Harijanto Karjadi Jalani Sidang Perdana di PN Denpasar

Selasa, 12 November 2019 : 17.24
Denpasar - Majelis hakim menyidangkan perkara dengan terdakwa Harijanto Karjadi di Ruang Sidang Cakra Pengadilan Negeri Denpasar, Bali, Selasa (12/11/2019).

Agenda sidang adalah pembacaan dakwaan oleh tim jaksa, diketuai Ketut Sujaya.

Jaksa mendakwa pemilik Hotel Kuta Paradiso itu, telah memberikan keterangan palsu dalam akta otentik gadai saham dan penggelapan. Saat menjalani sidang, terdakwa didampingi tim pengacara Berman Sitompul dan Petrus Bala Pattyona

Jaksa melanjutkan, terdakwa selaku Direktur PT Geria Wijaya Prestige/GWP (Hotel Kuta Paradiso) turut terlibat dan menyetujui pemberian keterangan palsu dalam akta otentik gadai saham sehubungan peristiwa pengalihan saham dari Hartono Karjadi kepada Sri Karjadi dalam RUPS tanggal 14 November 2011.

Diketahui, Hartono Karjadi dan Sri Karjadi adalah adik kandung dari terdakwa. Perkara bermula laporan polisi dibuat Tomy Winata (TW) melalui kuasa hukum Desrizal, pada 27 Februari 2018 ke Ditreksrimsus Polda Bali.

Laporan dibuat setelah TW menerima pengalihan hak tagih piutang PT GWP dari Bank China Construction Bank Indonesia (CCB) pada 12 Februari 2018.

Pada saat hampir bersamaan, TW juga mengajukan gugatan wanprestasi terhadap PT GWP dan Harijanto Karjadi dkk selaku penjamin utang, di PN Jakarta Pusat, tercatat dalam register perkara No. 223/pdt.G/Jkt. Pst.

Hanya saja, gugatan tersebut ditolak seluruhnya oleh majelis hakim diketuai Sunarso pada sidang pembacaaan putusan pada 18 Juli 2019.

Putusan pertama PN Jakarta Pusat menghukum PT Geria Wijaya Prestige (GWP) karena wanprestasi, dan diharuskan membayar ganti rugi materiil kepada dua perusahaan, yaitu Bank Agris dan Gaston Invesments Limited, masing-masing sebesar lebih dari USD 20 juta.

Sedangkan putusan kedua, PN Jakarta Pusat menghukum perusahaan milik Harijanto dan Hartono Karjadi. Vonis PN Jakarta Pusat itu juga telah berkekuatan hukum tetap. (rhm)

Rekomendasi