menu
search

Gerakan #KurangiResiko Berlanjut ke Pura Besakih

Minggu, 11 Agustus 2019 : 21.51
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Prof. DR Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, mengapresiasi aksi sosial yang dilakukan Komunitas Malu Dong di Pura Besakih
Karangasem - Setelah sejumlah titik di Pantai Sanur Denpasar kini aksi gerakan sosial bertajuk #KurangiResiko melakukan hal sama ke Pura Agung Besakih di Kabupaten Karangasem.

Aksi yang dimotoriKomunitas Malu Dong sebagai bentuk kepedulian lingkungan dan menggalakkan gerakan sosial #KurangiResiko.

Sebelumnya, telah ditetapkan area khusus merokok dengan menempatkan asbak besar di lima titik pantai Sanur dan kini Komunitas Malu Dong melanjutkan ke tempat yang berlokasi di dataran tinggi, yaitu di Besakih, Karangasem.

Langkah itu, sejalan dengan konsep Hindu Bali “Nyegara Gunung” bahwa laut dan gunung sejatinya adalah satu kesatuan. Setiap tindakan di gunung akan berdampak di laut serta sebaliknya.

Pura Besakih dipilih karena merupakan pura terbesar dan pusat kegiatan dari seluruh pura yang ada di Bali. Pura yang terletak di kaki Gunung Agung ini juga dipercaya sebagai awal mula penyebaran Agama Hindu Dharma di Bali.

Pendiri Komunitas Malu Dong, Komang Bemo Sudiarta mengatakan pihaknya berkomitmen untuk terus memberikan edukasi kepada seluruh masyarakat di Bali mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Salah satunya mengenai sampah dan puntung rokok yang dapat berdampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat jika tidak dibuang pada tempatnya.

Pura sebagai salah satu tempat sosialisasi, dipilih karena selain sebagai tempat ibadah, juga menjadi tempat yang banyak dikunjungi wisatawan, terutama Pura Besakih yang memang menjadi tengara di Bali.

“Jangan sampai kebudayaan Bali rusak karena kurangnya kepedulian kita terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Nanti yang rugi kita sendiri,” kata Sudiarta mengingatkan.

Pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk terus menjaga kelestarian alam dan kebudayaan melalui pengendalian sampah dan puntung rokok.

Selain itu, ia juga menekankan bahwa diperlukan sebuah solusi untuk mengurangi masalah rokok, yang tidak hanya diakibatkan oleh puntungnya tapi juga dari asap hasil pembakarannya, di Bali.

Pendekatan pengurangan risiko bagi rokok kata dia, bisa diterapkan sebagai salah satu jalan keluar.

Dalam kesempatan sama, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Prof. DR Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, mengapresiasi aksi sosial yang dilakukan oleh Komunitas Malu Dong.

Menurutnya, gerakan seperti ini perlu didukung karena sangat baik dan berdampak positif. “Bersih itu tidak hanya indah, tapi juga cerminan dari jiwa kita,” kata Sudiana menegaskan.

Dijelaskan, kensep kegiatan ini juga sejalan dengan prinsip Tri Hita Karana, utamanya sebagai upaya manusia menjaga keharmonisan kepada alam atau lingkungan hidup, misalnya menjaga kelestarian alam agar tetap terjaga keasriannya dan mengurangi risiko negatif terhadap lingkungan.

Selain pemasangan area khusus merokok, Komunitas Malu Dong juga melakukan Pura Clean Up dengan melibatkan sekitar 100 orang peserta. Selain masyarakat umum, beberapa tokoh masyarakat juga ikut menjadi peserta.

Diantaranya adalah penulis, pemerhati musik, sekaligus aktivis dari Rumah Sanur Rudolf Dethu, komedian I Kadek Puja Astawa, travel vlogger Putu Aditya, serta musisi D’go Vaspa.

I Kadek Puja Astawa atau yang lebih dikenal dengan nama akun @HaiPuja, berharap, adanya Gerakan #KurangiResiko yang dilakukan secara terus menerus, dapat membuat masyarakat sadar akan bahaya sampah dan risiko dari rokok bagi lingkungan dan kesehatan.

Saat ini ada kabupaten di Bali yang membuat aturan adat atau pararem mengenai larangan merokok di pura. Dalam pararem tersebut, masyarakat tidak diperkenankan merokok di tempat suci seperti pura, atau ketika sedang paruman (Rapat) adat.

"Maksud pararem itu sebenarnya sangat baik. Tapi seharusnya ada solusi, seperti menyediakan area khusus merokok pada tempat-tempat tertentu agar tidak mengganggu yang lain," sambung Puja.

Puja juga menyayangkan jika masih ada perokok yang sering mengumbar asap di ruang publik, dan membuang puntung rokok di sembarang tempat. Hal tersebut masih banyak ditemui di kawasan-kawasan wisata di Bali.

“Dengan adanya area khusus merokok ini, diharapkan hal seperti itu dapat dikurangi sehingga masyarakat dapat beribadah dan berwisata dengan nyaman. Mari kita mulai bersama-sama saling mendukung kegiatan ini, masa depan pariwisata Bali ada di tangan kita,” katanya.

Diketahui, gerakan #KurangiResiko ini, telah dilakukan sejak awal 2019 lalu.

Dimana Komunitas Malu Dong melakukan kegiatan bersih-bersih pantai dan talk show mengenai pengurangan risiko dalam aspek kehidupan sehari-hari, termasuk himbauan untuk tidak membuang sampah dan puntung rokok sembarangan serta penggunaan produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan, sebagai opsi yang lebih baik.

Kegiatan ini lantas dilanjutkan di Kawasan Sanur pada Juni 2019 lalu dengan menempatkan area khusus merokok di sejumlah titik di kawasan Pantai Sanur sebagai upaya melestarikan lingkungan. Kegiatan ini juga disertai dengan aksi bersih pantai.

Dalam setiap kegiatan itu, para peserta berhasil mengumpulkan puntung rokok serta sampah plastik hingga ratusan kilogram dalam waktu satu jam. (riz)

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua