Indonesia dan Malaysia Terus Perkuat Kerja Sama Kelautan dan Perikanan

Kamis, 05 September 2019 : 17.18
Kepala BRSDM Sjarief Widjaja mendampingi Menteri Pertanian dan Industri Asas Tani Malaysia meninjau fasilitas riset BBRBLPP Gondol berupa hatchery Abalon, Teripang, kerapu dan tuna sirip kuning.
Buleleng - Indonesia siap memperkuat kerja sama kelautan dan perikanan dengan Malaysia yang selama ini sudah terjalin cukup baik.

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Sjarief Widjaja, saat mewakili Menteri Kelautan dan Perikanan menerima kunjungan kerja Menteri Pertanian dan Industri Asas Tani Malaysia, Dato Salahuddin Bin Ayub, di Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan (BBRBLPP), Gondol, Buleleng Bali, Rabu 4 September 2019.

"Hubungan diplomatik dan ekonomi antara Indonesia dan Malaysia telah berjalan dengan baik, kita tentunya sama – sama berharap bahwa hubungan bilateral yang baik ini dapat terus berlanjut,” tutur Sjarief.

Kerja sama yang sudah terjalin baik seperti dalam hal pemberantasan Illegal, unreported, unregulated (IUU) fishing. Upaya Indonesia dalam memberantas IUU Fishing yang telah membuahkan hasil positif.

Hal itu dibuktikan kenaikan stok ikan dari 7,3 juta ton di tahun 2013 ke 12,54 juta ton di tahun 2017, peningkatan konsumsi ikan per kapita dari 33,89 kg/kapita pada tahun 2012 menjadi 46,49 kg/kapita di tahun 2017, serta kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB) yang selalu berada di atas PDB nasional sejak tahun 2014.

Diharapkan, kerja sama bilateral Indonesia dan Malaysia bidang kelautan dan perikanan terkait pemberantasan IUU Fishing dapat semakin diperkuat. Dia menekankan, pentingnya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, melalui kerja sama pengembangan SDM antara Indonesia dengan Malaysia.

"Kerja sama peningkatan kapasitas dan kompetensi sumber daya manusia ini akan menjadi semakin penting dalam menghadapai tantangan dan meraih peluang investasi di bidang kelautan dan perikanan,” tutur Sjarief.

Pihaknya mengapresiasi Malaysia atas investasi yang sudah dilakukan di Indonesia. Perusahaan yang telah berinvestasi dapat lebih meningkatkan peran serta perusahaan lokal.

"Kami juga mengundang Anda semua untuk memanfaatkan kesempatan berharga pada kunjungan ke Indonesia kali ini untuk terus menggali peluang investasi kelautan dan perikanan,” terangnya.

Pertemuan ini merupakan kunjungan balasan setelah sebelumnya Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, pada 10 Juli 2019, mengunjungi Parlemen Malaysia dan melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Dalam Negeri Malaysia dan Menteri Pertanian dan Industri Asas Tani Malaysia.

Dalam kunker tersebut, membuahkan kesepakatan akan perlunya kerjasama bilateral di bidang kelautan dan perikanan dalam bentuk Joint Communique dan MOU.

Menteri Pertanian dan Industri Asas Tani Malaysia, Dato Salahuddin bin Ayub, menyatakan pihaknya terbuka untuk menandatangani dokumen kerja sama bilateral.

Di akhir kunjungannya, Kepala BRSDM mendampingi Menteri Pertanian dan Industri Asas Tani Malaysia meninjau fasilitas riset BBRBLPP Gondol berupa hatchery Abalon, Teripang, kerapu dan tuna sirip kuning.

Ini merupakan kunjungan pertama Menteri Pertanian dan Industri Asas Tani Malaysia ke BBRBLPP yang merupakan satuan kerja (satker) BRSDM.

BBRBLPP adalah satu-satunya lembaga penelitian yang memiliki tugas utama Riset dan Penyuluhan yang melakukan penelitian strategis dan pengembangan teknologi budidaya laut, terutama untuk ikan laut, invertebrates dan moluska bernilai tinggi di Indonesia.

Pada 2019, BBRBLPP memiliki fokus riset pada 5 species perikanan laut yaitu ikan kerapu sunu (Leopard Grouper), ikan kakap (Barramundi), Abalone, teripang (Gamat) dan ikan tuna (yellow-fin tuna).

Untuk bandeng (milkfish) BBRBLPP tidak melakukan penelitian induk lagi tetapi teknologi perbenihan telah disebarluaskan kepada pengguna (users).

BBRBLPP sukses menghasilkan teknologi budidaya ikan, seperti teknik pembenihan, pendederan dan pembesaran, nutrisi untuk ikan budidaya, pathology dan pencegahannya untuk spesies budidaya laut, dan bahkan karakter genetik terbaik untuk mendukung industri budidaya ikan. (rhm)

Rekomendasi