menu
search

Menteri Susi Lepasliarkan 173.800 Benih Lobster di Bali

Minggu, 14 Juli 2019 : 11.26
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti pelepasliaran 173.800 BL di Perairan Nusa Penida, Badung, Bali/humas kkp
Badung - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti pelepasliaran 173.800 BL di Perairan Nusa Penida, Badung, Bali, Sabtu (13/7/2019). Pelepasliaran tersebut merupakan Konsistensi dalam menghentikan penyelundupan benih lobster (BL) ilegal yang kian marak.

Benih Lobster itu berhasil diamankan oleh Ditkrimsus Tipidter Polda Lampung dan Balai KIPM Lampung melalui penggerebekan sebuah rumah di Kec. Teluk Betung Utara, Bandar Lampung, Kamis (11/7/2019).

“Penggrebekan berawal dari informasi masyarakat atas kecurigaan adanya rumah yang dijadikan tempat penampungan benih lobster. Selanjutnya, petugas melakukan pemeriksaan dan benar ditemukan adanya BL di rumah itu,” ujar Kepala BKIPM Rina.

Dalam penggerebekan ini, ditemukan 306.650 ekor benih lobster setara dengan Rp47.352.500.000,- (empat puluh tujuh miliar tiga ratus lima puluh dua juta lima ratus ribu rupiah) yang berhasil diselamatkan.

Menteri Susi menegaskan agar benih lobster tidak lagi ditangkap karena akan mengancam keberlanjutan lobster.

Hal ini dikarenakan lobster belum bisa dibudidayakan di laboratorium secara _in house_. Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa penjualan benih lobster merugikan karena nilai jualnya terlampau kecil jika dibandingkan dengan nilai jual lobster dewasa.

“Bibit lobster diambil dan dijual dengan harga Rp3.000,-, Rp10.000,-, Rp30.000,- per ekornya. Padahal, harga satu ekor lobster kan sama dengan harga 30, 40, 50 kg ikan,” jelasnya.

Susi berharap agar bibit lobster yang telah dilepasliarkan dibiarkan tumbuh di alam dan dipanen oleh nelayan saat sudah dewasa. “Mudah-mudahan bisa tumbuh besar, diambil, dipanen oleh nelayan. Tapi bukan bibitnya. Kalo bibitnya ya nanti habis lama-lama,” pesannya.
Menteri Susi menjelaskan, penyelundupan BL sebenarnya bukan fenomena yang baru. Hanya saja, selama ini praktik ilegal tersebut kurang mendapatkan perhatian sehingga menjadi praktik business as usual.

Oleh sebab itu, ia pun menaruh perhatian khusus dan menindak tegas para pelaku penyelundupan BL. Terbukti, hasilnya pun sudah mulai terlihat saat ini.

“Dulu tidak ada yang tangkap (red: pelaku penyelundupan BL). Dari tahun 1995, benih lobster sudah mulai diambil di Lombok, sekarang ke mana-mana. Ya kita mulai larang dan keliatan, ekspor lobster dari Vietnam turunnya jauh sekali sedangkan ekspor lobster kita mulai naik,” jelasnya.

“Saya berharap semua sadar untuk tidak mengambil bibit-bibit lobster lagi,” tandas Susi.

Berdasarkan Peraturan Menteri (Permen) No. 56 Tahun 2016 tentang Penangkapan dan/atau Pengeluaran Lobster, Kepiting, dan Rajungan, lobster yang undersized dan bertelur tidak boleh diambil dari perairan Indonesia. (rhm)

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua