menu
search

Imunisasi Mencegah Kematian Usia Anak Mulai TBC Hingga Kanker Serviks

Sabtu, 05 Oktober 2019 : 10.48
Ilustrasi/infopublik
Jakarta - Imunisasi berdampak langsung dan tidak langsung dalam kematian karena bisa mencegah dua hingga tiga kematian yang disebabkan oleh TBC berat, difteri, pertusis (batuk 100 hari), tetanus, polio, campak, rubella, hingga kanker serviks.

Direktur Surveilans dan Karantina Kementerian Kesehatan Drg. Vensya Sitohang M. Epid mengungkapkan hal itu dalam diskusi Menakar Peran Media dalam Pemenuhan Hak Anak di Jakarta, Jumat (4/10/2019).

Diskusi ini menampilkan pembicara Drg. Vensya Sitohang M.Epid (Direktur Surveilans dan Karantina Kementerian Kesehatan), Abdul Manan (Ketua AJI Indonesia), Dr. Paul Pronyk (Kepala Unit Kesehatan Anak UNICEF Indonesia), dan Arie Rukmantara (Kepala Perwakilan UNICEF untuk Wilayah Jawa).

Diskusi dilaksanakan untuk menandai dimulainya program kemitraan antara AJI dan UNICEF Indonesia untuk meningkatkan kapasitas wartawan dalam peliputan dan penulisan berita mengenai anak-anak.

Fokus isu tahun ini adalah Imunisasi. Aliansi Jurnalis Independen dan UNICEF Indonesia sepakat bahwa mendukung hak-hak anak harus menjadi komitmen semua pihak, termasuk media

Dalam diskusi tersebut, drg.Vensya Sitohang M.Epid menjelaskan anak-anak yang diberikan imunisasi tumbuh dengan kekebalan tubuh yang jauh lebih baik. "Semakin banyak anak yang diimunisasi semakin banyak yang terhindar dari kematian," ujarnya.

Vensya mengatakan anak memiliki hak mendapatkan hidup yang sehat dan layak, termasuk mendapat imunisasi untuk kekebalan tubuhnya. Meski hari ini tak semua anak berhasil mendapat imunisasi, tapi pemerintah telah berkomitmen untuk menjangkau mayoritas anak untuk mendapatkan haknya dalam kesehatan.

Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Abdul Manan memaparkan, media memiliki peran yang sangat besar dalam pemenuhan hak-hak anak. Menurutnya, sangat penting bagi sebuah media untuk memastikan berita yang ia buat akurat. Terutama jika berita tersebut tentang anak.

Jika menuliskan sebuah berita tentang anak, maka media harus memastikan, apakah berita tersebut bisa detil atau sebaiknya general. "Tidak peduli seberapa dramatisnya sebuah peristiwa, maka ketika ingin memberitakan, redaksi harus punya persepsi yang jelas lebih dulu," tutur Abdul Manan.

Dia menekankan, pers harus mengabdi pada kepentingan publik. Jurnalisme harus membuat hal yang penting menjadi menarik dan relevan. Media memang tak bisa menghindari hal dan isu yang kontroversial, tapi media wajib mengambil peran untuk bersuara demi kepentingan publik.

Imunisasi adalah alat intervensi kesehatan yang paling efektif karena berkat imunisasi, harapan hidup masyarakat meningkat dan bisa menjalani hidup dengan produktif.

Indonesia adalah 1 dari 4 negara di dunia yang menjadi prioritas imunisasi. Pada 2017-2018, pemerintah melaksanakan kampanye imunisasi campak rubella (MR).

Saat itu, peran media sangat kuat dalam menyebarkan informasi mengenai kampanye ini yang pada akhirnya berpengaruh pada cakupan. Banyak sekali yang bisa dilakukan wartawan dan media. Dia berharap pada komitmen media untuk menulis berita yang kredibel dan akurat.

"Kami sangat membutuhkan bantuan teman-teman untuk meyakinkan politisi, masyarakat dan semua pihak tentang pentingnya imunisasi,” kata Kepala Unit Kesehatan Anak UNICEF Indonesia, Dr. Paul Pronyk. Ia menambahkan pentingnya membangun wacana positif mengenai imunisasi.

Resistensi terhadap imunisasi bukan hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di Eropa dan Amerika. Status bebas penyakit di beberapa negara di Eropa dan Amerika bahkan terancam dicabut karena terjadinya wabah berbagai penyakit yang bisa dicegah seperti campak dan rubella.

Kondisi sekarang, menurut Pronyk bahkan menjadi lebih buruk dibanding 20 tahun lalu. Karena sekarang banyak orang tua yang percaya bahwa vaksin bikin anak mereka sakit sehingga menolak imunisasi.

Di Indonesia, ujar Pronyk, luasnya penggunaan media sosial, membuat berita buruk menyebar lebih cepat dibanding berita benar. Itu sebabnya bantuan media dibutuhkan agar berita buruk tak menyebar dengan cepat.

Saat ini, kebanyakan editorial media cenderung padat dengan berita politik sehingga topik-topik seperti kesehatan dan anak menjadi terpinggirkan.

“Momen ini sangat tepat untuk kembali mengingatkan media agar berkomitmen terhadap isu-isu anak karena pada November nanti, dunia akan memperingati 30 Tahun Konvensi Hak Anak,” ujar Arie Rukmantara, Kepala Perwakilan UNICEF untuk Wilayah Jawa.

Fakta saat ini imunisasi adalah intervensi tentang kesehatan yang paling kompleks, paling rumit dan masif. Upaya memberikan nilai atau valuasi dalam upaya intervensi adalah dengan kuantitatif atau angka.

Menurut Ari, dengan mengambil peran sebagai suara publik, maka jurnalis bukan hanya memberikan informasi yang tepat, tapi juga menyelamatkan. Terkait kerja sama, AJI dengan dukungan UNICEF akan menyelenggarakan workshop untuk jurnalis tentang hak-hak anak dengan fokus khusus tentang imunisasi.

Workshop akan dibuka untuk semua wartawan di Indonesia ini akan diselenggarakan di dua kota, masing masing untuk jurnalis di wilayah barat dan timur Indonesia. Pemisahan ini dilakukan karena tantangan yang dihadapi di kedua wilayah berbeda. Pelaksanaan di wilayah barat diperkirakan akan dilaksanakan pada bulan November.

Sedangkan pelaksanaan untuk wilayah Timur akan dilaksanakan pada bulan Desember. Sebagai tindak lanjut AJI juga akan menyelenggarakan penghargaan karya jurnalistik isu anak. Pendaftaran kedua kegiatan tersebut akan disegera dipublikasikan melalui website AJI. (rhm)

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua