Gubernur Koster: Tanpa Kesenian, Kami Orang Bali Tidak Akan Ada Lagi

Minggu, 16 Juni 2019 : 23.09
Gubernur Bali I Wayan Koster
Denpasar - Gubernur Bali I Wayan Koster mengungkapkan betapa pentingnya kesenian bagi masyarakat Bali karena berfungsi seperti oksigen yang harus dihirup sehingga bisa merasakan kesejatian Bali.

Koster menegaskan itu saat pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41 di Ardha Chandra, Taman Budaya Bali, Sabtu 15 Juni 2019 malam.

Penyelenggaraan PKB tahun ini, ditata secara kreatif dan inovatif sebagai bagian dari implementasi kebijakan yang diatur dalam Peraturan Gubernur Bali mengenai; Penggunaan Busana Adat Bali, Pelindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali, Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai, serta Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan, dan Industri Lokal Bali.

Hal ini tampak secara langsung dalam penyelenggaraan sehari-hari PKB: jumlah tong sampah yang diperbanyak serta tidak adanya penggunaan tas plastik sekali pakai di stand-stand kuliner.

Lomba menghias gebogan juga menggunakan buah-buahan produk petani lokal. Inovasi tersebut menunjukkan bahwa acara seni budaya dapat digunakan secara efektif sebagai media penyebarluasan pesan dan tindakan positif.

Hal itu mulai dari pesan tentang keberpihakan pada produk pertanian lokal dan industri kecil dan menengah (IKM) hingga pentingnya gerakan bersama untuk melindungi alam kita dari ancaman sampah plastik.

Wahana seni budaya sebagai media untuk melakukan perubahan sosial memang paling tampak di Bali. "Di Tanah Dewata inilah, kesenian berfungsi seperti oksigen, yang ada di mana-mana dan wajib dihirup sepenuh dada sehingga mampu merasakan Bali yang sejati-jatinya,” papar Koster.

Selain sebagai wahana pelestarian dan pengenbangan seni-budaya Bali, serta sebagai media untuk menyebarluaskan pesan-pesan yang terkandung dalam Pergub dan Perda, Koster juga meniatkan PKB sebagai wahana rekonsiliasi nasional.

“Dinamika politik itu memang seringkali membelah kehidupan masyarakat, tetapi jangan lupa ada seni yang dapat menyatukan Kita kembali,” ujarnya. “Melalui Pesta Kesenian Bali ini, mari Kita tebarkan spirit kedamaian dan toleransi dalam kebhinnekaan guna memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa,” tegasnya.

Berbagai inovasi yang dikonsep Koster, berhasil membuat PKB tampil jauh lebih segar dan cerah, bak memiliki wajah baru. Wajah baru ini tampak jelas pada malam kedua PKB. Lorong dan jalan di Taman Budaya tampak bersih dari sampah dan stand-stand pameran tertata dengan baik.

Suara pindekan baling-baling bamb, iimplementasi nyata Bayu Praman saling bersahutan dengan alunan gamelan. Masyarakat pun bisa menikmati berbagai pementasan kesenian dengan lebih nyaman dan tenang.

Pada malam kedua itu, Koster memberikan sambutan pada pementasan dari Institut Seni dan Budaya (ISBI) Papua di Kalangan Ayodya.

Usai menguraikan tentang inovasi-inovasi yang dilakukannya, serta tekadnya untuk untuk mengalokasikan lebih banyak dana bagi pesta kesenian-pesta kesenian di tingkat kabupaten dan kota, Koster menegaskan betapa pentingnya seni-budaya.

“Tanpa kesenian dan kebudayaan, kami orang Bali tidak akan ada lagi,” katanya menegaskan. Rangkaian tepuk tangan gemuruh yang menyambut pernyataan-pernyataan Koster menunjukkan bahwa upayanya memberi wajah baru pada PKB memperoleh dukungan luas masyarakat. (riz)

Rekomendasi