menu
search

Wagub Bali: Pembatasan Plastik Sekali Pakai Hadirkan Gaya Hidup Ramah lingkungan

Jumat, 24 Mei 2019 : 00.30
Wagub Bali Cok Ace menerima audiensi McKinsey dan SeconMuse Company di kantor gubernuran
Denpasar - Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati mendukung upaya-upaya berbagai pihak yang ingin membantu usaha Pemprov Bali dalam menanggulangi permasalahan sampah plastik.

“Kami support dengan senang hati jika ada bantuan, apalagi ada solusi untuk mengurangi dampak sampah plastik di Bali,” kata Cok Ace saat audensinya dengan organisasi McKinsey dan SecondMuse Company di Ruang tamu Kantor Wakil Gubernur Bali, Renon, Denpasar pada Kamis (23/5/2019).

Hadir pula dalam audensi tersebut Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Bali, Made Teja.

Saat ini, Pemprov Bali gencar mengkampanyekan pengurangan sampah plastik sekali pakai antara lain dengan meluncurkan Peraturan Gubernur (Pergub) no 97 tahun 2018 yang mengatur pembatasan timbulan sampah plastik sekali pakai.

"Sejalan visi dan misi kami, yang ingin membangun kehidupan yang harmonis termasuk harmonis dengan alam,” jelas penglingsir Puri Ubud ini. Dampak sampah plastik terutama kantong plastik, sedotan serta styrofoam sudah demikian berlebihan di Bali hingga menimbulkan pencemaran hingga mengganggu kehidupan biota di laut.

“Untuk itu kami harus batasi karena penggunaannya sudah melampaui kebutuhan. Juga kami jadwalkan secara berkala gerakan bersih-bersih sampah plastik. Beban sampah plastik ini harus dikurangi,” tambahnya.

Mantan Bupati Gianyar, mengaku senang sekali jika kedepan ada solusi dan alternatif produk yang dapat menggantikan produk berbahan plastik untuk sekali pakai sekaligus memicu timbulnya lifestyle baru di Bali yang lebih ramah lingkungan.

“Kalau kita ubah persepsi, pembatasan ini justru menimbulkan peluang baru untuk terciptanya produk-produk alternatif yang lebih ramah lingkungan. Justru kita dorong agar lebih berkembang,” tukas Cok Ace.

Program Manager of Sustainable Communities dari McKinsey, Ella Flaye menyatakan pihaknya bersama-sama dengan berbagai stakeholder membangun sistem pengelolaan sampah di desa-desa dengan memaksimalkan manfaat dari daur ulang sampah plastik dengan Bali dan Kota Buenos Aires, Argentina sebagai pilot project.

Selain itu program ini juga bertujuan untuk menciptakan lapangan kerja dan memberdayakan komunitas lokal, serta mempercepat transisi ke ekonomi sirkular (circular economy).

"Untuk itu kami juga mendorong kerjasama dengan perusahaan-perusahaan besar untuk memanfaatkan produk daur ulang tersebut,” Jelas Elle.

Tujuan kerjasama ini menurutnya meliputi pengoptimalan pengumpulan sampah, yaitu dengan mengedukasi penduduk tentang pentingnya memilah sampah, meningkatkan efisiensi fasilitas pemilahan dengan pelatihan dan insentif.

“Bali dan Indonesia kami harapkan jadi pelopor di Asia Tenggara,” imbuhnya.

Kebijakan dan regulasi khusus mengenai sampah plastik di Bali sangat luar biasa karena langsung berdampak pada kehidupan sehari-hari warga untuk lebih aware dengan permasalahan sampah plastik.

“Momentum ini sangat bagus dan saya lihat sejalan dengan program kami dan kita bergerak kearah yang sama,” tandasnya. Office Manager SecondMuse Indonesia Inar Andrea juga menyambut baik pergub no 97 tahun 2018 yang digalakkan Pemprov Bali.

“Hanya Bali yang sudah berani mendeklarasikan kampanye pembatasan sampah plastik ini dan kebijakan ini sangat membantu untuk mendekatkan isu ini ke masyarakat dan juga para pejabat di desa-desa,” pujinya.

SecondMuse akan membantu memfasilitasi para creator inovatif yang bisa menciptakan solusi pengolahan sampah plastik, daur ulang hingga produk alternatif pengganti produk plastik sekali pakai. (rhm)

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua