menu
search

Kemenkes: Sejak 2018, Kecenderungan Masyarakat Manfaatkan Pengobatan Tradisional Meningkat

Kamis, 03 Oktober 2019 : 08.57
Gubernur Bali Wayan Koster dan Direktur Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI Ina Rosalina membuka secara resmi Layanan Unggulan Kesehatan Tradisional Integrasi (Yankestrad) di RS Umum Bangli
Bangli - Direktur Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI Ina Rosalina mengungkapkan kecenderungan masyarakat memanfaatkan pengobatan tradisional dari tahun 2018 terus meningkat hampir 50%.

Karena itu, pengembangan layanan kesehatan masyarakat cara tradisional harus didukung. Hanya saja, harus tetap dintegrasikan dengan layanan kesehatan konvensional.

"Cara pengobatan tradisional yang sudah berlangsung turun temurun di lingkungan masyarakat adalah inovasi yang bisa dibangun di Indonesia," tuturnya membuka secara resmi Layanan Unggulan Kesehatan Tradisional Integrasi (Yankestrad) di RS Umum Bangli, Rabu (2/10/2019).

Dikatakan Rosalina, masing-masing daerah tentu memiliki potensi yang berbeda-beda sesuai sistem pengobatan tradisional yang dimiliki. "Namun harus tetap mengikuti aturan yang ada, harus berbasis bukti yang menyembuhkan," katanya menegaskan.

Sementara itu, Pemprov Bali mulai mengembangkan Pusat Pengolahan Pasca Panen Tanaman Obat (P4TO) di 3 Kabupaten di Bali yakni Bangli, Karangasem dan Tabanan.

Bali banyak memiliki kearifan lokal khususnya sastra maupun lontar yang khusus mengulas pengobatan tradisional, namun dari segi teknik belum dikembangkan sesuai kebutuhan masa kini di bidang kesehatan, serta terdapat berbagai tanaman obat yang belum diberdayakan untuk menunjang peningkatan ekonomi masyarakat.

Gubernur Wayan Koster menegaskan, melalui visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang salah satunya mendukung pengembangan sistem pengobatan tradisional, maka Pemprov Bali mulai mengembangkan Pusat Pengolahan Pasca Panen Tanaman Obat (P4TO) di 3 Kabupaten di Bali yakni Bangli, Karangasem dan Tabanan.

Selain pengobatan konvensional, pihaknya mendukung sistem pengobatan tradisional Bali secara menyeluruh. Karena Bali memiliki banyak kearifan lokal yang diciptakan para leluhur berupa usadha Bali yang saat ini sedang digali untuk dikembangkan.

Begitu pula untuk bahan bakunya yang bisa diolah untuk bahan obat tradisional yang banyak tersedia di sekitar kita.

"Saat ini sudah dibangun pengembangan kawasan tanaman obat tradisional dan P4TO yakni di Kabupaten Bangli di Pengootan,Tabanan di Baturiti, dan Karangasem di Nongan, dan sudah jalan. Di sana akan dikembangkan industri obat herbal," terang Gubernur Koster.

Dukungan terhadap sistem pengobatan tradisional tak lepas dari pengalaman pribadinya yang dituturkan secara terbuka dihadapan para peserta, dan berhasil sembuh berkat bantuan pengobatan tradisional berupa loloh yang resepnya diperoleh dari seorang sulinggih praktisi pengobatan tradisional.

Diciptakan para leluhur, tentu sudah terbukti. Jika ini dikembangkan tentu akan berguna bagi dunia pengobatan, lama-lama orang akan beralih ke teknik pengobatan tradisional.

"Karena pengobatan tradisional itu umumnya lebih murah, alami, berkhasiat dan tanpa efek samping," sambung Koster

Pengembangan pengobatan tradisional saat ini di Bali lanjut Gubernur Koster juga melibatkan Universitas Udayana dan UNHI untuk melakukan riset dan pengembangn bahan obat-obatan tradisional.

Pihaknya terus mengembangkan ini, dengan menggandeng UNUD dan UNHI untuk melakukan riset, bahkan saat ini sudah didaftarkan agar mendapatkan HAKI. (rhm)

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua