PHRI: Taksi Online Tingkatkan Pertumbuhan Sektor Pariwisata di Bali

Jumat, 27 September 2019 : 10.42
ilustrasi/Kominfo.go.id
Denpasar - Perekonomian Bali yang dikenal sebagai daerah tujuan pariwisata terus bertumbuh yang salah satunya merupakan kontribusi dari kehadiran taksi online.

Keberadaan taksi online makin dirasakan masyarakat sehingga berkontribusi positif dalam memutar perekonomian di Bali. Tak heran jika kepopuleran taksi online bukan tidak mungkin akan mengalahkan taksi offline.

Ketua Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) Badung, Rai Suryawijaya mengungkapkan, taksi online sedang menanjak bahkan tidak menutup kemungkinan bisa mengalahkan taksi offline, karena sudah dikenal oleh wisatawan domestik /wisatawan asing.

"Taksi online memiliki kecepatan waktu,ketepatan dan harga bersaing. Di era revolusi industri 4.0, yang cepat akan mengalahkan yang lambat,” kata Rai dalam keterangannya, Kamis 26 September 2019.

Kini, untuk menciptakan persaingan yang sehat antara taksi online dan taksi offline, pemerintah Bali sedang merancang Rancangan Peraturan Gubernur (Rapergub). Kebijakan tersebut merupakan kewenangan pemerintah provinsi yang bertujuan menjaga keadaan tetap kondusif.

"Persaingan bisnis dan kenyaman berusaha itu tentu perlu diatur ,apalagi Bali merupakan tujuan wisata dunia," kata Rai menegaskan.

Karenanya, nanti yang menjemput wisatawan di Bali harus punya keterampilan, punya keahlian khusus, pakaian yang sopan dan minimal bisa berbahasa Inggris. Jangan sampai menjatuhkan image Bali sebagai daerah tujuan wisatawan.

Sepengetahunya, karena taksi online itu mereka yang mendaftar, kemudian baru bisa mendapat jadi member.

"Jadi, untuk menangani wisatawan tentu ada kita buat aturannya, yang menjemput ke airport, anter ke hotel dan bisa menerangkan, terus pakaian yang sopan, bahkan bila perlu nantikan pakaian adat ya, mobilnya pun berbeda," tuturnya.

Kata Rai, kewenangan standarisasi yang akan diatur dalam Rapergub ini, untuk mengatur bagaimana pelayanan lebih baik. Dia menilai kehadiran taksi online di Bali cukup membantu.

Hanya saja soal pro dan kontra terhadap taksi offline sudah sampai ke pemerintah sehingga, aturan harus diterapkan. Setelah ada pro dan kontra sampai ke pemerintah, tentunya harus dibuat dahulu aturannya seperti apa.

Apa yang boleh dan tidak dilakukan. Dan standarisasi harus diikuti baik taksi offline maupun online. Harus diatur untuk menciptakan konsumtifitas daripada persaingan bisnis lebih sehat.

“Kalau sudah memenuhi standarisasi why not,mereka kan sudah legal, sudah ikuti peraturannya. Dan everybody can be online driver, kan gak ada masalah. Yang cepat akan mengalahkan yang lambat,” tuturnya.

Terkait larangan penjemputan di hotel oleh taksi online, Rai menerangkan bahwa itu merupakan kewenangan manajemen hotel. Pihak hotel bisa saja telah bekerja sama dengan komunitas taksi lokal. Sehingga, taksi online tidak dapat masuk ke dalam hotel tersebut.

Dia menilai wajar dan sah sah saja Kalau ada larangan beberapa hotel untuk menjemput tamunya karena mungkin sudah melakukan kerja sama dengan pihak taksi lokal yang notabene adalah orang-orang di sekitar hotel.

"Tapi kalau tamunya dijemput di jalan umum kan bisa saja,” tutupnya. (rhm)

Rekomendasi