menu
search

Sentuh 3,39 Persen, BI Proyeksikan Inflasi Bali Tetap Terkendali

Rabu, 30 Oktober 2019 : 20.43
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho saat menyampaikan sambutan sata Temu Responden
Denpasar - Bank Indonesia memproyeksikan inflasi di Provinsi Bali sampai akhir tahun 2019 masih terkendali dan stabil menyentuh kisaran angka 3 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali (BI) Trisno Nugroho menyampaikan hal itu saat Apresiasi dan Temu Responden Bank Indonesia 2019 yang mengambil tema “Unlocking Success in Digital Era”.

"Kami ucapkan terimakasih kepada semua yang berpartisipasi dalam acara Apresiasi dan Temu Responden yang rutin digelar setiap tahun," tutur Trisno di Kantor Bank Indonesia Provinsi Bali, Rabu (30/10/2019).

Pada bagian lain, dia menyebutkan, nilai tukar Rupiah menguat sejalan dengan kinerja Neraca Pembayaran Indonesia yang tetap baik. Pada Oktober 2019, Rupiah mencatat apresiasi 1,18% secara point to point dibandingkan dengan level akhir September 2019.

Dengan perkembangan tersebut, rupiah sejak awal tahun sampai dengan 23 Oktober 2019 tercatat menguat 2,50% (ytd). Penguatan Rupiah didukung oleh aliran masuk modal asing yang tetap berlanjut dan bekerjanya mekanisme permintaan dan pasokan valas dari para pelaku usaha.

Selain itu, ketidakpastian pasar keuangan global yang sedikit menurun turut memberikan sentimen positif terhadap Rupiah. "Ke depan, Bank Indonesia memandang nilai tukar Rupiah tetap stabil sesuai dengan fundamentalnya dan mekanisme pasar yang terjaga," tegasnya.

Ia melanjutkan, inflasi tetap terkendali pada level yang rendah dan stabil. Secara tahunan, inflasi September 2019 tercatat 3,39% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan inflasi Agustus 2019 sebesar 3,49% (yoy).

Untuk prospek Perekonomian Domestik, Prospek ekonomi Indonesia 2019 diprakirakan berada di bawah titik tengah kisaran 5,0- 5,4% dan meningkat menuju titik tengah kisaran 5,1-5,5% pada tahun 2020.

Pada prospek inflasi diprakirakan tetap rendah dan stabil yang diprakirakan tetap berada di bawah titik tengah kisaran sasaran inflasi 3,5±1% pada 2019 dan terjaga dalam kisaran sasaran 3,0±1% pada 2020.

Pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan II 2019 masih kuat, meskipun melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pada triwulan II 2019, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,64% (yoy), lebih tinggi dibanding Nasional yang sebesar 5,05% (yoy).

"Dari sisi permintaan, perlambatan pertumbuhan terjadi pada hampir seluruh komponen," sambungnya.

Pada sisi lapangan usaha, perlambatan pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan II 2019 disebabkan melambatnya kinerja hampir semua lapangan usaha utama kecuali pertanian dan perdagangan.

Inflasi Bali September 2019 sebesar -0,58% (mtm), lebih rendah dibanding bulan sebelumnya (0,44%, mtm). Menurut disagregasinya, peningkatan tersebut didorong oleh inflasi pada kelompok volatile food.

Komoditas utama penyumbang inflasi September 2019 antara lain bawang merah, cabai rawit, daging ayam ras, dan cabai merah.

Ia menyampaikan apresiasi atas peran aktif para responden dan stakeholder Bank Indonesia yang selama ini telah mendukung tugas BI dalam menjalankan mandat untuk merumuskan dan menetapkan kebijakan moneter, stabilitas sistem keuangan dan sistem pembayaran.

"Data dan informasi yang sampaikan melalui survey Bank Indonesia merupakan bahan utama yang sangat penting bagi kami dalam melakukan asesmen ekonomi Provinsi Bali," katanya.

Hal itu juga sekaligus sebagai leading indikator penyusunan perkiraan perkembangan perekonomian ke depan. Hal dimaksud digunakan sebagai dasar penyusunan rekomendasi kebijakan ekonomi kepada Kantor Pusat Bank Indonesia maupun kepada pemerintah daerah.

Secara khusus, dia menyampaikan. selama ini Bank Indonesia secara rutin melaksanakan setidaknya 10 survei di Provinsi Bali.

Survei-survei ini diselenggarakan guna memperkuat masukan/rekomendasi Bank Indonesia di daerah sebagai mitra strategis Pemerintah Pusat dan Daerah dalam pembangunan ekonomi provinsi Bali.

10 survei tersebut antara lain : Survei Konsumen (SK), Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU), Survei Penjual Eceran (SPE), Survei Harga Properti Residensial (SHPR) baik Primer maupun Sekunder, Survei Perilaku Wisatawan Mancanegara, Survei Pemantauan Harga (SPH) harian dan mingguan, Survei Properti Komersial, Survei Pedagang Besar, dan tentunya Liaison.

Pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2019 semakin melambat, meskipun ketidakpastian pasar keuangan sedikit mereda pasca kesepakatan dagang AS dan Tiongkok pada Oktober 2019.

Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan 2019 sebesar 3,2% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 2018 yang sebesar 3,6% (yoy).

Perlambatan pertumbuhan terjadi baik di seluruh kawasan. Pertumbuhan ekonomi AS 2019 diperkirakan sebesar 2,3% (yoy), atau lebih rendah dibandingkan tahun 2018 yang sebesar 2,9% (yoy).

Perlambatan juga terjadi di kawasan Eropa, Tiongkok Jepang, dan India.

Perlambatan ekonomi global terutama dipengaruhi oleh berlanjutnya penurunan volume perdagangan akibat ketegangan hubungan dagang AS-Tiongkok serta berkurangnya kegiatan produksi di banyak negara yang mengakibatkan turunnya harga komoditas.

Indeks harga komoditas ekspor Indonesia tercatat menurun dari -2,8 pada tahun 2018 menjadi -4 pada tahun 2019. Berdasarkan komoditasnya, indeks terendah terjadi pada komoditas Aluminium (-13,8), Kopi (-12,8), dan CPO (-8,6).

Ditegaskan Trisno, perekonomian dunia yang belum kondusif memengaruhi pertumbuhan ekonomi domestik.

Diketahui, pertumbuhan ekonomi triwulan II 2019 tercatat 5,05% (yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 5,07% (yoy), dipengaruhi berlanjutnya penurunan kinerja sektor eksternal.

Demikian juga, investasi diperkirakan belum kuat. Pertumbuhan investasi non-bangunan pada triwulan III 2019 diprakirakan belum kuat, dan diprakirakan akan kembali meningkat pada triwulan IV 2019 ditopang dengan kembali meningkatnya keyakinan pelaku usaha.

Sementara itu, pertumbuhan investasi bangunan cukup baik didorong oleh pembangunan proyek strategis nasional.

Untuk Neraca Pembayaran Indonesia triwulan III 2019 diprakirakan tetap baik sehingga menopang ketahanan eksternal. Perkembangan ini didukung surplus transaksi modal dan finansial dalam bentuk PMA dan investasi portofolio.

Arus masuk investasi portofolio pada Juli-Agustus 2019 tercatat 3,5 miliar dolar AS didorong prospek perekonomian nasional yang baik dan daya tarik investasi aset keuangan domestik yang tinggi.

Posisi cadangan devisa Indonesia tetap kuat, yang pada akhir Agustus 2019 tercatat 126,4 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 7,4 bulan impor atau 7,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Ke depan, defisit transaksi berjalan 2019 dan 2020 diprakirakan tetap terkendali dalam kisaran 2,5%–3,0% PDB dan ditopang aliran masuk modal asing yang tetap besar.

Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk meningkatkan ketahanan eksternal, termasuk berupaya mendorong peningkatan PM.

Sementara, stabilitas Sistem Keuangan, pada triwulan III (Juli) 2019, perbankan Bali masih menunjukkan kinerja yang baik. Penyaluran kredit mengalami akselerasi yang didorong oleh peningkatan kredit bank umum.

Untuk oenghimpunan dana mengalami perlambatan. Kualitas kredit secara umum sedikit menurun.

"Secara umum, penurunan kualitas kredit disebabkan oleh peningkatan NPL pada lapangan usaha industri pengolahan, konstruksi, perdagangan serta akomodasi dan makan minum," demikian Trisno. (lif)

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua