Pementasan Sendratari Kolosal Inovatif Legu Gondong Hibur Pengunjung PKB

Senin, 17 Juni 2019 : 23.07
Sendratari kolosal berjudul Legu Gondong ditampilkan di ajang PKB ke41
Denpasar - Ratusan penonton di Panggung Terbuka Arda Candra, Art Center Denpasar, terhibur dengan Sendratari Kolosal Inovatif berjudul “Legu Gondong” Minggu 16 Juni 2019 malam.

Ajang Pesta Kesenian Bali XLI Tahun 2019 merupakan puncak apresiasi seni masyarakat Bali. Beragam penampilan seni turut mewarnai gelaran seni tahunan terbesar di Bali ini. Kali ini,

Duta Kota Denpasar melaui Sanggar Printing Mas berhasil menggugah Aura Magis serta membius. Masyarakat kagum dengan garapan kolosal yang digarap sangat apik dengan melibatkan maestro seni Denpasar ini.

Bahkan, Wakil Walikota Denpasar, IGN. Jaya Negara yang berkesempatan hadir bersama Istri, Ny. Antari Negara berdecak kagum menyaksikan Pementasan Kolosal Inovatif Legu Gondong.

Mengambil Tema Legu Gondong, seniman Denpasar menampilkan sedratari kolosal diawali dengan cerita kesalahpahaman masyarakat terhadap istri sang pendeta di Gria Jero Agung Desa Intaran yang bernama Rangdaning Jero Agung.

Koordinator Pementasan Kolosal Printing Mas, I Gede Eka Surya Wirawan menjelaskan, masyarakat Intaran menduga Rangdaning Jero Agung menganut ajaran ilmu hitam (Dharma Pengiwa) yang menyebabkan beberapa masyarakat ditimpa wabah penyakit sehingga masyarakat Intaran menjadi ketakutan.

Atas kesepakatan masyarakat melalui rapat desa, maka diputuskan yaitu Rangdaning Jero Agung diusir dari desa Intaran. Keputusan tersebut disampaikan oleh Ki Bendesa Intaran kepada Rangdaning Jero Agung, maka terjadilah perselisihan.

“Dimana Rangdaning Jero Agung tidak terima dengan keputusan tersebut karena beliau tidak pernah merasa melakukan kesalahan kepada masyarakat melalui ilmu hitam yang beliau dalami,” jelasnya.

Merasa dikucilkan masyarakat, Rangdaning Jero Agung pergi ke Pura Dalem Blanjong memohon kepada dewa yang berstana di pura, supaya sakit hatinya bisa terbalaskan. Dewi Durga pun berkenan dengan permohonan Rangdaning Jero Agung lalu dianugrahi berupa sisya bernama Legu Gondong.

Legu Gondong inilah yang diperintahkan oleh Rangdaning Jero Agung untuk menyebarkan wabah (gering) yang menyebabkan lebih banyak lagi masyarakat Intaran ditimpa kesakitan bahkan banyak yang meninggal dunia.

Akibatnya, Desa Intaran menjadi kacau balau. Peristiwa tersebut disampaikan oleh Ki Bendesa Intaran kepada Sang Raja Kesiman.

Sang Raja bersama mahapatih I Gusti Made Lod (kaki poleng kesiman) segera menyelesaikan masalah tersebut karena keamanan desa Intaran merupakan tanggung jawab Kerajaan Kesiman. (riz)

Rekomendasi