menu
search

Dahulu Hibur Gubernur Jenderal Batavia, Seniman Janger Kedaton Tampil di PKB

Senin, 24 Juni 2019 : 18.06
Pementasan Janger kedaton yang mampu menghibur penonton Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41
Denpasar - Penampilan Janger Kedaton, Desa Adat Sumerta Kecamatan Denpasar Timur sebagai salah satu Janger tertua di Kota Denpasar dan bahkan di Bali mampu memukau pengunjung Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41.

Janger Kedaton yang konon lahir sejak Tahun 1938 silam itu, hingga kini tetap dilestarikan dilanjutkan para generasi muda banjar setempat berkesempatan tampil dalam ajang PKB ke-41.

Pementasan Janger Kedaton sebagai Janger yang disakralkan masyarakat banjar setempat membawakan cerita atau lelampaan Hanoman Kecangkik di panggung Ksirarnawa, Art Centre Denpasar, Minggu (23/6/2019) malam.

Ratusan pengunjung PKB menanti penampilan Janger Kedaton, termasuk Wali Kota Denpasar, I.B Rai Dharmawijaya Mantra, Sekda Kota Denpasar, A.AN Rai Iswara bersama Ketua TP PKK Denpasar, Ny. I.A Selly Dharmawijaya Mantra dan pejabat lainnya.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Bagus Mataram mengatakan Janger Kedaton memiliki penggalan lagu yang sangat sakral. Sejarah panjang kesenian Janger Kedaton tentunya banyak sudah diketahui masyarakat tidak hanya di Kota Denpasar.

"Salah satu pementasan penting jadi kenangan abadi, bagi krama Kedaton adalah saat leluhur diundang majangeran oleh Gubernur Jendral Batavia di Pasar Gambir, Batavia sekarang Jakarta pada 28 Agustus 1939 silam," tutur Mataram.

Berkat partisipasinya itu, Janger Kedaton menerima piagam penghargaan Diploma Eerst Prijs dari pemerintah Batavia.

“Betapa pun derasnya gempuran kesenian kontemporer-modern, kesenian Janger tetap harus dilestrarikan. Ini warisan adiluhung leluhur yang tak boleh punah,” kata Mataram menegaskan.

Koordinator Janger Kedaton, Made Sudiatmika mengatakan, cerita diangkat “Hanoman Kecangkik”, berkisah dari Titah Raja Ayodya Sri Rama. Sang Hanoman melakukan perjalanan bersama pasukan kera menuju negeri Alengka untuk merebut kembali Dewi Sita yang merupakan permaisuri.

Kemudian, Sri Rama diculik Raja Alengka Rahwana. Dalam perjalanan, sampailah Sang Hanoman disuatu tempat yang bernama Karang Siluman yang merupakan istana Raksasi Sayempraba yang bertugas menjaga tapal batas wilayah negeri Alengka.

Mengetahui maksud tujuan perjalanan Sang Hanoman, Sayempraba berupaya melakukan tipu daya, menyuguhkan berbagai makanan dan buah-buahan yang sudah dilumuri racun untuk menggagalkan perjalanan Sang Hanoman beserta pasukannya.

Akibat dari racun tersebut, menyebabkan Sang Hanoman dan pasukannya mabuk dan buta. Betapa sedih dan menyesal Sang Hanoman atas musibah yang menimpanya beserta pasukan.

Dalam suasana menyakitkan dan memalukan itu, datanglah Sang Sempati kakakdari Jatayu memberikan pertolongan, karena sudah memperoleh anugerah dari Rsi Rawatmaja dengan meneteskan air liur ke mata Sang Hanoman.

Atas perbuatan Sayempraba yang licik itu, terjadilah pertempuran hebat, antara Sang Hanoman melawan Sayempraba yang telah berubah menjadi Rangda. Pada akhirnya, Sayempraba dapat dikalahkan akhirnya Sang Hanoman beserta pasukannya melanjutkan perjalanan menuju negeri Alengka. (riz)

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua