Edukasi Kesehatan Reproduksi, Pers Diharapkan Kembangkan Jurnalis Empati

Selasa, 29 Oktober 2019 : 21.56
Pembentukan Komunitas Jurnalis Kespro Bali (JKB)/ist
Denpasar - Pers diharapkan memiliki tanggungjawab dalam mengedukasi masyarakat terkait kesehatan reproduksi termasuk juga mengembangkan jurnalis empati yang memiliki kepedulian terhadap korban tindak kekerasan seksual.

Perlindungan generasi remaja dari ancaman tindak pelecehan seksual (sexual abuse/ sexual harassment), perilaku seksual beresiko hingga kehamilan yang tidak dikehendaki di kalangan remaja, bukan hanya menjadi tanggung jawab satu pihak saja.

Tidak hanya tanggung jawab pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), atau praktisi kesehatan, akan tapi ini merupakan tanggung jawab semua pihak, tak terkecuali kalangan jurnalis.

"Media memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya memberikan edukasi kepada masyarakat khususnya terkait hal-hal yang berkaitan tentang Kesehatan Reproduksi (Kespro) melalui karya-karya jurnalistik," tutur Koordinator Komunitas JKB, I Nyoman Sukadana usai menggelar Media Briefing Media terkait "Harmonisasi Program Keluarga Berencana Untuk Kesejahteraan Indonesia" dan training Kespro, dan jurnalisme empati, di Grand Santhi Hotel, Denpasar Senin-Selasa, 27-28 Oktober 2019.

Hal tersebut kemudian melatarbelakangi dibentuknya Komunitas Jurnalis Kespro Bali (Komunitas JKB). Sukadana mengatakan, komunitas dibentuk atas inisiasi Perkumpulan Keluarga Berencana (PKBI) Bali bersama sejumlah jurnalis Bali usai menggelar kegiatan tersebut.

Komunitas ini terbentuk atas kesamaan pemikiran dan visi kita (PKBI dan Jurnalis) dalam memandang problematika yang dihadapi remaja kita di Bali, khususnya yang berkaitan dengan pemahaman terkait perilaku seksual yang beresiko dan kesehatan reproduksi khususnya generasi remaja.

Jurnalis baik sengaja atau tidak seringkali menggunakan diksi-diksi yang justru semakin mendiskreditkan korban kekerasan seksual. "Misalnya penggunaan diksi yang kurang tepat dalam menuliskan pemberitaan terkait masalah-masalah yang sensitif terhadap gender atau seksualitas," papar Menot, sapannya.

Menot berharap melalui komunitas ini jurnalis Bali bisa mengambil peran yang lebih aktif lagi dalam memberikan edukasi Kespro kepada remaja.

"Kami juga sekaligus mengedukasi ke dalam, ke diri kita masing-masing selaku pembuat berita agar dapat lebih tepat dalam penggunaan diksi dan lebih ramah serta empati kepada pihak yang menjadi objek pemberitaan kita," sebutnya.

Dalam kesempatan sama, Direktur PKBI Bali, I Komang Sutrisna menyambut baik terbentuknya Komunitas JKB ini.

Sebagai LSM yang salah satu fokusnya memberikan edukasi Kespro kepada kalangan remaja menganggap kehadiran Komunitas JKB ini sebagai aliansi baru yang akan dapat memperkuat upaya pencegahan ancaman dari ketidak-pahaman Kespro bagi remaja.

Pihaknya menyambut baik, semangat dan kepedulian jurnalis dalam permasalahan ini. "Kehadiran Komunitas KJB menjadi tambahan kekuatan baru, tentu (PKBI) sangat terbuka dan siap bekerjasama dan bersinergi," demikian Sutrisno. (rhm)

Rekomendasi