menu
search

Pak Topo Meninggal Karena Kanker, YLKI Desak Pemerintah Selamatkan Perokok Pasif

Senin, 08 Juli 2019 : 10.27
Almarhum Sutopo Purwo Nugroho/humas BNPB
Jakarta - Kanker paru stadium empat merenggut nyawa salah putra terbaik bangsa Indonesia Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, menyadarkan banyak pihak pentingnya melindungi perokok pasif lantaran almarhum bukanlah seorang perokok.

Alumnus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu, meninggal dunia di Guangzhou China (07/07/19), karena terjerat kanker paru stadium empat. Almarhum divonis kanker paru, sejak awal 2017. Sejak itu, Pak Topo berjuang melawan kanker hingga berakhir sel sel kanker menggerogoti seluruh tubuhnya.

Padahal putra Boyolali, Jawa Tengah itu mengaku, menjaga perilaku hidup sehat dan tentu saja tidak merokok. Hanya saja, almarhum juga mengaku jika dirinya hidup dalam lingkungan kerja yang penuh asap rokok, dan tidak bisa menghindarinya.

Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi menuturkan, dengan kondisi seperti itu maka almarhum, berposisi sebagai perokok pasif (passive smoker).

"Dalam hal sebagai perokok pasif, almarhum Pak Sutopo tidak sendirian. Bahkan secara nasional, menurut hasil survei Riskesdas 2013, jumlah perokok pasif mencapai lebih dari 90 juta orang," tutur Tulus dalam siaran pers diterima Kabarnusa.com, Senin (8/7/2029).

Tragisnya, 12 juta lebih dari perokok pasif adalah anak usia 0-4 tahun (balita). Mereka umumnya terpapar asap rokok di tempat kerja dan bahkan di dalam rumahnya sendiri. Dengan demikian betapa dominannya orang Indonesia yang berstatus sebagai perokok pasif.

"Dan faktor risiko perokok pasif terkena kanker paru adalah empat kali lipat, sedangkan perokok aktif adalah 13, 6 kali lipat," kata Tulus menegaskan. Karenanya, mewujudkan adanya Kawasan Tanpa Rokok (KTR), adalah kebutuhan mutlak.

Sangat mendesak agar semua tempat kerja dan tempat umum sebagai area KTR, tanpa kompromi. Pimpinan dan semua pihak harus mewujudkan area KTR, khususnya di tempat kerja, tempat umum, dan angkutan umum.

Bahkan sangat mendesak mewujudkan rumah sebagai KTR. Sebab merokok dalam rumah sama artinya melakukan KDRT bagi penghuni rumah, karena menyebarkan racun mematikan ke seluruh penghuni rumah.

Ironisnya, banyak kantor pemerintah dan pejabatnya tidak memberikan contoh kepatuhan bahwa secara regulasi tempat kerja adalah area KTR.

Tidak sedikit, kantor kantor pemerintah yang pimpinan dan stafnya merokok di tempat kerja yang tertutup. Tulus mengungkapkan, jika almarhum Pak Topo, menjadi salah salah satu korban keganasan asap rokok di tempat kerjanya.

Kini Indonesia adalah darurat kanker! Mengingat prevalensi kanker malah meningkat menjadi 1.8 persen (Riskesdas 2018). Padahal pada Riskesdas 2013, prevalensi kanker di Indonesia hanya 1.4 persen.

"Dan salah satu pemicu dan pencetus tingginya prevalensi kanker adalah asap rokok," sambungnya. Akankah putra putri terbaik bangsa Indonesia terus bertumbangan oleh penyakit kanker, dan asap rokok menjadi tersangka utamanya?

"YLKI mendesak Pemerintah agar segera membuat "peta kanker" seperti yang dilakukan oleh Pemerintah China pada tahun 1960-an. "Peta kanker sangat penting, sebagai basis (dasar) pembuatan peta jalan penanggulanan kanker di Indonesia, sehingga penyakit kanker tidak kian mewabah," demikian Tulus. (rhm)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua