga 250% di tahun 2024," papar Menteri Edhy.

Dalam RPJMN 2020– 2024, pengembangan udang dengan sistem kluster menjadi salah satu prioritas KKP. Pemerintah akan fokus pada kebijakan dan regulasi investasi udang sehingga investasi akan lebih mudah.

"Kurang lebih sebulan ini, saya berkeliling ke sentral sentral produksi perikanan. Tentu tujuannya yakni untuk mendengar masukan, keluhan dari stakeholders sebagai bahan referensi kami dalam menyusun arah kebijakan sektor kelautan dan perikanan," ucapnya.

Edhy tidak ingin, sebuah aturan tiba tiba dibuat tanpa melihat dan mendengar langsung di lapangan karena bapak/ibulah yang akan menjalankannya. Presiden tengah merancang penyederhanaan regulasi melalui kebijakan omnibus law, sebagai upaya menghilangkan tumpang tindih aturan dan birokrasi.

Setidaknya ada 11 klaster kebijakan omnibus law untuk Cipta Lapangan Kerja, dua di antaranya yakni penyederhanaan perizinan investasi dan pengembangan inovasi dan riset.

Diharapkan, kebijakan ini akan berdampak terhadap peningkatan investasi budidaya dan mampu mengakselerasi pengembangan budidaya di kawasan-kawasan potensial.

"Tentu akan banyak sektor yang terlibat, mulai dari obat, peralatan, serta penyerapan tenaga kerja sehingga akan banyak diperlukan investasi di sektor ini," lanjutnya.

Menteri Edhy bertekad mengembalikan kejayaan Indonesia di sektor budidaya udang. Ia menilai, sudah sewajarnya ekspor udang digenjot mengingat udang memberikan share devisa hingga 40% dari total ekspor produk perikanan nasional.

Tahun 2017 misalnya, nilai ekspor udang Indonesia mencapai USD1,47 miliar. Ada beberapa upaya yang telah dilakukan KKP guna mendukung pengembangan budidaya tambak udang di Indonesia.

Beberapa dituangkan dalam program prioritas di antaranya budidaya udang berbasis klusterisasi, Pengelolaan Irigasi Tambak Partisipatif (PITAP), bantuan induk bermutu dan benih unggul, serta bantuan eksavator.

Budidaya udang berbasis kluster merupakan bagian upaya KKP dalam mengembangkan prinsip budidaya secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Dengan prinsip kluster, pengelolaan budidaya udang dilakukan dalam satu kawasan dengan manajemen teknis dan usaha yang dikelola secara bersama.

Tujuannya meminimalisir kegagalan dan meningkatkan produktivitas namun tetap ramah lingkungan. Adapun PITAP dilakukan untuk meningkatkan fungsi jaringan saluran irigasi tambak milik pembudidaya yang mengalami penurunan.

Dukungan infrastruktur ini akan meningkatkan luas lahan tambak yang terfasilitasi sumber daya air yang baik, sehingga berdampak terhadap peningkatan produksi budidaya. Di samping itu PITAP akan mempermudah aksesibilitas dan konektivitas dalam pengembangan perikanan budidaya.

"Kita ingin daya saing udang kita naik dan target saya yakni memperluas pasar dan meningkatkan supply share kita di pasar ekspor. Ini tantangan kita ke depan," katanya. Pihaknya mengimbau pelaku usaha untuk mengembangkan inovasi teknologi dengan tetap mempertimbangkan daya dukung lingkungan.

Dia berkeyakinan, berapapun jumlah udang yang diproduksi, tidak akan terjadi over supply. Alasannya, udang dapat disimpan dan ketika dijual kembali harganya masih tinggi. Udang juga bisa diolah menjadi beraneka produk bernilai ekonomi tinggi lainnya.

"Mudah-mudahan nanti berbudidaya udang bisa menjadi alternatif usaha masyarakat. Tak butuh modal besar, dengan modal minim pun bisa dilakukan," ucapnya.

Dalam laporannya, Eddy Baramuli menyampaikan, udang vaname sudah dikenal di Sulsel sejak tahun 2003 dan mulai diekspor pada tahun 2008 sebanyak 7.055 ton.

Sulsel memiliki potensi tambak efektif untuk budidaya udang vaname seluas 96.000 hektar, udang windu 38.000 hektar, dan sisanya untuk budidaya ikan bandeng dan sebagainya.

PT Esaputlii Prakarsa Utama sendiri bergerak dalam pembenihan udang vaname dan bandeng dan pembesaran udang intensif dengan kapasitas produksi yang besar.

Melalui penerapan budidaya sistem intensifikasi, perusahaan ini berhasil menjadi penyuplai udang vaname terbesar di Sulsel bahkan di seluruh provinsi nusantara.

Pada tahun 2014 mereka berhasil melakukan panen udang hingga 29 ton per satu kali panen untuk 1 petak tambak dengan luas 3.000 m2. Ini disebut menjadi rekor panen udang terbesar di dunia.

Saat ini mereka bahkan mampu menghasilkan udang 15,2 ton per 1.000 m2 dalam sekali panen. Baramuli menambahkan, PT Esaputlii Prakarsa Utama juga mampu memproduksi benih udang (benur) hingga 7,2 miliar ekor per tahun.

"Mengingat besarnya potensi ini, hari ini dalam rangka mencari solusi terbaik untuk meningkatkan produksi ekspor hasil perikanan pada umumnya, dan hasil udang pada khususnya, kita berdiskusi dengan Bapak Menteri," cetusnya. (rhm)

Rekomendasi