Dekranasda Bali Angkat Tenun Ikat Lokal Hadapi Membanjirnya Bordir Pabrikan

Senin, 24 Juni 2019 : 18.54
Ketua Dekranasda Provinsi Bali Putri Suastini Koster saat menemui perajin tenun ikat di Kabupaten Buleleng
Buleleng - Membanjirnya hasil produk tenun bordir pabrikan di pasaran yang secara persaingan harga sangat lebih murah mengancam eksistensi karya kerajinan kain tenun ikat khas yang unik dari beberapa daerah di Bali.

Kondisi ini membuat berbagai hasil karya kerajinan kain tenun ikat khas yang unik dari beberapa daerah di Bali terancam punah akibat. Karena itu, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Putri Suastini Koster melakukan berbagai upaya agar tenun ikat asli lokal tidak mengalami kepunahan.

Salah satunya, cara mengajak masyarakat agar menggunakan produk tenun asli daerah seperti produk tenun asli khas Desa Sembiran, Kabupaten Buleleng. Pihaknya turun menemui perajin tenun ikat lokal, agar mereka terus menjaga serta melestarikan tenun ikat warisan para leluhur tersebut.

“Mari semeton perajun tenun, jangan pernah meninggalkan warisan leluhur kita ini. Karena kalau sudah punah tenun ikat kita, maka untuk merekontruksinya akan sengat berat dan membutuhkan waktu yang lama,” terang Putri Koster saat membuka Bimbingan Teknis Diversifikasi dan Peningkatan Kualitas Tenun Ikat di Desa Sembiran, Buleleng pada Senin (24/6/2019).

Ia menilai, kekhawatiran akan kepunahan itu akibat regenerasi para penenun selama ini masih belum banyak. Di sisi lain, produk tenun bordiran berharga murah membanjiri pasaran yang secara perlahan akan mematikan penghidupan para pengerajin tenun asli.

Apalagi masyarakat sekarang lebih memilih yang harganya murah, kalau hasil tenun asli harganya sangat mahal seperti songket. Namun produk bordir pabrik diproduksi dengan mesin, sehingga bisa diproduksi secara cepat dan massal.

"Jika dibiarkan terus, tentu seiring waktu akan membuat tenun warisan leluhur akan punah," katanya mengingatkan.

Dalam kerangka itulah, Pemerintah Provinsi Bali mengeluarkan Peraturan Gubernur Bali Nomor 99 Tahun 2018 tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan dan Industri Lokal Bali.

Melalui Pergub ini, diharapkan masyarakat akan mencintai produk dalam negeri dan menggunakan produk hasil produksi daerahnya sendiri.

Pemprov Bali serius menyikapi permasalah ini, kita ingin melindungi dan melestarikan warisan leluhur. Dengan diberlakukannya Pergub ini, diharapkan para pelaku industri kerajinan Bali dapat menerima manfaatnya secara maksimal.

"Untuk itu, saya minta para peserta yang mengikuti Bimtek ini agar serius sehingga bisa memenuhi keinginan pasar," harapnya.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Provinsi Bali Putu Astawa mengatakan bahwa kegiatan bimtek ini diselenggarakan oleh Pemprov Bali melalui Disdagperin untuk meningkatkan kualitas para pengerajin tenun ikat di Bali.

Pemerintah memberikan edukasi kepada perajin terkait pakem yang ada dalam tenun ikat termasuk soal kualitas bahan baku, kualiatas pewarnaan dan bagaimana cara promosi agar kain tenun asli bisa diserap pasar. (riz)

Rekomendasi