Tingkatkan PAD, Pemprov Bali Gandeng PT GGP Kembangkan Pisang dan Nanas

Rabu, 20 November 2019 : 18.25
Asisten III Setda Provinsi Bali I Wayan Suarjana didampingi Karo Humas dan Protokol Anak Agung Ngurah Oka Sutha Diana saat menyerahkan cindera mata kepada Operation Manager PT GGP I Wayan Ardana
Lampung Tengah - Dalam upaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pemerintah Provinsi Bali melalui perusahaan daerah menjalin kerja sama dengan PT Great Giant Pineapple (GGP) Lampung Tengah dengan mengembangkan buah-buahan nanas dan pisang.

Sebagai bentuk tindak lanjut kerja sama tersebut, kegiatan Media Informasi Pembangunan Press Tour mengajak puluhan media di Bali untuk melihat dari dekat pabrik pengolahan nanas dan pisang yang berlokasi di Terbanggi Besar, Lampung Tengah, Lampung, Rabu (20/11/2019).

Asisten Administrasi Umum Pemprov Bali Wayan Suarjana dan Kepala Biro Humas dan Protokol Anak Agung Ngurah Oka Sutha Diana memimpin rombongan media disambut langsung Operation Manager PT GGP I Wayan Ardana dan jajaran.

Dalam kesempatan itu,Ardana menyampaikan Bali memiliki potensi besar sektor pertanian khususnya untuk pengembangan buah pisang dan nanas dengan kualitas dan kuantitas hasil pertaniannya.

"Kita rancang Bali untuk jadi satelit farming kita, melalui kerjasama dengan perusda, mengembangkan komoditi pisang yang nantinya akan memenuhi kebutuhan Bali, NTB dan sekitarnya," tutur Ardana.

Dengan lahan milik Pemprov yang telah diserahkan ke perusahaan daerah seleuas 115 hektar di Kecamatan Pekutatan, Jembrana itu, nantinya dijadikan pilot project pengembangan pisang dan nanas.

Potensi budidaya holtokulyura khususnya pisang dan nanas di Bali, didukung beberapa kawasan yang berada di dataran tinggi yang sangat baik bagi budidaya pisang. "Hasilnya, pisang akan lebih manis dan legit," jelas alumnus IPB Bogor ini.

Operation Manager PT Great Giant Pineapple (GGP) I Wayan Ardana
Pria asal Bedulu, Kabupaten Gianyar ini menambahkan,untuk menghindari penyakit, tanaman pisang sehingga perlu melakukan rotasi dengan nanas segar.

Selain Bali dikembangkan juga di daerah Blitar Jawa Timur. Jadi, misalnya, pisangnya nanti dibudiaya di Bali, jika nantinya dalam dua tahun misalnya sudah terkena penyakit maka akan dirotasi dengan nanas.

"Tujuannya memutus rantai perkembangan penyakit. Jamur pada pisang misalnya, karena sekali kena penyakit jamur itu tidak ada obatnya," tuturnya.

Dalam pengembangan bisnisnya, PT GGP menjalin mitra dengan petani di mana kerja sama dilakukan konsep Corporate Share Value, artinya perusahan berkembang masyarakat juga harus ikut maju.

Sementara Asisten 3 I Wayan Suarjana menyatakan optimismenya untuk pengembangan hasil pertanian lokal Bali ke depan bisa lebih menggembirakan.

"Meskipun dikatakan lahan pertanian sempit, petani Bali juga nyaris punah, namun saya optimis dengan pengelolaan yang baik dan kerjasama dengan para ahli, Bali mampu mengembangkan sektor pertanian lokal," tandasnya.

Pemerintah provinsi Bali beserta para petani di Bali sudah selayaknya belajar banyak, terutama untuk memanfaatkan teknologi dalam penanganan hasil pertanian.

Apa yang dilakukan PT GGP adalah contoh yang baik, dimana Lampung telah sukses luar biasa dalam memgembangkan produk pertanian seperti nanas, pisang dan lainnya, sehingga memberikan hasil yang luar biasa.

Hasil pertanian seperti buah-buahan lokal di Bali belum terkelola dengan baik sehingga belum berdampak kepada PAD yang masih bergantung pada sektor pariwisata serta kesejahteraan petani. Pun demikian dengan belum tercapainya kesejahteraan petani di Bali.

"Harapannya kerjasama dengan GGP kedepan mampu memberikan peningkatan pendapatan masyarakat terutama petani, termasuk di pelosok kabupaten-kabupaten kita. Ada pisang mas, mangga, manggis, salak dan lainnya bisa kita kedepankan," Tukas Suarjana.

Petani memanen nanas di perkebunan milik PT GGP, Lampung Tengah
Seorang petani Soleh, yang merupakan mitra PT GGP mengaku kerja sama dengan perusahaan memgalami peningkatan pendapatan yang signifikan dibandingkan melempar produk langsung ke pasar.

"Karena produk jadi punya kepastian, penyerapan dan juga harganya. Kami petani bisa meraup sampai 1,7 juta per minggu," ucapnya. PT GGP disebut-sebut sebagai produsen nanas kaleng terbesar di dunia dengan produksi menyentuh 630 ribu ton per tahun.

Produksi tersebut merupakan hasil dari 34 ribu hektar tanah perusahaan serta bekerja sama juga dengan petani setempat. Produknya merambah pasar ekspor ke Jepang, Korea hingga Timur Tengah.

Perusahaan yang memiliki ribuan karyawan ini, memproduksi buah pisang, jambu biji, semangka dan durian segar. Selain itu, dihasilkan pula produk berupa enzim bromelin dari hati dan batang nanas, yang banyak dimanfaatkan di bidang kesehatan dan kecantikan. (rhm)

Rekomendasi