menu
search

Saksi Ungkap Sudikerta dan Maspion Berencana Bangun Hotel Bintang Lima

Minggu, 04 Agustus 2019 : 20.30
Ketut Sudikerta/ist
Badung - Ketut Sudikerta dan pihak Maspion pernah berencana bekerjasama membangun hotel berbintang lima sebelum kasus tanah yang menjerat mantan Wakil Gubernur Bali itu.

Perihal tersebut disampaikan Putu Sunartha selaku anak dari Wayan Wakil, terkait kasus yang menjerat mantan Wakil Bupati Badung itu.

Sunartha mengungkapkan, tahun 2013 WS dan HK selaku Presiden Komisaris Maspion Grup datang ke rumah Sudikerta di Pecatu, menanyakan tanah 3300 M2 yang kabarnya hendak dijual

"Saat itu, Sudikerta menjawab jika tanah tersebut akan dijual," ucapnya kepada wartawan di Denpasar, Minggu (4/8/2029). Kemudian, HK menginformasikan jika bos Maspion berniat membeli tanah tersebut. HK juga meminta tanah itu digabung dengan tanah Puri dan tanah Wayan Wakil.

"Pak Sudikerta menjawab ya silahkan kalau yang bersangkutan bersedia," ucapnya sembari mengutip ucapan Sudikerta kala itu. Menurutnya, Sudikerta sempat telepon ke Wayan Wakil untuk datang ke Pecatu dan diminta membawa Sertifikat untuk ditunjukan ke WS dan HK.

HK kemudian diminta mengecek sertifikat di Badan Pertanahan Nasional (BPN) melalui Notaris Nelly. "Setelah dicek dan bersih semua, tetapi sampai satu bulan tidak ada kejelasan, baru setelah tiga bulan, HK datang ke Sudikerta," terangnya.

HK menawarkan konsep kerjasama membangun Hotel Bintang 5, dengan perhitungan persentase 55-45 persen. Selain itu, diminta membuat perusahaan dalam bentuk (PT) yang joint dengan Maspion Group dan kedua tanah di inbreng ke dalam PT.

"Setelah dipikirkan dan melalui perundingan akhirnya, dibuatkan kesepakatan yang aman bagi semua," jelasnya. Setelah semua kesepakatan dibuat, akhirnya, semuanya itu diurus pihak HK sebagai Komisaris Maspion group mulai dari PT. Inbreng, joint PT sampai SHGB.

Selanjutnya setelah ada proses penggadaian hingga pencairan dan dari Bank Panin, sepenuhnya menjadi urusan perusahaan-perusahaan yang terlibat. "Jadi, sangat jelas disini, tidak ada Pak Sudikerta dalam PT, sehingga, di sini bisa dilihat dengan jelas, tidak ada merugikan Alim Markus," katanya berdalih.

Dari penjelasanya, kata Sunartha, diketahui fakta hukum dalam kasus menjerat Sudikerta, sebenarnya yang terjadi di lapangan, murni kasus perdata antara kedua perusahaan tersebut.

Kronologi tersebut juga sempat disampaikan Sunartha ke penyidik Polda Bali saat diperiksa sebagai saksi namun dikesampingkan. "Saya sudah berbicara apa ada nya, sesuai fakta yang sesungguhnya, namun tidak diindahkan," imbuhnya lagi.

Sebelumnya diketahui, hal tersebut juga pernah disampaikan Sudikerta, saat diperiksa penyidik Polda Bali, namun keterangan tersebut diduga dikesampingkan. Hingga saat ini, belum diperoleh keterangan dari HK maupun Maspion perihal fakta yang diuangkapkan Sunartha. (rhm)

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua