menu
search

Mengenal Pater Servas, Imam Pertama dari Bali yang 50 Tahun Melayani Umat

Senin, 08 Juli 2019 : 20.59
Romo Servas Subagha saat perayaan 50 tahun menjadi Imam
Denpasar - Rohaniawan Katolik Pater Servatius Subhaga tengah merayakan pesta emas atau usia 50 tahun imamat sebagai orang Bali pertama yang menjadi Imam. Terlahir di Tuka, Badung, pada 23 Maret 1938, Servas yang putra pasangan Hindu, I Wayan Gulis dan Ni Made Rente, sempat diramal orang pintar saat dalam kandungan, tidak akan selamat.

Kemudian, Servas dibuang dan ditemukan oleh seorang katolik yang memelihara dengan baik. Akhirnya, dia dibaptis menjadi orang katolik dengan nama baru Servatius.

Dia mendengar bisikan Tuhan saat menjalani pendidikan mulai tahun 1964 di Sekolah Rakyat Untal-Untal, sehingga memutuskan melanjutkan perjalanan berkarya di ladang anggur Tuhan.

Servas menyelesaikan Seminari Roh Kudus 1953 sampai 1955 dan dorongan kuat mengabdi kepada Tuhan, membuatnya mantap melanjutkan pendidikan Seminari di Mertoyudan Magelang.

Pendidikan sebagai calon Novisiat Serikat Sabda Allah (SVD), dilakoninya di Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero, Maumere Flores.

Selepas menjalani novisiat SVD pada 15 Agustus 1968 bertepatan Pesta Maria Diangkat ke Surga, mengucapkan Kaul Pertama. Pada saat itu juga, dia mengucapkan Kaul kekal di Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero Maumere Flores.

Dari catatan sejarah gereja Keuskupan Denpasar, Pater Servatius I Nyoman Rongsong adalah Imam pertama dari Bali dan Imam pertama Keuskupan Denpasar. Setelah dirinya ditahbsikan, atas saran tokoh umat, dia mengganti nama menjadi Servatius Subhaga sampai kini.

Selain sebagai pastor paroki, Servas mengemban tugas Vikaris Jenderal (Vikjen), Keuskupan Denpasar dan Ketua Komisi Kateketik dan Komsos Keuskupan Denpasar.

Dalam kesempatan Bedah Buku dan Salve Agung, Servas mengatakan, sebagai orang Katolik di Bali, harus berani mengatakan sebagai Katolik Bali. Hal sama juga berlaku untuk orang Katolik di Jawa.

"Boleh berbeda sebutan tetapi, kita pada akhirnya sama sebagai umat Katolik," tandasnya, di Gereja Yesus Gembala Baik, Denpasar, Senin (8/7/2019). Dalam konteks di Bali, Servas ingin mengembangkan dialog budaya antara ajaran gereja dengan kebudayaan masyarakat setempat.

Diakuinya, proses inkulturasi itu tidaklah mudah. Sejatinya, agama itu hanya satu, namun dia harus berjumpa dengan ribuan hadirat adanya. Untuk itu, dia terus berupaya, mengubah dan mengakarkan ajaran gereja ke dalam budaya setempat.

Dicontohkan, karyanya seperti Tarian Yesus Gembala Baik, Magnificat dan Pemuji Bunda Maria yang pernah dipentaskan di Pesta Kesenian Bali (PKB). Romo Subhaga juga memasukan unsur seni dan budaya Bali ke dalam tata liturgi gereja katolik yang cukup kental.

Juga, bangunan gereja katolik baik yang ada di Kepundung Denpasar, maupun yang ada di Ubung Denpasar sangat kaya dengan simbol-simbol Bali. “Iman katolik harus terus menerus membuka ruang dialog dengan budaya Bali sehingga iman katolik itu benar-benar berakar dan membumi di Bali,” tutupnya. (rhm)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua