Terancam Punah, Ratusan Jalak Bali Dilepasliarkan ke Habitat

Kamis, 22 Agustus 2019 : 20.03
Jalak Bali yang dikembangkan di Bali Safari Park, Gianyar
Gianyar - Hingga kini ratusan Curik Bali berhasil dikembangbiakkan di Bali Safari Park, lalu dilepasliarkan ke habitat aslinya. Bali memiliki kekayaan satwa memukau, seperti Bali Myna atau Jalak Bali atau Curik Bali.

Bali Safari Park lantas bergerak cepat demi menyelamatkan populasi Curik Bali.

Hasilnya, jumlah burung berbulu putih bersih dengan ujung ekor dan sayap berwarna hitam ini bertambah perlahan-lahan, dan ratusan Curik Bali berhasil dikembangbiakkan di Bali Safari Park, lalu dilepasliarkan ke habitat aslinya.

Curik Bali hanya satu dari sekian contoh perlindungan satwa yang telah dilakukan Bali Safari Park, termasuk salah satunya adalah penyelamatan bayi orangutan, korban penyelundupan di bandara I Gusti Ngurah Rai, beberapa waktu lalu.

"Ada pula ratusan spesies satwa lain yang dirawat dan dilindungi di Bali Safari Park," ungkap ungkap Hans Manansang, Deputy Director Taman Safari Indonesia dalam keterangan resminya, Kamis (22/8/2019).

Kampanye perlindungan satwa ini lantas berusaha disebarkan ke masyarakat luas dengan berbagai cara, termasuk salah satunya adalah dengan mengadakan kompetisi lomba foto International Animal Photo Competition (IAPC) 2019.

Melalui karya foto, Bali Safari Park yang merupakan bagian dari Taman Safari Indonesia (TSI) Group mengajak masyarakat untuk turut mendukung upaya konservasi satwa, terutama satwa endemik Bali (Curik Bali).

“Bali memang indah, tapi di balik keindahan tersebut ada satwa yang terancam punah,” ucap Hans. Acara roadshow IAPC 2019 di Bali Safari Park pada Sabtu, 24 Agustus 2019 akan diisi dengan berbagai kegiatan seru dan menarik.

Para peserta nantinya diajak untuk mengeksplorasi satwa-satwa di Bali Safari Park dan mereka juga diberi pengetahuan seputar konservasi yang dilakukan Bali Safari Park sejak tahun 2007.

Di akhir acara, peserta akan diajak untuk merasakan Safari Journey, berkeliling Bali Safari Park dengan menggunakan kendaraan sekaligus berdekatan dengan satwa-satwa liar yang bebas berkeliaran.

Para peserta dapat leluasa mengabadikan perilaku satwa liar di Bali Safari Park.

“Tingkah satwa-satwa liar di Bali Safari Park menggambarkan keseharian mereka di habitat aslinya,” ujar Hans Manansang. Melalui seni karya foto itulah, kampanye konservasi bisa tersampaikan dengan baik kepada masyarakat umum.

Bahkan, Bali Safari Park yang kental dengan ornamen budaya Pulau Dewata, menambah keisimewaan roadshow IAPC 2019 di Bali. Bukan hanya sebatas hiasan semata, Bali Safari Park memang menonjolkan konservasi satwa berbalut budaya khas Bali.

Sebab, kultur Pulau Dewata memang menjadi favorit turis mancanegara. Lomba foto IAPC 2019 pun tetap menonjolkan budaya Bali melalui model-modelnya yang mengenakan pakaian adat setempat.

“Adanya IAPC 2019 ini, kami ingin mengampanyekan konservasi satwa, sekaligus mempromosikan budaya Bali yang menakjubkan,” tutur selaku Ketua Penyelenggara IAPC 2019.

Hans berharap dengan mengadakan IAPC 2019 di Pulau Dewata, diharapkan semangat konservasi menular ke masyarakat setempat dan turis-turis asing yang tengah berlibur.

Sebab, sebagai lembaga konservasi, TSI Group sadar betul bahwa upaya konservasi yang dilakoni selama puluhan tahun ini tak akan bisa berhasil bila tak didukung masyarakat luas, termasuk penggiat fotografi. (rhm)
Bagikan Artikel

Rekomendasi