Pembuang Limbah Sablon ke Sungai di Denpasar Didenda Rp 3 Juta

Senin, 26 Agustus 2019 : 21.30
Sidang Tipirng bagi pelanggar Perda di Kota Denpasar
Denpasar - Sebanyak 10 orang orang merupakan pembuang limbah sablon ke sungai di wilayah Kota Denpasar masing-masing didenda Rp3 juta dalam sidang Tipiring Dinas Lingkungan Hidup (DLHK) Kota Denpasar, Senin (26/8/2019) di kantor Camat Denpasar Barat.

Sidang dipimpin hakim Angeliky Handajani Day dan panitera Agustini Mulyani ini turut menyidangkan 16 pelanggar Perda.

Sebanyak 10 orang merupakan pembuang limbah sablon ke sungai di wilayah Kota Denpasar. Satu orang pembuang sampah tak sesuai waktu dan lima orang pembuang limbah tempe, ayam, dan limbah catering.

Pembuang sampah, yakni Harun didenda Rp 150 ribu subsider kurungan tiga hari. Sementara lima pembuang limbah tempe, ayam, babi, dan catering didenda masing-masing Rp 1.5 juta subsider kurungan 3 hari.

Sementara 10 orang pembuang limbah sablon didenda masing-masing Rp 3 juta rupiah subsider kurungan tiga hari. Salah seorang pelanggar pembuang limbah catering, I Nyoman Gunawan mengakui saat ada sidak lambat penanganan sehingga limbah tersebut dibuang ke selokan.

"Saya sekarang sudah punya alat yang baru untuk penanganannya," katanya. Hakim Angeliky mengatakan adanya perbedaan nominal nilai denda pembuang limbah organik dengan limbah sablon dikarenakan limbah sablon lebih berbahaya.

Menurutnya limbah organik seperti limbah tempe maupun limbah peternakan babi masih bisa terurai dan menyatu dengan alam. Untuk limbah sablon tak menyatu dengan alam dan bersifat kimia. "Cat tidak bisa menyatu dengan alam, tidak terurai. Kalau ayam masih bisa terurai," katanya.

Atas pertimbangan tersebutlah, pembuang limbah sablon didenda Rp 3 juta. Ia menambahkan jika denda yang diberikan kecil maka tidak akan membuat efek jera. "Kalau hukuman itu harus membuat efek jera, kalau dendanya kecil misalnya 10 ribu pasti akan diulangi lagi," katanya.

Kadis DLHK Kota Denpasar, Ketut Wisada mengatakan bahwa dalam penindakan serangkaian sidak yang dilaksanakan beberapa hari belakangan ini.

Terdapat 20 orang yang diajukan untuk disidang tipiring lantaran melanggar melanggar Perda Nomor 1 Tahun 2015 tentang ketertiban umum, namun demikian yang hadir hanya 16 orang.

Wisada menekankan bahwa Tipiring ini merupakan uoaya untuk memberikan edukasi bagi masyarakat. Sehingga pemahamanan akan pentingnya mentaati aturan yang berlaku. “Bagi para pelanggar perda tentu kami akan tindak tegas,” ujar Wisada. (rhm)
Bagikan Artikel

Rekomendasi