menu
search

Pemprov Bali Diminta Lakukan Riset Produk Tembakau Alternatif Libatkan Swasta

Senin, 08 Juli 2019 : 11.29
Ilustrasi produk tembakau alternatif/new York post
Denpasar – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali diminta melakukan riset atau kajian melibatkan ahli kesehatan dan dunia usaha terhadap produk tembakau alternatif yang mulai berkembang luas di pasar.

Ariyo Bimmo dari Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR) mengungkapkan, isu lingkungan hidup sedang menjadi sorotan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali.

Simak: Polisi Tabanan Amankan Ribuan Slop Rokok Iliegal

Jika tidak diselesaikan dengan seluruh pemangku kepentingan, akan berpotensi menggerus pariwisata Bali, yang selama ini menjadi ‘tulang punggung’ perekonomian Pulau Seribu Pura itu.

Guna mengatasi masalah tersebut, Pemprov Bali mendorong program Bali Bersih melalui visi “Nangun Sat Kerthi Loka Bali”. Permasalahan lingkungan hidup yang dihadapi Pemprov Bali, antara lain sampah plastik dan pencemaran udara.

Selain itu, Ariyo meneruskan, Pemprov Bali juga dapat menjadikan produk tembakau alternatif sebagai solusi untuk mengurangi dampak bahaya merokok. Ariyo meminta Pemprov Bali perlu melakukan riset yang menyeluruh dengan menggandeng swasta dan ahli kesehatan.

Simak: YLKI Sebut Cukai Rokok Danai BPJS Kesehatan Bisa Menyesatkan

“Semua harus terlibat sehingga bisa memastikan bahwa produk tembakau alternatif lebih rendah risikonya. Patut dijadikan atau dicoba untuk mengurangi perokok,” tuturnya dalam keterangannya kepada wartawan, baru-baru ini.

Apalagi, di beberapa negara, seperti Inggris dan Jepang, juga sudah menggunakan produk tersebut dalam menurunkan jumlah perokok karena memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah daripada rokok.

“Ketika pemerintah Inggris misalnya, mengumumkan ini tembakau alternatif risikonya rendah. Konsep ini langsung diterapkan sehingga secara gradual, ada puluhan ribu perokok aktif beralih ke tembakau alternatif,” jelasnya.

Simak: Radius 250 Meter, Setiap Sekolah di Denpasar Terdapat 10 Penjual Rokok

Kemudian, pihaknya juga berharap pelaku pariwisata mendukung Pemprov Bali untuk mengatasi permasalahan tersebut. Partisipasi aktif dibutuhkan agar pariwisata Bali tidak mengalami kemerosotan jumlah wisatawan.

“Wisata kan mengutamakan jangka panjang. Ini kaitannya lingkungan, kesehatan, dan ekonomi," sambungnya. Jadi, ini semua harus dipikirkan secara integral, pelaku wisata jangan berfikir sebanyak-banyaknya wisatawan masuk.

Simak: Untung Tak Seberapa, Mahasiswa Asal Jembrana ini Nekat Edarkan Rokok Ilegal

Dalam kerangka itu pula, Ariyo meminta para pelaku usaha mulai memberikan edukasi kepada para wisatawan. Contohnya, masalah pencemaran udara, wisatawan disarankan untuk mengurangi bahaya rokok dan beralih ke produk tembakau alternatif yang tidak menghasilkan asap.

Dari pengamatannya, banyak wisatawan asing yang datang ke Bali pun sudah banyak yang mengetahui tentang produk tembakau alternatif. Hal ini perlu didorong melalui pemberian informasi yang akurat dan regulasi yang mengatur produk tersebut agar ekosistemnya dapat terjaga.

Simak: Penelitian PKJS UI: Perilaku Merokok Orangtua Akibatkan Anak "Stunting"

Edukasi untuk mengurangi asap rokok dan sebagainya bisa dikembangkan. Artinya masyarakat bisa diperkenalkan produk tembakau alternatif sebagai pengganti tembakau. "Apalagi industri ini sedang berkembang di Bali,” katanya menegaskan.

Senada dengan Ariyo, Ketua Himpunan Pramuwisata Bali Nyoman Nuarta menambahkan Jepang kini sudah mulai beralih ke produk tembakau alternatif. Dia kerap menemukan beberapa wisatawan Jepang di Bali yang menggunakan produk tersebut.

Ditambahkan, jika berkaitan dengan wisatawan Jepang yang berlibur ke Bali hal ini, menurutnya, tidak menjadi masalah. "Apalagi juga tidak ada larangan bagi wisatawan yang ingin membawa dan menggunakan produk tembakau alternatif di Bali,” demikian Nuarta. (rhm)

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua