menu
search

Dialog Kebangsaan KAHMI Badung, Bambang Santoso: Jangan Berputus Asa untuk Bersatu

Jumat, 01 November 2019 : 07.40
Dialog Kebangsaan digelar Majelis Daerah (MD) KAHMI Badung di DPD RI Perwakilan Bali
Denpasar - Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Bambang Santoso mengingatkan semua anak bangsa agar jangan pernah berputusasa untuk bersatu karena hal itu sangat membahayakan bagi kelangsungan hidup bangsa Indoneia.

Ajakan untuk bersatupadu sekaligus peringatan agar tidak berpecah belah disampaikan Bambang saat Dialog Kebangsaan yang digelar Majelis Daerah (MD) Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kabupaten Badung di Kantor DPD Perwakilan Bali, Denpasar, Kamis (31/10/2019).

Dihadapan puluhan aktivis mahasiswa, organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP) dan tokoh masyarakat lainnya, Bambang menekankan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan sesama anak bangsa.

"Berpecah belah itu bukan hanya dilarang semua agama, tetapi juga sangat berbahaya, tahapan itu ada yang lebih berbahaya lagi ketika kita semua tidak mau bersatu," tegas Bambang dalam dialog yang menghadirkan pula akademisi Undiknas Dr Nyoman Subanda dan Ketua KNPI Bali I Nyoman Gede Antaguna

Bambang melanjutkan, ada hal lain yang juga membahayakan jika sesama anak bangsa maupun dari tokoh-tokoh masyarakat maupun pejabatnya tidak mau mempersatukan.

Tahapan itupun, ada yang lebih berbahaya lagi ketika seluruhnya, sebagai sasama anak bangsa ini, sudah berputusasa untuk bersatu. Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, Bali sebagai pariwisata dunia, haruslah dirawat dengan baik oleh semua pihak.

Isu-isu sekecil apapun, lanjut Bambang sembari mengutip peribahasa jarum yang jatuh ke lantai di Bali, bisa terdengar ke mana-mana, tentunya ini sangat urgen dan menjadi sebuah simbolik pergerakan.

"Simbol pergerakan bahwa inilah Bali, pemudanya bersatu, menjadi agen perubahan, pemudanya saling bahu membahu bagaimana menjaga Bali ke depan lebih baik dan sesungguhnya menjaga Indonesia yang sesungguhnya," tandasnya.

Harapanya, era sekarang kaum milenial memegang peranan penting yang ditandai lebih kretaif, gesit dan memiliki kekuatan. Untuk harapannya, kaum muda membekali diri dengan prestasi, kreativitas, pendidikan yang lebih baik dan pengetahuan yang lebih luas.

"Visi kami (DPD), bagaimana meningkatkan kualitas dari sisi pendidikan, skill dan ketrampilan dan kualitas rasa bagaimana membangun persatuan bahwa Bali juga bagian dari Indonesia," tegasnya lagi.

Sementara dalam pandangan pengamat politik akademisi Undiknas Nyoman SUbanda, tantangan dihadapi bangsa ini terlebih kaum muda seiring era globalisasi dan modernisasi ditandai masuknya revolusi industri 4.0

"Kita sedang menghadapi budaya multikultural, di mana kita bisa belajar budaya dari dunia luar, namun orang luar juga bisa dengan cepat belajar budaya kita," urai Subanda.

Derasnya budaya multikultural masuk dan merasuki pikiran dan pandangan masyarakat di Tanah Air, disebabkan dengan pesatnya perkembangan informasi dan teknologi seperti media sosial sehingga memunculkan wabah bersama seperti berbagai penyakit dari berbagai belahan dunia juga bisa masuk ke Indonesia.

Demikian juga, kondisi di era sekarang inim melahirkan masyarakat seperti teralienasi, terpinggirkan oleh apa yang mereka ciptakan sendiri seperuti barang maupun teknologi.

Untuk itu, Subanda mengingatkan kaum muda, tetap berpijak kepada nilai-nilai budaya dan sosial yang dibangun bangsa ini sejak lama seperti pentingnya menjaga kesatuan dan persatuan sebagaimana digaungkan dalam Sumpah Pemuda tahun 1928. (rhm)

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua