menu
search

Kelola Sampah dari Hulu ke Hilir, Pemprov Bali Belajari dari Surabaya

Kamis, 19 September 2019 : 05.44
Surabaya - Pemerintah Provinsi Bali belajar dari pengelolaan sampah di Kota Surabaya guna memperdalam penanganan sampah yang holistik mulai dari hulu sampai ke hilir.

Pengelolaan sampah masih menjadi salah satu persoalan yang harus diselesaikan Pemerintah Provinsi Bali, dalam mewujudkan Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang digaungkan Gubernur Bali Wayan Koster.

Meski telah menerbitkan Pergub 97 Tahun 2018 yang mengatur pembatasan timbulan sampah plastik sekali pakai namun regulasi baru belum mengurangi jumlah sampah plastik.

Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Bali menyebutkan jumlah timbulan sampah plastik di TPA regional sarbagita pada bulan Maret 2019 sebesar 1400 ton atau mengalami penurunan hingga 50 persen dari 2880 ton sebelum Pergub dikeluarkan.

Pengurangan ini salah satunya berasal dari tiada lagi kantong plastik di toko modern yang sebelumnya mencapai 8.760 kg pada Desember 2018.

Gerakan Semesta Berencana Bali Resik Sampah Plastik yang melibatkan berbagai komponen masyarakat yang ada di Bali berhasil membersihkan sampah anorganik dari lingkungan sebanyak 462.000 kg se Bali.

Kebijakan ini tentu saja baru sebagian dari rencana Gubernur Bali Wayan Koster untuk menyelesaikan permasalahan sampah di Bali. Gubernur asal Desa Sembiran ini telah merancang upaya penanganan sampah yang holistik mulai dari hulu sampai ke hilir.

Sebagai salah satu langkah untuk mendukung rencana gubernur, Pemerintah Provinsi Bali mengajak awak media melihat bagaimana penanganan sampah di Kota Surabaya. Kota Surabaya diketahui mendapat banyak pengakuan karena upaya pengelolaan sampahnya yang sudah baik.

Asisten Administrasi Umum I Wayan Suarjana didampingi Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali A.A Oka Sutha Diana memimpin rombongan melihat beberapa lokasi terkait pengelolaan sampah di Surabaya, Selasa (17/9) dan Rabu (18/9).

Lokasi yang dikunjungi Pusat Daur Ulang Jambangan. Di lokasi yang mulai beroperasi tahun 2016 ini sampah organik dan anorganik yang dikumpulkan dari seluruh kelurahan Jambangan dipilah dan diolah menjadi pupuk organik.

Bermodalkan 25 gerobak sampah, PDU Jambangan mengumpulkan sampah sebanyak 5-6 ton. Pengawas PDU Jambangan Hadi Waskito mengatakan, fasilitas ini bisa mengurangi sekitar 50 persen sampah yang dibawa ke TPA.

“Jadi 2,5 sampai tiga ton kita olah disini menjadi [pupuk-red] organik,” kata Waskito.

Ia menambahkan, kompos dihasilkan PDU Jambangan didistribusikan ke seluruh taman-taman yang ada di Surabaya. Selain itu masyarakat ber-KTP Surabaya boleh mengambil secara gratis, termasuk instansi pemerintah seperti kelurahan, kecamatan, puskesmas dan sekolah.

Kelebihan PDU Jambangan, penggunaan larva lalat tentara hitam untuk mempercepat proses pengomposan. Selain bisa digunakan sebagai kompos, larva lalat tentara hitam juga punya nilai tambah lain sebagai pakan ternak.

Kelebihan lainnya adalah fasilitas ini juga dilengkapi dengan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) mini yang bisa menghasilkan listrik 4000 Watt yang cukup untuk kebutuhan operasional PDU Jambangan.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah Andhini Kusumawardani Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau Kota Surabaya Andhini mengatakan fasilitas TPST-3R seperti ini sudah ada tiga di Surabaya, yakni di Jambangan, Sutorejo dan Tambak Oso Wilangun.

“Yang di Sutorejo bantuan dari Kitakyushu, yang ini bantuan dari KLHK dan di Tambak Oso kami bikin sendiri,” kata Andhini. Karena kesuksesannya, Pemkot Surabaya tahun ini membuat lima lagi yang direncanakan bisa beroperasi tahun 2020.

Dari pengalaman di Tambak Oso Wilangun, Andhini mengatakan anggaran yang diperlukan untuk membuat satu TPST-3R sebesar 2 milyar rupiah.

Asisten Administrasi Umum Sekda Provinsi Bali Wayan Suarjana mengaku banyak belajar dari kunjungan ke Surabaya. Salah satunya mengenai komitmen pemerintah yang kuat untuk mengatasi persoalan sampah di Kota Surabaya.

keberhasilan kota Surabaya tidak lepas dari perubahan pola pikir dalam mengelola sampah. Menurutnya dengan kunjungan ini Bali memiliki gambaran pengelolaan sampah yang bisa saja diimplementasikan di Bali.

“Kebetulan di Bali dengan visi misinya bapak Gubernur Nangun Sat Kerthi Loka Bali salah satunya adalah bagaimana menjaga keseimbangan alam Bali yang bersih sekala lan niskala salah satunya adalah membersihkan sampah menjadi yang berguna,” kata Suarjana.

Pihaknya belajar banyak dari kunjungan ke TPA Benowo. “Ini adalah sebuah bekal yang baik bagi kita khususnya Bali karena disini menurut saya sudah berhasil dari tidak ada menjadi ada,” ujar mantan Sekwan Provinsi Bali ini.

Keberhasilan Pemkot tidak lepas dari perubahan pola pikir dalam mengelola sampah. Menurutnya dengan kunjungan ini Bali memiliki gambaran pengelolaan sampah yang bisa diimplementasikan di Bali.

“Kebetulan di Bali dengan visi misinya bapak Gubernur Nangun Sat Kerthi Loka Bali salah satunya adalah bagaimana menjaga keseimbangan alam Bali yang bersih sekala lan niskala salah satunya adalah membersihkan sampah menjadi yang berguna,” kata Suarjana.

Pihaknya optimis, kunjungan ini akan bermanfaat untuk pengelolaan sampah dari tingkat hulu di Provinsi Bali.

Rombongan media selain mengunjungi TPST-3R, Command Center 112 Surabaya dan TPA Benowo. Dengan banyaknya CCTV dan kanal yang dipantau Command Center bisa mengawasi berbagai permasalahan yang terjadi di Kota Surabaya termasuk persoalan sampah. (riz)

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua