Sasar Pemukiman Kumuh, Relawan Bali Bagikan Ratusan Nasi Bungkus

Sabtu, 04 Mei 2019 : 00.00
Aksi bagi-bagi nasi bungkus relawan kepada masyarakat tidak mampu di Denpasar
Denpasar - Kaum terpinggirkan di Denpasar Bali mendapat perhatian Komunitas Madrasah Relawan Bali yang menggandeng Laznas Dewan Dakwah Bali dengan memberikan sedekah nasi bungkus.

Aksi yang dilakukan Jumat (26/04/2019), relawan membagikan 750 nasi bungkus ke dua lokasi yang berada di pelosok Kota Denpasar. Kegiatan diberi nama Semarak kependekan dari Sedekah Makan untuk Rakyat.

Lokasi pertama merupakan sebuah komplek pemukiman dibawah angka sejahtera di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Suwung. Letaknya persis di samping pintu masuk menuju pulau Serangan.

Tantangan relawan Laznas Dewan Dakwah Bali dan Komunitas Madrasah Relawan Bali cukup menarik. Saat matahari begitu terik mereka rela kotor menjejakan kaki di lingkunga TPA Suwung tanpa rikuh.

Para relawan juga disambut dengan aroma busuk dan kurang sedap di sekita lokasi TPA Suwung. Hampir selurung sampah yang dihasilkan warga Kota Denpasar dibuang disini dan membentuk gunungan sampah.

Baik sampah rumah tangga mapun sampah-sampah hasil limbah industri. Kedatangan para relawan yang hampir sebagian besar anak usia 18 tahunan ini membawa keceriaan bagi anak-anak yang tinggal di kawasan tidak layak ini untuk sebuah hunian. Senyum anak-anak ini membuat para relawan semakin bersemangat membagikan nasi

Yusuf Abdullah, relawan Laznas Dewan Dakwah Bali mengaku pembagian nasi merupakan program rutin yang dilaksanakan tidak hanya menyambut Bulan Ramadhan, namun setiap Jumat siang secara terus menerus.

Bagi Yusuf ini, kegiatan bagi nasi sebagai bentuk kepedulian bahwa pemuda muslim ada membantu untuk kaum yang terpinggirkan

“Kegiatan ini terus dilakukan setiap Jumat tidak hanya saat Bulan Ramadhan saja. Melalui kegiatan ini kami membuktikan bahwa pemuda muslim peduli dan bergerak untuk kaum dhuafa,” jelasnya.

Lokasi terakhir disasar untuk pembagian nasi adalah para pengungsi yang rumah mereka diluluhlantakan bulldozer akibat sengketa lahan.

Para pengungsi ini dahulu tinggal di sekitar Pulau Serangan dekat situs sejarah Masjid Asyuhada. Kini, mereka memilih bertahan tinggal di sekitar areal tempat penggusuran sudah lebih dari setahun.

Saat disambangi relawan para pengungsi disini begitu gembira dan rasa haru tergambar dari senyum di bibir para warga ketika mendapat nasi bungkus. (des)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru