Tim BPSPL Denpasar Selamatkan Penyu Hijau Terluka di Sungai Brantas

Jumat, 08 November 2019 : 10.56
Penyu hijau yang diselamatkan Tim BPSL Denpasar dari muara Sungai Berantas, Jawa Timur/humas kkp
Sidoarjo - Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar Wilayah Kerja (Wilker) Jawa Timur Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyelamatkan seekor penyu yang terdampar di muara sungai Brantas, Jawa Timur.

Penyu berjenis penyu hijau (Chelonia mydas) dengan ukuran panjang lengkung karapas (CCL) 75 cm dan lebar lengkung karapas (CCW) 67 cm, dan jenis kelamin betina.

Kepala BPSPL Denpasar, Suko Wardono menjelaskan, pertama kali penyu ditemukan pada 20 Oktober 2019 oleh nelayan pencari kepiting asal Bangil, Pasuruan di muara sungai Brantas sebanyak 1 ekor.

"Lalu, ditaruh bak air. Demikian disampaikan Kepala BPSPL Denpasar," terang Suko dalam keterangan resminya, Jumat (8/11/2019).

Mengetahui penyu merupakan hewan yang dilindungi, maka pada tanggal 26 Oktober 2019, nelayan melaporkan temuannya ke penjaga Pulau Lusi, Sidoarjo. Penyu tersebut kemudian ditempatkan pada sebuah kolam yang terdapat di Pulau Lusi.

“Kondisi Penyu saat dilaporkan ke penjaga Pulau Lusi, Sidoarjo, ada luka retak di kepala dan lubang di semua flipper, Penyu masih bergerak walaupun tidak terlalu aktif," terangnya.

BPSPL Denpasar yang mendapat laporan ditemukannya penyu terdampar pada tanggal 29 Oktober 2019 oleh penjaga Pulau Lusi, pada tanggal 30 Oktober 2019 segera mendatangi lokasi penampungan penyu di pulau Lusi.

Tim BPSPL Denpasar bersama PSDKP Satwas Surabaya pada tanggal 31 Oktober 2019 selanjutnya melakukan pelepasliaran penyu di laut sebelah timur Pulau Lusi sejauh sekitar 5 km (selat Madura).

"Saat dilepasliarkan, penyu aktif berenang dan mencoba menyelam, namun tidak bisa tenggelam walaupun sudah berusaha menyelam, penyu terapung di permukaan," tutup Suko.

Mengingat daerah tersebut merupakan daerah penangkapan ikan bagi nelayan sekitar dan banyak lalu Lalang kapal nelayan dengan kondisi penyu di permukaan, sehingga dikuatirkan penyu akan diambil oleh nelayan.

Maka tim sepakat untuk mengambil kembali penyu dan menempatkannya di kolam Pulau Lusi untuk dilakukan pemeriksaan.

Dari pemeriksaan Tim Medis Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (Unair) pada tanggal 4 November 2019, ditemukan luka di kepala akibat pukulan benda tumpul dan lubang pada ke empat flipper nya.

Tim medis merekomendasikan agar dilakukan observasi dan perawatan lebih lanjut di Rumah Sakit Hewan (RSH) Unair.

Pada hari itu juga, penyu dievakuasi ke RSH Unair dan ditempatkan di kolam air laut ukuran 2 x 3 m dengan system resirkulasi air. kondisi penyu saat masih belum mau makan, sehingga dilakukan pemberian makan dengan menggunakan selang.

Penyu dilakukan perawatan di RSH Unair sampai kondisinya sehat dan siap dilepaskan ke habitatnya, tutup Suko.

Diketahu, penyu merupakan hewan dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa dan Surat Edaran Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 526 Tahun 2015 Tentang Pelaksanaan Perlindungan Penyu, Telur, Bagian Tubuh dan/atau Produk Turunannya. (mat)

Rekomendasi