menu
search

Dinas PU Brebes Belajar Tata Guna Air Subak di Tabanan

Kamis, 31 Oktober 2019 : 21.21
Kepala Desa Kukuh I Made Sugianto (kiri) saat menjelaskan tata guna air di Subak Jaka kepada rombongan Dinas PU Brebes
TABANAN - Rombongan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Brebes, Jawa Tengah melakukan studi orientasi tata guna air berkunjung ke Subak Jaka, Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan, Bali, Kamis (31/10/2019).

Rombongan yang dipimpin Kadis PU Brebes, Agus Asari tersebut diterima Perbekel (Kepala Desa) Desa Kukuh I Made Sugianto dan Pekaseh Subak Jaka Jro Mangku Wayan Yusa.

Selanjutnya, rombongan juga meninjau persawahan dan lokasi pembuatan saluran irigasi Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) yang ada di Subak Jaka.

Perbekel Made Sugianto menjelaskan, di Desa Kukuh ada empat subak yakni Subak Jaka, Subak Saih, Subak Dukuh, dan Subak Delod Kukuh. Luas lahan pertanian di Desa Kukuh 200 hektare lebih, sementara luas desa 350,12 hektare.

Disebutkan, pada tahun 2018, Subak Jaka mendapat bantuan perbaikan saluran irigasi P3-TGAI Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. pada tahun 2019 Desa Kukuh kembali mendapatkan perbaikan saluran irigasi melalui P3-TGAI. Lokasinya juga di Subak Jaka.

"Pada Februari 2018, Presiden Joko Widodo bersama Menteri PUPR Basuki Hadimuljono meninjau langsung pengerjaan saluran irigasi dengan sistem padat karya tunai," katanya.

Ditambahkan, khusus di Subak Jaka saat ini ada dua pola tanam padi yakni secara konvensional dan ramah lingkungan. Pertanian ramah lingkungan yakni para petani berkomitmen tanpa menggunakan pupuk kimia.

Para petani menggunakan pupuk padat buatan sendiri dan pupuk cair dengan memanfaatkan urine sapi. Gabah pertanian ramah lingkungan dibeli oleh Perpadi dengan harga Rp 6.000 per kilogram.

Sedangkan gabah pertanian konvensional seharga Rp 3.800 per kilogram kering panen. Pekaseh Subak Jaka, Jro Mangku Wayan Yusa menambahkan, petani Subak Jaka menerapkan pola tanam padi-padi-padi.

“Kami tak tanam palawija karena kepemilikan lahan tidak terlalu luas. Palawija saat panen harganya tak bersahabat. Makanya kami monoton tanam padi karena kebutuhan air juga mencukupi,” ujarnya.

Menurut Wayan Yusa, dalam mengelola air di saat musim kering seperti saat ini, subak mengatur sistem giliran air. Sehingga semua petak sawah petani teraliri air.

“Di saat musim kering seperti sekarang ini kami masih bisa tanam padi. Kami mengandalkan air permukaan," katanya sambil menambahkan. Anggota Subak Jaka juga intens diajak bergotong royong membersihkan saluran irigasi agar air lancar mengalir ke sawah petani.

Sementara Kepala Dinas PU Brebes, Agus Asari menyampaikan terima kasih atas sambutan dan kesempatan studi orientasi di Subak Jaka.

Dikatakan, antara Brebes dan Bali ada kesamaan namun hanya beda nama. Jika di Bali dikenal subak, di Brebes kelompok tani disebut Perhimpunan Petani Pemakai Air (P3A). "Proses kerjanya juga sama, hanya sistem adat jadi pembeda," katanya. (gus)

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua