Perkuat Sistem Peringatan Dini, Bali Siagakan 2 Shelter Seismik dan Seismograf

Sabtu, 16 November 2019 : 21.28
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dan rombongan bertemu Gubernur Bali I Wayan Koster
Denpasar - Pemerintah tengah mempersiapkan Bali sebagai provinsi yang akan memperkuat sistem peringatan dini tsunami di tahun 2019 dengan membangun 2 shelter seismik dan seismograf.

Alat canggih itu guna memperkuat jaringan pengaman sistem peringatan dini gempabumi dan tsunami di Provinsi Bali.

Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia (Indonesia Tsunami Early Warning System) yang sering disebut InaTEWS telah dioperasikan oleh BMKG di Kantor Pusat Kemayoran, Jakarta sejak 2008.

Kemudian, tahun 2009 back-up sistem ini telah dibangun di Denpasar, Provinsi Bali.

"Back-up system ini sangat vital, karena harus kita siapkan dengan “skenario terburuk” apabila Jakarta lumpuh karena bencana atau berbagai kendala, maka pengendalian Sistem Peringatan Dini Tsunami akan segera diambil alih oleh BMKG Balai Besar Wilayah III di Denpasar", ungkap kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dalam keterangan resminya, Sabtu (16/11/2019).

Dalam rangka memperkuat Sistem Peringatan Dini di Indonesia, saat ini BMKG sedang dalam proses merapatkan jaringan sensor-sensor gempabumi.

"Saat ini sensor yang telah beroperasi sebanyak 176 sensor, akan diperbanyak menjadi 585 sensor di seluruh Wilayah Indonesia di tahun 2020," sebut Dwikorita.

Tahun 2019 ini sudah dibangun 2 shelter seismik, dan sedang disiapkan untuk instalasi dua seismograf guna memperkuat jaringan pengaman sistem peringatan dini gempabumi dan tsunami di Bali.

"Dua shelter tersebut berada di Kecamatan Kintamani - Bangli dan Nusa Penida-Klungkung," ungkap mantan Rektor UGM Yogyakarta ini. Dua shelter ini dibangun sebagai bentuk dukungan BMKG terhadap pertumbuhan pariwisata Bali yang terus meningkat setiap tahunnya.

Dalam kunjungan bertemu Gubernur Bali I Wayan Koster, Dwikorita menginformasikan BMKG Bali sebagai back up nasional InaTEWS serta menyampaikan program-program yang sudah berjalan dan akan dilanjutkan di Provinsi Bali, seperti Sekolah Lapang Iklim (SLI), Sekolah Lapang Nelayan (SLN), dan Sekolah Lapang Geofisika (SLG).

Gubernur Koster memberikan respon positif terhadap program-program BMKG yang mendukung Bali dari bencana, seperti : cuaca ekstrem, gempabumi dan tsunami.

Untuk sekolah lapang yang diselenggarakan BMKG, pemerintah provinsi menindaklanjuti dengan melaksanakan Forum Group Discussion (FGD) antara BMKG, BPBD, Dinas Kelautan dan Dinas Pertanian seluruh Kab/Kota di Provinsi Bali.

Dwikorita juga menyampaikan bahwa Bali menjadi salah satu prioritas penguatan, dikarenakan Bali sebagai destinasi wisata Internasional perlu memberikan rasa aman dan nyaman terhadap wisatawan domestik maupun asing.

"Bali juga mempunyai infrastruktur komunikasi dan sistem kelistrikan yang cukup stabil," tandasnya.

Selain itu, Bali juga memiliki tingkat keamanan yang cukup baik juga didukung oleh jumlah SDM operasional yang lebih banyak dan memiliki pengalaman yang baik dalam segi pengolahan dan analisa gempabumi.

Dari segi sarana dan prasarana pun di Bali memiliki fasilitas yang lebih lengkap. Hal ini menjadi pertimbangan untuk menjadikan Bali sebagai back up system peringatan dini tsunami Indonesia (InaTEWS) selain Jakarta.

Untuk itu, di Bali akan dibangun sistem yang sama dengan InaTEWS Jakarta. Sistem yang dibangun, antara lain : Sistem Pengolahan (SeisComP3) dengan fitur-fitur terbaru serta Sistem Modelling Tsunami (TOAST) yang sudah dilengkapi dengan 18000 skenario di seluruh Indonesia.

Capaian tahun ini, sistem back up di Bali hampir mendekati sistem di Jakarta, baik itu dari segi pengolahan data maupun system diseminasi informasi.

Tahun 2020 dicanangkan pembangunan gedung khusus sebagai gedung operasional InaTEWS BALI sehingga diharapkan ketika Jakarta mengalami trouble/ system InaTEWS Jakarta down, Bali sudah benar-benar siap menjadi full back up InaTEWS Jakarta.

Disamping itu, laporan Gempabumi yang baru saja terjadi di daerah Seririt-Buleleng dengan M 5.1 yang cukup membuat warga Buleleng panik sehingga menimbulkan keresahan akibat banyak beredarnya informasi HOAX di masyarakat. (rhm)

Rekomendasi