menu
search

Sucikan Kawasan DTW Tanah Lot, Manajemen Gelar Upacara Pecaruan

Sabtu, 14 September 2019 : 11.43
Upacara pecaruan dan penyucian kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Tanah Lot, Tabanan, Bali
TABANAN - Menindaklanjuti musibah meninggalnya dua orang pemancing yang terseret gelombang tinggi di Pantai tanah Lot beberapa waktu yang lalu, Manajemen Daya Tarik Wisata (DTW) Tanah Lot, Tabanan, Bali menggelar prosesi Pecaruan dan Penyucian Kawasan, Kamis (12/9/2019) bertepatan dengan penanggalan Bali, Wraspati (Kamis) Kliwon Merakih.

Manager Operasional DTW Tanah Lot I Ketut Toya Adnyana mengatakan upacara tersebut diharapkan dapat memberikan kerahayuan jagat sekaligus mentralisir dan membersihkan kawasan DTW Tanah Lot dari segala unsur negatif.

"Dasar dan tujuan upacara pecaruan untuk kembali menyucikan kawasan. Rangkaian prosesi upacara dipuput langsung oleh Jro Mangku Gede Pura Luhur Tanah Lot, Mangku Semudra," paparnya saat ditemui, Sabtu (14/9/2019) pagi.

Menurut Toya Adnyana, upacara tidak hanya dilakukan di lokasi kejadian atau di belakang Pura Enjung Galuh, tapi juga dihaturkan di sebelah Pengayatan Pura Tanah Lot karena kondisi air laut sedang pasang.

“Saat kami gelar upacara Pecaruan untuk penyucian kawasan, kami lakukan di bawah atau sebelah Pengayatan, karena kondisi air pasang,” katanya sambil menambahkan sarana pecaruannya menggunakan caru panca sanak jangkep.

Disebutkan, lokasi terjadinya musibahy yang dialami dua pemancing tepatnya berada di belakang Pura Enjung Galuh yang selama ini memang kerap menjadi incaran para pemancing karena lokasinya sangat strategis dan kebetulan pada hari-hari tertentu memang banyak bermunculan ikan yang pada musim-musim tertentu.

"Padahal kawasan tersebut sudah dipasang pintu besi dan terkunci, namun kerap dibuka paksa pengunjung. Pemancing pun terkadang mengabaikan keselamatan hanya untuk bisa mendapatkan lokasi strategis mendapatkan tangkapan," katanya berterus-terang.

Menurut Toya Adnyana, untuk pemantauan wisatawan dari pagi sampai sore masih bisa dlakukan dengan personil di lapangan seperti humas, recreation, lifeguard hingga pecalang.

Disebutkan, jika ada wisatawan melewati areal yang dilarang langsung kita berikan himbauan untuk selalu mematuhi aturan untuk menghindari peristiwa yang tidak kita inginkan.

"Tapi kalau pemancing biasanya mereka datang malam jadi tidak bisa efektif terpantau,” ujarnya.

Terkait hal itu, untuk menghindari adanya kejadian serupa, pengamanan di areal berbahaya sudah kembali diperketat. Bahkan kunci sejumlah pintu larangan yang awalnya hilang karena dirusak oknum warga sudah diperbaiki kembali.

“Kami hanya berharap, baik pengunjung ataupun masyarakat setempat bisa tetap mentaati aturan atau larangan untuk keselamatan masing-masing,” pungkasnya. (gus)

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua