menu
search

Jelang Pelantikan, Agung Widiada Berbagi Kebahagiaan Bersama Anak Autis

Senin, 12 Agustus 2019 : 21.59
Penglingsir Puri Peguyangan AA Ngurah Gede Widiada bersama pengurus dan anak-anak autis menggelar syukuran Yayasan Sehati Bali
Denpasar - Anak Agung Ngurah Gede Widiada memilih berkumpul bersama anak autis sebagai wujud syukur dan memohon doa restu sebelum dirinya dilantik menjadi Anggota DPRD Kota Denpasar periode 2019-2024.

Siang itu, tatkala terik matahari menyengat, di sebuah rumah Jalan Ken Arok, Denpasar, terlihat ramai oleh aktivitas anak-anak berkebutuhan khusus atau penyandang autis.

Di rumah yang cukup sederhana yang kemudian menjadi sekretariat Yayasan Sehati Bali, tokoh Puri Peguyangan yang disapa Turah Widiada disambut hangat pengurus yayasan dan belasan anak autis.

Tampak menyambut Ketua Yayasan Ni Putu Puspawati, pembina Ketut Jogaster Susenapathy dan para guru serta anak-anak.

Mengawali pertemuan, Turah Widiada menyampaikan rasa salut dan apresiasi yang tinggi kepada jajaran Yayasan Sehati Bali yang demikian sabar merawat anak-anak berkebutuhan khusus tersebut.

"Semangat dan kepedulian Bunda Puspawati dalam mengabdikan diri untuk anak anak kita, sangat luar biasa," ucap politikus Partai NasDem ini.

Karena itu, dirinya berterimakasih karena diminta menjadi pembina yayasan sehingga akan terus memperjuangkan hak-hak anak autis itu agar mendapatkan perhatian dari pemerintah.

Turah Widiada menegaskan, setelah melewati perjalanan dan waktu kini, yayasan telah memiliki badan hukum sehingga diharapkan bisa lebih dikenal dan mendapat perhatian semua pihak.

Dia mengatakan, yayasan baru selesai mendapat pengesahan sehingga dideklarasikan, tentunya akan lebih dikenal mendapat perhatian pemerintah.

"Hari ini, kami bersyukur dan ingin bersama anak anak dan mohon doa restu dengan tugas kedua sebagai wakil rakyat, semoga bisa terus bekerja sama dalam sisi kemanusiaan," sambungnya.

Dia berjanji, akan terus menyuarakan kepada pemerintah agar lebih memperhatikan anak-anak para penyandang autis. Diakuinya, untuk mengurusi anak berkebutuhan khusus tentunya biaya mahal namun hal itu tidak selalu benar, asalkan ada semangat dan niat mengabdi.

Dalam kesempatan itu, Puspawati menyatakan tekadnya untuk mengabdi diri, berkurban untuk mendampingi anak-anak autis juga mendapat dukungan suami dan keluarganya meskipun banyak kendala seperti pendanaan.

Pasalnya, untuk menggaji guru saja masih kurang, sehingga sangat mengharapkan dukungan pemerintah. "Di sini ada 14 anak berkebutuhan khusus sehingga perlu dapat respon semua pihak," ungkapnya.

Puspawati yang awalnya guru umum namun akhirnya memilih jalur pengabdian untuk mendidik anak autis meski dengan kondisi seadanya, jauh dari sisi idealitas.

"Selama ini banyak mendapat support dari Turah Widiada dan Pak Jogaster, sehingga membuat saya semakin bangkit membuat yayasan, saya ingin lebih banyak membantu setidaknya keberadaan saya dan tim ingin ringankan orang tua agar anak tergantung kepada orang lain," tuturnya.

Hal itu sejalan dengan visi misi yayasan yakni bisa mandampingi anak autis agar bisa mandiri.

Di tempat yang dirintis sejak 2015 itu, anak-anak diajarkan mulai sejak datang nilai agama masing-masing. Misalnya, untuk anak beragama Hindu diajari menggunakan alat-alat persembahyangan seperti memakai kain, mebanten masuk ke kelas menurut kemampuan anak.

Dia menyadari untuk menjalankan tugas cukup berat ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit seperti untuk perasional gaji guru. "Terus terang tidak semua orang bisa punya hati mendidik anak autis, butuh hati yang luar biasa," ucapnya.

Sementara Jogaster yang juga sebagai orang tua dua anak autis yang kebetulan kembar dan kini usianya 23 tahun. "Sebagai orang tua, harapannya tentu ingin menyekolahkan anaknya seperti anak normal, usia 23 tahun kalau kuliah sudah menjelang tamat," urainya.

Namun, kata pegawai PLN ini, Tuhan berkehendak lain, dirinya diberikan titipan anak berkebutuhan khusus. "Sejujurnya, saya tidak tahu berbuat yang terbaik untuk anak itu seperti apa, ternyata saya tidak sendiri," tuturnya.

Ia tidak mau terlalu memikirkan penyebab mengapa anak menjadi autis. Dia lebih fokus bagiamana anak autis bisa mandiri.

"Saya salut kepada para guru di Yayasan ini, sebab tidak mudah mengurus anak berkebutuhan khusus, harus punya keahlian spesial, namun yang utama sebenarnya memiliki hati dan kecintaan kepada anak-anak," imbuhnya.

Sementara usai menyapa anak-anak, Turah Widiada bersama seluruh pengurus yayasan dan guru, melanjutkan syukuran dengan memotong tumpeng sederhana.

Acara syukuran berlangsung semarak dan mengharukan terlebih saat anak berkebutuhan khusus ini, nampak bersemangat mengibarkan bendera merah putih ukuran kecil sembari menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan penuh semangat. (rhm)

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua