menu
search

Stop Stereotipe Perempuan, Perspektif Gender Menjadi Penting dalam Pemberitaan Media

Jumat, 16 Agustus 2019 : 07.02
Pelatihan jurnalis mengangkat tema perspektif gender dalam jurnalisme di Kuta, Bali
Badung - Masih banyak pemberitaan media di Tanah Air yang menjadikan perempuan sebagai obyek tidak mengedepankan perspektif gender sehingga hal ini semakin memperkuat stereotipe negatif di masyatakat.

Menurut jurnalis senior dan peneliti Search Common for Ground Bahrul Wijaksana, menempatkan perspektif gender dalam jurnalisme sangatlah penting dalam mendudukan posisi kaum perempuan sejajar dengan laki-laki.

"Media memiliki tanggungjawab dalam menyajikan karya jurnalistiknya dengan tetap perspektif gender," katanya dalam Pelatihan Jurnalis dengan tema perspektif gender dalam jurnalisme di Kuta, Bali 15-16 Agustus 2019.

Dijelaskan pria yang disapa Uung itu, perspektif gender itu membangun mainset cara pandang dengan menempatkan perempuan dan laki-laki dalam kesetaraan atau lebih adil. Jadi, tidak bicara perempuan saja, perspektif gender juga menyangkut laki-laki.

Dalam faktanya, persepsi tentang perempuan dan laki-laki yang dibentuk atau dikonstruksi secara sosial itulah yang kerap melahirkan ketidakadilan, ketidaksetaraan sehingga semakin memberi label negatif terhadap perempuan.

Dia mencontohkan, pemberitaan tentang perempuan yang menjadi korban atau penyintas tindak kekerasan seksual, tidak sedikit yang mencari sensasional, mengejar clickbait, rating sehingga tidak memiliki empati terhadap perempuan.

Tidak adanya kebijakan redaksi yang jelas dalam mengangkat isu-isu perempuan, membuat pemberitaannya menjadi bias gender. Judul-judul atau gambar, foto yang menyajikan perempuan yang menjadi korban, sedemikian vulgar, tidak menunjukkan adanya empati.

Dalam pemberitaan kasus pembunuhan terhadap perempuan yang berprofesi SPG di sebuah penginapan di Denpasar baru-baru ini, misalnya, banyak media yang justru melakukan victim blaming atau menyalahkan perempuan yang menjadi korban dari tindak kejahatan.

Mengungkap secara gamblang dengan foto-foto korban dan keterangan hanya berdasar pada satu sumber, kehidupan keluarga korban yang memiliki anak-anak, menjadi bukti tidak adanya empati terhadap korban dan menimbulkan dampak negatif secara psikologis bagi masa depan anak mereka.

Diakui Uung, di tengah gempuran media sosial dan perkembangan informasi teknologi dewasa ini, media baik cetak, online dan elektronik seperti televisi, kerap menjadikan perempuan sebagai obyek.

"Kalau kita perhatikan isu-isu pemberitaan media, cara menulis beritanya, lebih banyak menggunakan perspektif politik dari pada perspektif gender, kalau perspektif politik itu lebih kepada orientaasi kekuasaan, tetapi bicara perspektif itu bicara soal keadialan," tuturnya

Hal itu sering diluput dari perhatian jurnalis dan masih suka dengan sesuatu yang extravaganza, secara politik menarik, karena itu memang yang diperebutkan banyak orang yang berkuasa. Padahal, sejatinya esensi proses perdebatan politik itu seharunya pada level masyarakat terendah.

"Kita tahu perempuan berada dalam posisi marginal sehingga memperkuat perspektif perempuan atau perspektif gender di kalangan jurnalis menjadi sangat penting," tegasnya.

Dalam pandangan mantan jurnalis Tempo Amanda Siddharta, banyak kasus tindak pelecehan hingga pemerkosaan terhadap perempuan di tempat kerja termasuk di industri media, karena terjadinya relasi kuasa antara pimpinan dan bawahan.

"Banyak kasus-kasus perempuan muncul di media, di mana perempuan digambarkan sebagai korban, banyak media menjadikan perempuan sebagai penyintas," imbuhnya. Pelatihan diikuti puluhan kalangan media dan aktivis pemberdaayaan masyarakat dari Bali dan luar Bali. (rhm)

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua