menu
search

Ribuan Umat Lintas Agama di Bali Serukan Gema Perdamaian

Minggu, 06 Oktober 2019 : 08.19
Gema Perdamaian ke-17 digelar di Lapangan Niti Mandala Renon, Denpasar dihadiri ribuan umat lintas agama
Denpasar - Ribuan masyarakat dari lintas agama berkumpul guna menyampaikan pesan-pesan cinta kasih dan kedamaian kepada umat manusia di muka bumi dalam kegiatan Gema Perdamaian di Lapangan Niti Mandala, Renon, Denpasar, Sabtu 5 Oktober 2019 malam.

Acara tahunan yang digelar untuk ke-17 kali yang bertepatan dengan HUT TNI ke-74, dihadiri para tokoh masyarakat, agama, budayawan, TNI, Polri, perwakilan negara sahabat hingga anggota DPD RI.

Masyarakat tidak beranjak dari tempat duduk dari awal hingga selesainya acara, guna mengikuti doa-doa bersama hingga menyaksikan berbagai pertunjukkan kesenian dan budaya dari berbagai daerah.

Tampak diantara ribuan undangan, istri Gubernur Bali Ni Putu Putri Suastini Koster, I Made Suryawan, anggota DPD RI Made Mangku Pastika dan Arya Wedakarna, Ida Rsi Wisesanatha, A.A. Putu Agung Suryawan Wiranatha, advokat senior Nikolas Johan Kilikily hingga Wakil Komandan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI Kolonel Aldrin P Mongan.

Dalam kesempatan itu, Kolonel Aldrin yang ditugaskan institusinya untuk hadir di Gema Perdamian mengaku mendapat surprise, karena kegiatan ini sudah digelar ke-17 kalinya.

"Kami melihat acara gema perdamaian ini, sangat sesuai dengan apa yang sudah digariskan dan diharapkan pemerintah kita dan seluruh Indonesia," ujar mantan Danlanud Ngurah Rai dan LOAU Kodam IX/Udayana itu.

Sebagaimana juga para pejabat dan pimpinan bahkan Pangliam TNI, terus mengupayakan prosedur sesuai tugas TNI, untuk terus menjaga keharmonisan dan perdamaian di Tanah Air.

Ditegaskan Aldrin, merupakan amanat konstitusi, TNI ikut memelihara perdamaian dunia yang merupakan dasar dari konstitusi, untuk bertugas dalam misi perdamaian dunia. Hal itu juga termaktub dalam UU No 34 Tahun 2004 tentang TNI, didalamnya ada tugas memelihara perdamaian dunia.

PMPP TNI sendiri kata Aldrin, diperkuat UU Hubungan Luar Negeri (Hublu) NO 37 Tahun 1999, juga mengirimkan pasukan berdasarkan Keppres atas sepertujuan DPR. Hal itu merupakan benang merah yang terus dikerjakan, karena itu sudah digariskan konstitusi.

"Acara Gema Perdamaian di Bali ini, menurut hemat kami, merupakan momen yang harus terus dijaga, menjaga harmonisasi, menjaga semakin utuhnya Indonesia," tutur Aldrin yang mantan Danlanud Pattimura.

Dengan damai, sambung dia, sama-sama menyadari mahalnya perdamaian yang sangat penting untuk kelangsungan bangsa sehingga tentunya bisa menjaga keharmonisan. Diharapkan, Indonesia akan tumbuh terus jalan maju dan berkembang selamanya.

"Gema Perdamaian ini wujud, ide kegiatan yang luar biasa, yang terus dilaksanakan dikembangkan sudah ke-17, setahun sekali," tambahnya.

Menariknya, kegiatan ini merupakan swadaya masyarakat. Semua bergotong royong, sukarela sehingga nilai-nilai Keindonesiaan sangat kuat ditunjukkan dalam Gema Perdamaian.

Pada bagian lain, Aldrin menyampaikan, sebagai rakyat, tentunya TNI berasal dari rakyat dengan karakter sama, pasukan perdamaian juga dipersiapkan sebagai duta-duta luar negeri.

Mereka membawa bendera Merah Putih dan menjadi representasi karakter dan budaya Indonesia dan sangat diterima dengan baik, dalam misi perdamaian di berbagai negara.

Hal itu menjadi bukti bahwa TNI itu rakyat dan memiliki karakter sama, terus menjaga harmonisasi budaya yang memang dimiliki Bangsa Indonesia.

"Mudah-mudahan Gema Perdamian ini terus dilestarikan, diambil nilai-nilai yang diperlukan untuk menjaga keutuhan persatuan kesatuan kelangsungan Bangsa Indonesia," demikian Aldrin. (rhm)

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua