AVB Tolak Narkoba dan Larang Ngevape di Ruang Publik

Sabtu, 07 Desember 2019 : 21.30
Penandataganan Kode Etik Industri Vape Indonesia di Badung, Bali
Badung - Asosiasi Vaporizer Bali (AVB) menegaskan sikap menolak terhadap narkoba dan meminta anggotanya untuk tidak memakai vape atau ngevape di ruang publik seperti di Kawasan Tanpa Rokok (KTR).

Penegasan sikap itu disampaikan Ketua Asosiasi Vaporizer Bali (AVB) Gede Maha di sela event bertajuk Bali Vape Culture yakni desiminasi informasi tentang penggunaan rokok elektrik di Harris Sunset Road Kuta, Sabtu (7/12/2019).

Diakuinya, selama ini masih ada anggapan miring tentang vape seperti dikaitkan dengan penyalahgunaan narkoba sebagaimana kasus di luar negeri. Demikian juga, tentang kesimpangsiuran informasi jika vape sangat membahayakan kesehatan dan menyasar anak di bawah umur.

Padahal, secara tegas disebutkan dalam Kode Etik Industri Vape yang kemudian ditandatangani juga oleh para pelaku industri vape dan anggota AVB, bahwa anak dibawah umur dilarang memakai vape. Untuk memakainya juga harus dibuktikan dengan KTP umur minimal 18 tahun ke atas.

Selain itu, dalam kode etik membantu menjaga industri dari penyelahgunana narkotika dan obat-obatan terlarang lainnya. Dicontohkan juga larangan bagi para pelaku industri bisnis vape terlibat dalam nakoba atau pelanggaran terhadap UU dan aturan hukum lainnya.

Dalam kode etik itu, tidak melakukan kegiatan promosi yang ditujukan menyasar konsumen berusia 18 tahun ke bawah. "Kami juga melarang anggota, ngevape diruang publik, seperti kawasan KTR," tegas Maha dalam acara yang dihadiri para narasumber BNN Bali, Direktorat Polda Bali itu.

Disinggung soal penadatanganan petisi dari Bali menolak penerapan PP 109 Tahun 2012 yang menyebutkan, adanya larangan vape karena dinilai tidak sesuai kesehatan dan lainnya.

Padahal, lanjut Maha, vape diciptakan sebagai bahan rendah resiko. Ibaratnya, naik kendaraan kalau semua orang takut naik kendaraan, takut mati maka tidak ada orang yang keluar rumah. Karena itu, diciptakan safety belt, untuk keamanan dalam berkendara, untuk mengurangi resiko.

"Kalau untuk mengurangi resiko pasti ada, karena itu, vape tidak ada tart, karena itu vaper itu smrat people, sangat peduli dengan kesehatan diri sendiri dan lingkungan terdekat," tegasnya.

Pihaknya berharap melalui kegiatan ini, bahwa hal-hal yang selama ini negatif berkembang di masyarakat tentang vape, akhirnya terjawab.

"Kita harapkan ini sebagai edukasi, tata cara berjualan vape, etika artinya walaupun vape lebih baik dari rokok, kalau ada KTR ya janganlah ngevape di sana, itu tujuannya, edukasi," tandasnya.

Ditegasknya, asosisi sangat menolak keras narkoba. Bahkan, organisasinya memberi sanksi tegas kepada anggota jika ada yang melakukan pelanggaran. Jangankan narkoba, pelanggaran hukum seperti tidak memakai pita cukai, melanggar perundangundangan AVB akan diberikan saksi tegas.

Sampai saat ini, AVB beranggotakan 74 brand owner dan brewer nomor pokok pengusaha kena cukai yang punya izin pengolahan pabrik liquid ada 25. (rhm)

Rekomendasi